kumparan
7 Mei 2018 18:26 WIB

Piala Dunia 1986, Piala Dunia Maradona

Maradona di perempat final PD 1986. (Foto: STAFF / AFP)
Argentina tidak berangkat ke Meksiko untuk memenangi Piala Dunia 1986, tetapi untuk mengalahkan Inggris.
ADVERTISEMENT
Anak-anak asuh Carlos Bilardo tidak memasuki gelaran Piala Dunia dengan menenteng-nenteng ambisi untuk menjadi juara dunia. Mereka tak peduli-peduli amat dengan tujuan macam itu. Yang terpenting adalah menjungkalkan Timnas Inggris. Tak ada yang lebih pantas untuk diberikan kepada musuh bebuyutan selain kekalahan.
Owen A. Mcball menjelaskan rivalitas Inggris dan Argentina dalam bukunya yang berjudul Football Villains. Menurut si penulis, rivalitas ini bermula dari gelaran Piala Dunia 1966. Inggris menjadi juara dunia di gelaran tersebut berkat kemenangan atas Jerman Barat di partai pamungkas.
Namun, gelar juara Inggris ini bukan predikat yang harum semerbak. Sejumlah pihak beranggapan, Inggris menjadi juara karena 'merampok'.
Argentina menjadi salah satu korban. 23 Juli 1966, Inggris berhadapan dengan Argentina di babak perempat final. Di menit 35, bek sekaligus kapten Argentina, Antonio Ubaldo Rattin diusir dari tengah lapangan oleh Rudolf Kreitlein yang bertugas memimpin laga.
ADVERTISEMENT
Pengusiran Rattin dari lapangan berlangsung dramatis. Ia menolak untuk keluar lapangan sampai harus digiring oleh dua orang polisi. Keluarnya Rattin menyulitkan Argentina untuk meredam serangan Inggris.
Pertandingan itu sendiri ditutup dengan kemenangan 1-0 Inggris. Gol Geoff Hurst di menit 78 menghadiahi The Three Lions dengan tiket semifinal melawan Portugal.
Sampai sekarang, teka-teki soal penyebab pengusiran Rattin belum terjawab jelas. Surat kabar Inggris mengisahkan, kata-kata tak pantas yang dilontarkan Rattin kepada wasit menjadi penyebabnya.
Namun, komentator pertandingan tak sepakat. Katanya, ia diusir karena terus-menerus memelototi wasit. Dalam film dokumenternya yang rilis tahun 2006, Rattin menjelaskan, ia tak bisa menerima keputusan itu, bahkan setelah dua dekade berlalu.
"Kreitlein memang sudah lama meninggal. Semoga Tuhan mengampuninya. Namun, saya harap di surga sana, ia tidak diizinkan untuk memimpin sebuah pertandingan sepak bola,"
ADVERTISEMENT
Kekalahan yang diderita Argentina di laga tersebut menjadi sumbu yang menjadi awal cerita rivalitas panjang antara Inggris dan Argentina. Publik Argentina yang merasa kemenangannya dirampas oleh Inggris memeram kemarahan hingga menjadi kesumat yang beranak-cucu. Dendam yang menahun.
Dan bagi mereka, dendam macam ini harus dibayar tuntas. Itulah sebabnya, pertandingan di Piala Dunia selalu menjadi tempat yang pantas untuk membayar dendam.
Penjelasan buku tersebut sesuai dengan penuturan yang disampaikan oleh kapten Argentina di era 1970-an, Roberto Perfumo. Katanya, "Memenangi pertandingan melawan Inggris itu sudah cukup. Menjadi juara di Piala Dunia adalah tujuan kedua. Tujuan utama Argentina cuma mengalahkan Inggris."
Piala Dunia 1986 adalah Piala Dunia-nya Diego Armando Maradona. Di gelaran ini, ia berwajah ganda: Licik dan genius.
ADVERTISEMENT
Argentina tidak datang ke Meksiko dengan kepala tegak. Di Piala Dunia sebelumnya, tahun 1982, Argentina bahkan sudah kalah 0-1 dari Belgia. Beberapa jam setelah kekalahan tersebut, tentara Argentina kalah melawan Inggris di Kepulauan Falkland.
Berita kekalahan tersebut menjadi kabar yang masif disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi. Laksamana Alfredo Astiz yang kaya kontroversi itu menundukkan wajah saat menandatangani penyerahan di Kepulauan Georgia Selatan.
Piala Dunia 1986 memberikan pelajaran baru bagi Argentina. Bahwa nama besar tetap bisa lahir di tengah prahara. Meksiko menjadi buktinya. Sebenarnya, Kolombia-lah yang ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 1986. Namun, di akhir tahun 1982, Kolombia menyatakan ketidaksanggupannya dan mundur. Persoalan dana menjadi penyebabnya.
Kabar ini disambut gembira oleh Brasil, Kanada, dan Amerika Serikat. Mereka bersiap untuk menjadi tuan rumah. Namun, Meksiko lihai dalam menyalip lawan. Seusai rapat FIFA di Stockholm pada Mei 1983, Meksiko langsung ditunjuk sebagai tuan rumah. Kedekatan presiden saluran televisi yang jadi penyokong utama gelaran, Televisa, dengan petinggi FIFA dikabarkan menjadi alasan utama.
ADVERTISEMENT
Keraguan publik terhadap kesanggupan Meksiko menjadi tuan rumah semakin tinggi pada 19 September 1985. Di hari tersebut, Meksiko diguncang gempa bumi hebat. Gempa itu menelan sekitar 10.000 korban jiwa (para ahli bahkan percaya korban jiwa mencapai 40.000 orang) dan membuat 150.000 orang lainnya kehilangan tempat tinggal.
Saat itu, batas waktu persiapan Piala Dunia tinggal delapan bulan, dan dengan situasi carut-marut seperti itu, keputusan FIFA untuk tetap mengizinkan Meksiko jadi tuan rumah menjadi kejutan.
Serupa Meksiko yang menjadikan prahara sebagai rahim yang memperanakkan kesuksesan, Argentina melakoni hal serupa. Kebintangan Maradona sudah mewujud sebelum pesta sepak bola sejagat di Meksiko. Akibatnya, Bilardo punya tugas untuk mempersiapkan tim yang bisa mengakomodasi permainan dan skill Maradona di Meksiko.
ADVERTISEMENT
Yang menjadi masalah, Maradona terkenal sebagai pesepak bola tempramen. Emosinya sulit dikendalikan. Ini pulalah yang membikinnya diusir di laga melawan Brasil dalam Piala Dunia 1982. Masalah kedua, Maradona memasuki turnamen dengan cedera tulang rawan.
Piala Dunia Meksiko lahir dari prahara. (Foto: STAFF / AFP)
Dua kemenangan (melawan Korea Selatan dan Bulgaria) dan satu hasil seri (melawan Italia) di babak grup, serta kemenangan di babak 16 besar melawan Uruguay mengantarkan Argentina pada babak perempat final melawan Inggris. Pertandingan ini, bagi mereka, jauh lebih penting daripada pencapaian ke babak final.
Persiapan Argentina melakoni babak perempat final menunjukkan bahwa otak pelatih memang ada-ada saja. Di babak 16 besar melawan Uruguay, Argentina bertanding dengan mengenakan jersi berbahan katun.
Namun, Meksiko adalah negeri yang diberkahi dengan panas melimpah. Menurut Bilardo, bila anak-anak didiknya bertandingan dengan menggunakan kostum yang sama seperti mereka gunakan di laga melawan Uruguay, performa mereka bakal terpengaruh.
ADVERTISEMENT
Pemikiran ini merepotkan seisi tim. Asisten pelatih saat itu, Ruben Moschella, berkeliling kota demi mendapatkan jersi dengan bahan yang lebih ringan bagi Argentina.
Akhirnya, sampailah Moschella pada sebuah toko. Di sana, ia menemukan dua kandidat jersi baru. Tentu ia tak sembarang pilih. Dibawanya dua contoh tadi ke hadapan tim, dan membiarkan mereka yang menentukan.
Di saat tim mempertimbangkan ini dan itu, Maradona hadir dan menunjuk (barangkali tanpa pikir panjang) satu jersi. Ia memilih jersi itu hanya karena terlihat lebih bagus daripada jersi yang satunya lagi.

Wah, ini jersi yang keren. Kita akan mengalahkan Inggris dengan mengenakan jersi ini.

- Diego Armando Maradona.

"Wah, ini jersi yang keren. Kita akan mengalahkan Inggris dengan mengenakan jersi ini."
ADVERTISEMENT
Ya sudah, seperti itu. Dipilihlah jersi tadi sebagai kostum baru Timnas Argentina.
Persoalan tak berhenti. Mereka harus memasang atribut lengkap pada jersi baru tadi. Bila proses membuat dan menjahit emblem diserahkan pada satu orang khusus, maka masing-masing pemain kebagian tugas untuk menyetrika nomor punggung di bagian belakang jersi. Argentina bertanding dengan jersi sehari jadi tadi.
Perlu diingat, Argentina memang menjadi juara di Piala Dunia 1986. Namun, apa yang dilakukan Argentina, atau lebih tepatnya, apa yang dilakukan Maradona di babak perempat final, menjadi kenang-kenangan lebih manis bagi publik Argentina ketimbang keberhasilan mengangkat trofi Piala Dunia.
Maradona hanya butuh empat menit untuk membuktikan bahwa ia adalah makhluk ajaib di atas lapangan bola. Gol pertama yang bertajuk Gol Tangan Tuhan itu dicetaknya pada menit 51.
ADVERTISEMENT
"Itu bukan tangan saya, itu tangan Tuhan," seperti itu Maradona berbicara soal gol tangan Tuhannya tadi.
Maradona tak pernah menampik kalau gol itu hasil pekerjaan tangan. Kalimat tadi pada akhirnya memposisikan Maradona sendiri sebagai Tuhan bagi orang-orang Argentina. Bukan rahasia umum bahwa di Argentina sana muncul yang namanya Gereja Maradona. Tak ada Tuhan yang benar-benar Tuhan di sana, karena Maradona-lah yang dituhankan.
Di satu sisi, gol Tangan Tuhan memang melukai aturan sepak bola itu sendiri: Bahwa gol tak bisa dicetak dengan tangan untuk menjadi sah. Namun, di satu sisi, gol tadi menjadi cara yang kalis bagi Maradona untuk menjadi pahlawan Argentina. Ia menjadi pahlawan karena berhasil mempermalukan Inggris dengan cara yang 'kotor', tapi ajaib.
ADVERTISEMENT
Benar bila gol tadi menjadikannya sebagai sosok yang culas di lapangan bola. Namun, empat menit berselang dari kelicikan akbar tadi, Maradona kembali menjadi sosok yang agung. Gol keduanya di menit 55 membuktikan bahwa Argentina tak semata-mata bergantung kepada kelalaian wasit untuk merebut kemenangan.
Maradona dukung VAR diterapkan. (Foto: Laurence Griffiths/Getty Images)
Gol kedua tadi lahir dari solo run yang rumit dan sulit. Hampir mustahil untuk dituntaskan, tapi Maradona memang benar-benar menyelesaikannya. Ia adalah gabungan dari kemampuan fisik, mental, dan intelegensia seorang pesepak bola yang ada dalam tekanan teramat hebat.
Kemampuan Maradona untuk mengendalikan bola di situasi seperti itu lahir berkat kemampuannya mengukur hambatan apa yang dihadapinya. Gerak tubuhnya melewati kepungan pemain lawan dan memilih waktu untuk melesakkan tendangan menjadi bukti bahwa di balik sikap tempramennya, ia diberkahi naluri dan kecerdasan yang membuatnya mampu berhitung dengan begitu presisi.
ADVERTISEMENT
Dari sekian banyak hal menakjubkan yang muncul di sepanjang proses gol kedua tadi, maka keputusan Maradona untuk melakukan drible sambil melompat menjadi hal yang paling menakjubkan. Bandingkan dengan solo run pada umumnya yang dilakoni seorang pemain dengan berlari-lari kecil.
Penggawa Inggris, Terry Butcher, berusaha mengadang aksi hampir mustahil Maradona. Namun, Maradona berhasil melewatinya dan berhasil menjaga bola dengan menggunakan punggung kaki kirinya.
Mendekati kotak penalti pun, Maradona bukannya tanpa lawan. Terry Fenwick sudah bersiap mengacaukan permainan Maradona. Apa yang dilakukan Maradona? Ia mengubah arah bola dengan menggunakan bagian dalam kaki kirinya.
Namun, Fenwick adalah seorang bek. Ada satu prinsip yang dibawanya dalam setiap pertandingan: Kalau gagal merebut bola, maka seranglah pemainnya. Upaya tekel itu dilakukan dengan beringas, kakinya diangkat hampir setinggi betis Maradona.
ADVERTISEMENT
Peristiwa selanjutnya menjadi penegasan bahwa terkadang, keganasan kalah saat diperhadapkan dengan keanggunan. Maradona kembali melompat dengan anggun, tekel Fenwick berbuah nihil.
Video
Maradona kembali mempermainkan Peter Shilton. Gocekannya berhasil meloloskannya dari adangan sang penjaga gawang yang konon melakoni latihan fisik kelewat keras demi mendapatkan postur tubuh ideal semasa remaja. Di situasi seperti ini, Butcher membuktikan bahwa nama adalah doa. Ia menjadi tukang jagal di laga tersebut. Ia tak menyerah dan kembali memberikan tekel.
Gabungan antara takdir, keberanian, kelicikan, dan kecerdasan memang menjadi lawan paling bengis untuk siapa pun. Tepat saat Butcher hendak melakukan tekel, Maradona melepaskan tendangan ke arah gawang. Tendangan yang diburu nafsu mencetak gol, tendangan yang tenang. Butcher memang sukses menjegal Maradona, tapi Maradona juga sukses mengoyak jala Shilton.
ADVERTISEMENT
Di laga itu dunia sadar, di mana dua-tiga orang berkumpul di situ Tuhan hadir. Di sana, Tuhan tak hanya bersemayam dalam tangan Maradona, tapi dalam kedua kakinya.
Di babak semifinal, Argentina berhasil membenamkan Belgia dengan skor 2-0. Lagi-lagi berkat dua gol Maradona di babak kedua. Di final, Maradona memang tak mencetak gol. Namun, satu umpan matang berhasil dikonversi menjadi gol penentu kemenangan Argentina yang dicetak oleh Jorge Burruchaga di menit 83.
Laga ditutup dengan kemenangan 3-2 Argentina atas Jerman Barat. Piala Dunia 1986 menjadi milik Argentina. Kali ini, Argentina tak hanya berhasil menuntaskan ambisi utamanya, tetapi berhasil menorehkan tanda centang di baris kedua daftar tujuan mereka di Piala Dunia 1986.
ADVERTISEMENT
***
Sebelum gol penentu kemenangan tadi, Jorge Valdano mencetak gol kedua bagi Argentina di menit 56. Ia membangun serangan dari jauh dari belakang, berlari ke lapangan tengah dan berhadapan dengan pengawalan Harald Schumacher di depan gawang.
Di situasi genting seperti ini, ia tak punya pilihan selain melepaskan sontekan yang mengarah ke tiang kanan gawang. Bertepatan dengan sontekan itu ia berbisik kepada bola tadi, "Ayo, masuklah."
Bola tadi benar-benar mendengar. Ia masuk ke dalam gawang dan meninggalkan Schumacher yang mengutuk kesialannya. Kalaupun Piala Dunia tahun itu menjadi Piala Dunianya Maradona, setidaknya, nama Valdano tetap tercatat sebagai salah satu pahlawan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·