Pencarian populer

Piala Dunia 2010: Bagaimana Luis Suarez Mencuri 'Tangan Tuhan'

'Tangan Tuhan' Luis Suarez. (Foto: AFP/Roberto Schmidt)

Jika Luis Suarez adalah orang suci, maka bumi ini datar. Beruntung baginya, sepak bola memang tidak pernah mengenal dan membutuhkan orang suci. Sepak bola hanya butuh orang-orang yang mampu dan mau untuk menang. Suarez masuk kategori yang kedua.

Suarez dan kontroversi pernah begitu lekat. Sebelum menjadi bagian dari keluarga besar Barcelona yang terhormat itu, tindak-tanduk Suarez memang bergajul. Tak sekali dua kali saja Suarez berbuat culas, mulai dari berpura-pura jatuh, melontarkan hinaan rasial, sampai menggigit pemain lawan. Itu semua, bagi Suarez, bukanlah sebuah dosa. Baginya, itu semua cuma taktik.

2 Juli 2010, Soccer City Stadium, Johanneseburg. Di situlah Suarez melakukan dosa terbesarnya. Meski bagi Suarez itu semua cuma taktik, bagi tim lawan, akibatnya begitu menyakitkan.

Hari itu, Uruguay dan Ghana bertemu di perempat final Piala Dunia. Kedua negara punya pertaruhannya masing-masing. Uruguay yang sudah lama tersingkir dari jajaran elite persepakbolaan dunia berniat untuk kembali menjadi relevan. Di sisi lain, Ghana punya ambisi untuk menjadi negara Afrika yang melangkah paling jauh di Piala Dunia. Sebelumnya, Kamerun dan Senegal pernah menembus perempat final pada 1994 dan 2002. Ghana ingin lebih dari itu.

Bagi Ghana maupun Uruguay, keinginan mereka itu sama sekali tak muluk-muluk. Dari segi materi pemain, Uruguay memang lebih unggul dengan keberadaan Diego Forlan, Edinson Cavani, dan Suarez di lini depan. Namun, Ghana yang dimotori Kevin-Prince Boateng, Kwadwo Asamoah, dan Asamoah Gyan punya agresivitas serta determinasi yang sulit ditandingin. Maka, ketika orang memprediksikan laga ketat di antara keduanya, mereka tak salah.

Gelandang Sulley Ali Muntari membawa Ghana unggul lebih dulu saat babak pertama memasuki injury time. Keberhasilan Muntari mencetak gol ini menarik. Sebab, pada awal-awal turnamen, dia hampir saja dipulangkan oleh pelatih Milovan Rajevac. Beruntung, masalah bisa terselesaikan dan Muntari pun membayar kepercayaan itu lewat tembakan spektakuler dari jarak kurang lebih 40 meter yang mampu mengecoh Fernando Muslera.

Keunggulan Ghana itu tak bertahan lama. Hanya sepuluh menit usai sepak mula babak kedua, Forlan -- topskorer sekaligus pemain terbaik turnamen -- membalas lewat gol lewat tendangan bebas cantik yang meluncur deras di sela-sela tangan Richard Kingson.

Setelah itu, kedua tim mengalami kebuntuan. Berbagai peluang yang didapat kedua tim sampai babak tambahan tak kunjung berbuah gol. Sampai akhirnya, di menit terakhir babak tambahan, Ghana mendapat sebuah tendangan bebas.

John Pantsil mengeksekusi tendangan bebas tersebut dan sejurus kemudian, kemelut tercipta. Boateng menyundul bola ke arah John Mensah, tetapi Muslera dengan sigap meninju bola. Sayangnya, bola tinjuan Muslera itu justru membentur pemainnya sendiri dan memantul ke kaki Stephen Appiah yang berdiri di mulut gawang.

Oleh Appiah, bola langsung disepak ke gawang. Ada Suarez di sana dan bola berhasil dihalau. Namun, masih ada pemain Ghana lain di dekat gawang: Dominic Adiyiah. Pemain binaan Milan itu kemudian menyundul bola yang sudah tidak dikawal oleh Muslera. Hanya ada Jorge Fucile dan Suarez yang berjaga di sana. Seharusnya, tanpa intervensi kotor, bola bisa meluncur mulus.

Fucile yang pertama berusaha menahan bola dengan tangan. Gagal. Bola pun kemudian melaju persis ke atas kepala Suarez. Tanpa pikir panjang, Suarez langsung mengangkat kedua tangannya dan menghalau bola itu keluar dari gawang. Selamatlah gawang Uruguay untuk sementara.

Akan tetapi, para pemain Ghana tidak buta. Mereka melihat dengan jelas bagaimana Suarez mengutilisasi satu-satunya anggota tubuh yang tidak boleh digunakan dalam pertandingan sepak bola. Beruntung, wasit pun melihat kejadian itu. Tanpa ragu, Suarez yang sempat belaga pilon itu diberi kartu merah.

Suarez sengaja memperlambat jalannya menuju ruang ganti. Di lapangan, di kotak penalti Uruguay, Gyan tengah menatap bola yang diletakkan di titik putih. Jika Gyan berhasil menaklukkan Muslera, Ghana akan lolos ke semifinal dan Suarez bakal dicerca habis karena tindakan bodohnya.

Namun, di tanah Afrika sekalipun sepak bola tidak berpihak kepada orang-orang Afrika. Tendangan Gyan itu memang sudah bisa membuat Muslera takluk. Akan tetapi, satu hal yang gagal ditundukkannya adalah nasib. Alih-alih meluncur ke jaring-jaring, bola justru menghantam tiang dan melayang di udara selama beberapa detik sebelum keluar lapangan.

Gyan gagal dan Uruguay berhasil memperpanjang napas setidaknya sampai adu penalti. Di tepi lapangan, di dekat terowongan menuju ruang ganti, Suarez bersorak sambil berjingkrak. Usahanya berhasil. Berkat dirinya, Uruguay selamat.

Di babak adu penalti, peruntungan Ghana makin buruk lagi. Mensah dan Adiyiah gagal menaklukkan Muslera. Akhirnya, sebagai eksekutor terakhir Uruguay, Sebastian Abreu menabur garam di atas luka dengan melalukan tendangan Panenka ke gawang Kingson. Uruguay unggul 5-4 dalam adu penalti dan berhak lolos ke semifinal. Makin terasa besarlah jasa Suarez.

Kartu merah untuk Luis Suarez. (Foto: AFP/Pedro Ugarte)

Uruguay sendiri akhirnya dikalahkan Belanda 2-3 di semifinal. Di perebutan tempat ketiga menghadapi Jerman, mereka juga kalah dengan skor identik. Entahlah, bisa jadi ini merupakan karma dari apa yang dilakukan Suarez. Akan tetapi, setidaknya setelah itu Uruguay masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014 dan 2018 tanpa kesulitan berarti.

Sementara itu, bagi Ghana, kegagalan di Piala Dunia 2010 adalah hancurnya sebuah generasi emas. Di Piala Dunia 2014, Ghana menjadi juru kunci grup, sementara di Piala Dunia 2018, mereka takkan turut serta. Seharusnya, bagi The Black Stars, turnamen di Afrika Selatan itu adalah kesempatan terbesar untuk berprestasi setinggi-tingginya.

Rajevac, pada Maret 2018 lalu, kepada Goal mengatakan bahwa dirinya masih dihantui oleh kegagalan di Piala Dunia 2010 tersebut. "Percayalah, aku tak bisa mengenyahkan eliminasi itu dari kepalaku. Ini adalah pertandingan yang jarang sekali terjadi; pertandingan yang diingat terus dalam sejarah," ujar Rajevac.

Sebaliknya, dari kubu Uruguay, tak ada sedikit pun permintaan maaf. Pelatih Oscar Washington Tabarez mengatakan bahwa Suarez melakukan apa yang dilakukannya secara instingtif.

"Mengatakan bahwa kami telah mencurangi Ghana rasanya terlalu kasar. Kami sudah mematuhi apa yang diminta wasit. Apa yang dilakukan Suarez itu bisa saja merupakan kesalahan. Ya, dia mengangkat tangannya, tetapi dia tidak berbuat curang. Dia cuma berbuat secara instingtif dan sudah diusir keluar lapangan. Dia juga tidak bisa bermain di laga selanjutnya. Terus, kalian mau apa lagi?" kata Tabarez kala itu, dikutip dari Telegraph.

Suarez diarak seusai laga. (Foto: AFP/Rodrigo Arangua)

Pernyataan paling mencengangkan, tentunya, datang dari Suarez sendiri. Dengan kecongkakannya yang khas, Suarez yang saat itu masih bermain untuk Ajax berkata, "Tangan Tuhan sekarang jadi milikku. Tangan Tuhan-ku adalah Tangan Tuhan yang asli."

"Aku membuat penyelamatan terbaik sepanjang turnamen. Terkadang, di sesi latihan aku berlatih sebagai kiper dan rupanya itu berbuah hasil. Aku tidak punya pilihan lain dan ketika mereka gagal mengeksekusi penalti, aku berpikir, 'Ini adalah keajaiban'," lanjutnya.

Kini, Suarez memang sudah insyaf. Di usianya yang telah berkepala tiga, namanya sudah tidak identik dengan kasus-kasus kedisiplinan lagi. Akan tetapi, untuk melupakan begitu saja tindak tanduk busuknya di masa lalu adalah sikap ahistoris yang wajib dihindari.

Namun, tak bisa disangkal pula bahwa untuk saat itu, sosok Suarez adalah pahlawan yang dibutuhkan oleh Uruguay. Mereka sudah punya Forlan yang bertugas untuk memunculkan imej baik lewat penampilan briliannya sepanjang turnamen. Sebagai penyeimbang, mereka juga butuh orang-orang yang mau mengotori tangannya dengan dosa dan Suarez adalah salah satunya.

Narasi kepahlawanan Suarez ini memang tidak akan pernah diterima oleh rakyat Ghana. Namun, siapalah pahlawan yang bisa diterima semua pihak? Lagipula, Suarez tidak butuh menjadi pahlawan semua orang, dia hanya perlu menyelamatkan negaranya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: