Pencarian populer

Piala Dunia 1982: Pembantaian 10 Gol untuk El Salvador

El Salvador dibantai 1-10 oleh Hongaria. (Foto: Sumber foto: The Guardian)

Di Spanyol 1982, El Salvador membawa kisah peperangan yang dimulai dari lapangan bola, yang mereka tutup dengan satu perayaan puitik oleh Luis Ramirez Zapata walau gempuran Hongaria tetap datang tanpa ampun dan bertubi-tubi.

Fase grup sudah menjadi neraka bagi El Salvador, masuk ke Grup 3, tiga negara yang menjadi lawan mereka adalah Belgia, Argentina, dan Hongaria. Semengerikan-mengerikannya lawan yang sudah menanti, ia tak akan menjadi semegerikan perang yang berkecamuk di negara mereka.

Ketika Ramirez menyapu bola ke gawang Hongaria, ia tak dapat meredam ekstase. Gol di menit 64 itu dirayakan sejadi-jadinya. Ia tak peduli bahwa sebenarnya, timnya sudah ketinggalan lima gol dari lawannya itu. Teman-temannya meminta Ramirez untuk tak merayakan gol.

Mereka takut perayaan itu justru memancing amarah Hongaria sehingga memompa mereka untuk bermain lebih beringas dan kembali menambah gol. Pikir mereka waktu itu, kebobolan lima gol sudah terlalu memalukan, jadi jangan ditambah lagi. Namun, Ramirez tak ambil pusing. Ia tetap merayakan seolah-olah merekalah yang sekarang sedang memimpin laga dan kedudukan.

Persiapan El Salvador untuk berangkat ke Spanyol terhambat perang yang memorak-porandakan negeri. Mereka bertungkus-lumus untuk mengatur sejumlah uji tanding dan latihan. "Kalau di antara kami ada yang terlambat, kami bakal maklum. Ia pasti harus membantu orang-orang yang terluka yang dibiarkan begitu saja di sepanjang jalan," kata bek Fransico Jovel dalam wawancaranya bersama Martin Mazur untuk FourFourTwo.

Sementara, gelandang mereka Mauricio Alfaro, menjelaskan Piala Dunia ini begitu penting karena dapat menyatukan mereka yang terpecah-belah karena perang. "Yang kami tahu, saat kami melakoni pertandingan babak kualifikasi, orang-orang yang tadinya berperang jadi bersatu, setidaknya untuk hari itu. Ini menjadi hadiah paling manis untuk kami. Negara sedang dalam tekanan dan sepak bola kami bisa menjadi alat untuk sedikit melegakannya."

Berdasarkan catatan teknis FIFA, El Salvador memiliki program persiapan yang baik, terutama dalam peningkatan daya tahan dan kecepatan tim. Sayangnya, keadaan politik yang tak mendukung membikin persiapan ke Piala Dunia mereka dilakoni dengan maksimal.

Di tengah konflik politis, korupsi tetap merajalela. Skuat mereka bahkan mendarat di Spanyol tiga hari sebelum laga melawan Hongaria dimulai. Yang menyedihkan, mereka hanya sanggup membawa 20 pemain di Piala Dunia. Padahal sesuai aturan, mereka diperbolehkan untuk memberangkatkan 22 orang pemain. Alih-alih memenuhi kuota pemain, para petinggi sepak bola El Salvador malah membawa orang-orang mereka ke Spanyol.

Tim berang, mereka sudah berusaha untuk mengumpulkan uang agar dua pemain mereka yang tak jadi berangkat, Gilberto Quinteros dan Miguel González, bisa ikut bertanding di Spanyol. Sayangnya, keterbatasan dana menjadi persoalan tak mudah. Apa boleh buat, 20 pemain lebih baik daripada tak berangkat sama sekali.

Mereka tidak memiliki cukup tracksuit dan bola untuk digunakan saat latihan. Adidas bersedia meminjamkan empat kostum putih dan satu kostum biru untuk masing-masing pemain. Mereka bilang, Salvador harus mengenakan pakaian putih karena akan terlihat bagus di televisi. Namun, bantuan itu seperti pukulan yang menyakitkan, karena putih dan biru menjadi warna kebangsaan Honduras, negara yang jadi lawan mereka di medan perang.

FIFA telah mendistribusikan bola khusus kepada negara-negara peserta Piala Dunia agar dapat digunakan saat latihan jelang pertandingan, tapi Salvador tak menerima satu pun. Karena selalu ada solusi untuk segala masalah, mereka pun meminjam bola kepada Hongaria untuk digunakan dalam latihan.

Mariona, staf kepelatihan Salvador di PD 82. (Foto: Marvin RECINOS / AFP)

Persoalan lain muncul. Selayaknya dua tim yang saling berhadapan, mereka seharusnya bertukar hadiah sebelum bertanding. Salvador tak punya apa pun untuk bisa diberikan kepada lawan sebagai hadiah. Namun, mereka tak kehilangan akal. Dan akal brilian itu muncul dari kiper mereka, Guevara Mora, yang waktu itu masih berusia 20 tahun.

Mora menemukan pohon pinus di sekitar tempat mereka menginap di Spanyol. Lantas, ia mengambil potongan kayunya dan mengukirnya dengan kata-kata 'El Salvador'. Potongan kayu itulah yang mereka berikan sebagai hadiah kepada lawan.

Segala permasalahan yang dialami Salvador membuat mereka mendapat banyak simpati dan entah bagaimana caranya menjadi favorit sebagai pemenang di laga pertama. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh stasiun radio lokal Spanyol saat itu, setidaknya 60% pendengar percaya Salvador akan mengalahkan Hongaria.

Pipo Rodriguez dan anak-anak asuhnya tak tahu banyak tentang lawan mereka. Yang mereka ketahui hanya dua. Pertama, Hongaria juara grup di babak kualifikasi. Kedua, mereka berhasil mengalahkan Inggris pada 1953 dan 1954. Video pertandingan melawan Inggris itu pun mereka dapatkan dari orang Spanyol sehari sebelum sepak mula dilakukan. Bahkan ketika berpapasan langsung dengan Hongaria, mereka terkejut dengan tinggi badan para penggawanya.

Pipo menjadi manajer termuda, 36 tahun, di gelaran Piala Dunia kali ini. Ia memasuki turnamen dengan satu misi: memesonakan dunia dengan permainan menyerang total, gung-ho. Misi tinggal misi. Gung-ho menjadi bumerang yang gemar menyerang balik. Tipe permainan ini membuat pertahanan Salvador kosong-melompong, menjadi sasaran empuk lini serang lawan.

Gol pertama Hongaria bahkan muncul di menit keempat berkat permainan cerdik sang penyerang, Tibor Nyilasi. Gol kedua di menit 11 lebih menyedihkan. Blunder Mora menjadi mimpi buruk. Ia maju kelewat ke depan sehingga meninggalkan ruang yang menganga di kotak penalti. Laszlo Fazekas segera memastikan Hongaria mendapatkan keunggulan walau laga belum berjalan 30 menit.

Rodriguez sadar bahwa timnya sedang dalam keadaan gawat. Di menit 27, Rodriguez melakukan pertaruhan yang luar biasanya gilanya. Bukannya memperkuat lini pertahanan, ia malah mengganti pemain tengah dengan seorang penyerang, Ramirez. Rodriguez baru memainkan Ramirez di babak kualifikasi. Namun, publik Salvador memaksanya untuk membawa Ramirez ke Piala Dunia Spanyol.

Di mata orang-orang, Ramirez adalah Pele-nya El Salvador. Tak ada waktu yang lebih tepat bagi Ramirez untuk bersinar selain laga pertama Piala Dunia 1982. Keputusan Rodriguez terbilang jitu. Beberapa menit sebelum jeda turun minum, Ramirez menciptakan dua peluang yang cukup merepotkan lini pertahanan dan kiper Hongaria.

Tak peduli berapa gol yang sudah bersarang di gawang mereka saat itu, Salvador tetap menyerang selagi mereka bisa. Yang mereka tahu, negara mereka berperang karena sepak bola. Mereka menjadikan pertandingan sepak bola sebagai medan perang, karena itulah mereka tak mau berhenti menyerang. 6-1, 7-1, gol demi gol tetap bersarang ke gawang mereka, tak peduli sekeras apa pun upaya mereka mengadang. Hingga akhirnya, pertandingan ditutup dengan kemenangan 10-1 untuk Hongaria.

Mora ingat dengan betul seperti apa kesunyian dalam bus ketika mereka kembali ke hotel. Seketika, ia sadar, ada 10 gol yang ia biarkan bersarang di gawangnya. Mereka menyebut kekalahan itu sebagai bencana, tragedi, penghinaan. Bertahun-tahun setelahnya, ia sadar, kebobolan ini menjadi yang terbesar di sepanjang sejarah Piala Dunia.

Keesokan harinya, mereka mengadakan pertemuan tertutup demi mengganti taktik melawan Belgia dan Argentina. Pelatih Belgia, Guy Thins, berkata di depan publik bahwa Salvador memalukan FIFA. Anak-anak asuh Rodriguez memasuki laga dengan taktik dan misi yang lain: mereka ingin membungkam Belgia. Pertandingan itu lantas berakhir dengan kekalahan 0-1 untuk Salvador.

Thyns datang kepada mereka dan meminta maaf. Maradona yang juga menjadi penggawa Argentina di pertandingan ketiga Salvador ikut bermulut besar. Ia berkata, bila Hongaria bisa mencetak 10 gol, maka mereka akan menorehkan 11 gol. Argentina memang menang 2-0, tapi Maradona tak berhasil mencetak satu gol pun.

Kritik tentu saja menjadi bagian tim saat mereka sampai di rumah. Namun, negara masih sibuk berperang. Di sepanjang perjalanan pulang, yang mereka saksikan adalah mayat-mayat bergeletakan di jalan. Mora, dalam salah satu wawancaranya berkata; "Kami seperti sekelompok orang yang dikutuk untuk bertanding ke negeri orang."

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31