Pencarian populer

Piala Dunia: Ketika Prancis dan Meksiko Mengawali Segalanya

Timnas Prancis di Piala Dunia 1930. (Foto: Wikimedia Commons)

Lucien Laurent, pria bertubuh mungil itu, harus menunggu selama hampir 70 tahun untuk melihat negaranya, Prancis, menyelesaikan apa yang dulu dia mulai.

Inggris boleh mendaku sebagai negara penemu sepak bola modern. Brasil boleh menepuk dada sembari berkata bahwa mereka adalah raja sepak bola. Akan tetapi, semua negara, semua orang, harus mengakui bahwa untuk urusan turnamen sepak bola internasional, negara yang paling berjasa adalah Prancis.

Buktinya jelas. FIFA, sebagai badan tertinggi persepakbolaan dunia, dibentuk di Paris, Prancis, pada 1904. Presiden FIFA pertama, Robert Guerin, pun berasal dari Prancis dan nama lengkap FIFA, Fédération Internationale de Football Association, juga mengandung bahasa Prancis.

Kontribusi Prancis tak sampai di situ. Presiden ketiga FIFA, Jules Rimet, yang berkuasa antara 1921 sampai 1954, menjadi sosok pemrakarsa Piala Dunia. Rimet, bersama Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Henri Delauney, merancang turnamen antarnegara tersebut pada 1926 sebagai respons dari dilarangnya para pesepak bola profesional tampil di Olimpiade.

Di Olimpiade, sepak bola sudah digelar sejak edisi 1900 di Paris. Kemudian, mulai 1920, penyelenggaraan sepak bola di Olimpiade diambil alih oleh FIFA. Akan tetapi, aturan atlet amatir di Olimpiade ini tidak bisa diganggu gugat. Maka dari itu, FIFA kemudian mencoba untuk membuat turnamen sendiri yang memperbolehkan para pemain profesional untuk turun berlaga.

Pada 1928, Uruguay memenangi medali emas Olimpiade keduanya. Di tahun yang sama, Rimet dan Delauney sudah selesai merancang konsep Piala Dunia. Seiring dengan keberhasilan Uruguay merengkuh medali emas Olimpiade Amsterdam 1928, mereka pun lantas ditunjuk menjadi tuan rumah gelaran Piala Dunia pertama.

Saat itu, untuk berlaga di Piala Dunia tidak dibutuhkan kualifikasi. Uruguay yang bertindak sebagai tuan rumah mengundang sejumlah negara, tetapi kemudian yang datang memenuhi undangan hanya Prancis, Meksiko, Argentina, Cile, Yugoslavia, Brasil, Bolivia, Rumania, dan Peru. Beberapa negara besar Eropa seperti Inggris, Italia, dan Jerman memilih untuk absen karena enggan menempuh perjalanan jauh dengan kapal laut menyeberangi Samudera Atlantik.

Akhirnya, pada 13 Juli 1930, Piala Dunia resmi dibuka. Laga pertama mempertemukan Prancis dengan Meksiko.

Saat itu, Piala Dunia hanya digelar di satu kota, yaitu ibu kota Montevideo. Pemerintah Uruguay pun sudah menyiapkan sebuah stadion megah yang bernama Estadio Centenario untuk menjadi venue pembuka Piala Dunia. Stadion itu didesain dengan kapasitas 95 ribu penonton.

Akan tetapi, rencana tinggal rencana. Pembangunan Estadio Centenario molor lantaran hujan deras. Nantinya, stadion yang kerap dijadikan kandang oleh Penarol dan Nacional ini baru akan bisa digunakan setelah Piala Dunia digelar selama lima hari.

Jadilah kemudian Prancis dan Meksiko bersua di sebuah stadion mungil bernama Estadio Pocitos yang merupakan kandang Penarol antara 1921-1933. Kapasitas resmi stadion ini sangat kecil; hanya 1.000 penonton. Akan tetapi, pada pertandingan pertama Piala Dunia itu, stadion disesaki sampai lebih dari 4.000 penonton.

Poster Piala Dunia 1930 (Foto: AFP)

Prancis datang dengan kostum terang, sementara Meksiko mengenakan seragam berwarna gelap. Baik Raoul Caudron, pelatih Prancis, maupun Juan Luque de Serrallonga, juru latih Meksiko, sama-sama menggunakan formasi yang populer pada masa itu, 2-3-5. Saat itu, pergantian pemain belum diperbolehkan, sehingga jika ada pemain yang harus keluar karena cedera, tim harus bermain dengan jumlah pemain tersisa.

Beberapa menit jelang sepak mula pukul 15:00, Alexandre Villaplane selaku kapten Prancis dan Rafael Garza Gutierrez yang memimpin Meksiko berjalan ke tengah lapangan. Mereka berjabat tangan dan berfoto bersama wasit Domingo Lombardi asal Uruguay. Untuk membantu Lombardi, ditunjuklah dua hakim garis bernama Henri Christophe dari Belgia dan Almeida Rego dari Brasil.

Prancis, sebagai negara yang sudah lebih berpengalaman di kompetisi antarnegara, menunjukkan kualitasnya sejak menit awal. Mereka tampil dominan dan memaksa Meksiko untuk bermain bertahan di area permainan sendiri.

Dominasi ini berujung pada gol pertama Prancis pada menit ke-19. Gol tersebut dicetak oleh Laurent. Gol berawal dari umpan Marcel Pinel ke kaki Andre Maschinot. Oleh Maschinot, bola digiring ke kanan sebelum disodorkan kepada Marcel Langiller yang berada di depan area penalti. Langiller kemudian meneruskan bola kepada Laurent yang berhasil melewati Manuel Rosas. Bola pun ditendang tanpa mampu dihalau kiper Oscar Bonfiglio, dan gol! Terciptalah gol pertama Piala Dunia.

Nantinya, Laurent sendiri bakal menjadi sosok terakhir dari skuat Prancis di Piala Dunia 1930 yang masih hidup ketika Zinedine Zidane dkk. mengangkat trofi Piala Dunia 1998 di rumah sendiri. Enam puluh delapan tahun lamanya sejak Laurent mencetak gol pertama di Piala Dunia, Prancis baru bisa memenangi turnamen tersebut.

Timnas Meksiko di Piala Dunia 1930. (Foto: Wikimedia Commons)

Tak lama setelah gol Laurent tersebut, Alex Thepot, kiper Prancis, mengalami gegar otak setelah kepalanya membentur kaki penyerang Meksiko, Dionisio Mejia. Thepot harus dipapah keluar lapangan dan posisinya digantikan half-back Augustin Chantrel sampai akhir laga.

Meski demikian, Prancis sama sekali tak kehilangan dominasi. Pada menit ke-40 dan 43, mereka berhasil mencetak gol melalui Langiller dan Maschinot. Gol Langiller lahir berkat umpan panjang dari Maschinot, sementara gol Maschinot lahir lewat aksi solo run. Prancis pun menutup laga babak pertama dengan keunggulan telak 3-0.

Pada babak kedua, Meksiko mulai bisa memberikan perlawanan. Hasilnya, pada menit ke-70 mereka sukses memperkecil ketertinggalan lewat aksi Juan Carreno. Gol Carreno ini lahir berkat kontribusi half-back Alfredo Sanchez dan Mejia yang berkolaborasi di sisi kanan pertahanan Prancis.

Namun, tiga menit jelang pertandingan rampung, Maschinot kembali mencetak gol. Kali ini, pemain kelahiran 1903 tersebut berhasil memanfaatkan assist dari Langiller.

Prancis pun akhirnya sukses membuka turnamen dengan kemenangan. Meski begitu, perjalanan mereka di Piala Dunia pertama ini berakhir prematur. Setelah menang atas Meksiko, Villaplane cs. kalah dengan skor 0-1 dari Argentina dan Cile. Di Grup 1, Prancis akhirnya hanya mampu menduduki peringkat ketiga dengan 2 poin -- saat itu, sebuah kemenangan masih dihargai 2 poin.

Yang menarik, dari laga antara Prancis dan Meksiko tadi, dilaporkan bahwa ada beberapa scout dari Argentina yang sengaja dikirim. Tampaknya, misi Argentina tersebut berhasil karena mereka akhirnya jadi pemuncak klasemen untuk kemudian melaju ke final. Sayang, pada partai puncak, mereka harus mengakui keunggulan tuan rumah Uruguay dengan skor 2-4.

Dari kubu Prancis sendiri, kisah menarik hadir dari sosok Laurent dan Villaplane. Jauh sebelum menjadi saksi keberhasilan Prancis menjadi juara dunia, Laurent yang berposisi sebagai kanan-dalam itu harus bergabung dengan angkatan bersenjata Prancis di Perang Dunia II.

Dalam perang tersebut, Laurent sempat ditawan oleh serdadu Nazi selama tiga tahun sebelum dibebaskan pada 1943. Setelah dibebaskan, Laurent masih sempat bermain sepak bola sampai pensiun di usia 39 tahun bersama Besancon RC. Nantinya, Laurent juga akan mengembuskan napas terakhir di kota Besancon.

Jika Laurent menjelma jadi pahlawan perang, jalan bertolak belakang ditempuh Villaplane. Pria yang merupakan imigran Aljazair ini justru menjadi pengkhianat saat Perang Dunia II berkecamuk.

Dalam kariernya, Villaplane memang pemain yang bermasalah. Dia pernah terlibat pengaturan skor, tersandung skandal judi, dan tidak asing dengan masalah hukum. Meski dikenal memiliki energi besar, pada akhirnya kehidupan di luar lapanganlah yang membunuh kariernya.

Lucien Laurent di usia 94 tahun. (Foto: AFP/Cyril Villemain)

Memasuki dekade 1940-an, Villaplane makin terjerumus dalam dunia hitam. Dia menguasai perdagangan gelap di Paris, sampai akhirnya, koneksi dunia hitam Villaplane ini tercium oleh Nazi. Oleh Nazi, sindikat milik sang kapten ini digunakan untuk mendatangkan barang-barang berharga, mulai dari makanan sampai benda seni.

Namun, tak sampai di situ saja kebusukan Villaplane. Tak puas dengan menjadi penyelundup, dia juga menjadi salah satu anggota kawanan pembunuh pejuang resistensi Prancis. Kelompok ini dikenal dengan sebutan French Gestapo. Dosa-dosa Villaplane ini membuat dirinya kemudian dijatuhi hukuman mati pada 26 Desember 1944.

***

Apa yang terjadi pada Piala Dunia 1930 dan hal-hal yang mengikutinya menunjukkan betapa dunia saat ini sudah begitu berbeda. Kini, untuk mengikuti Piala Dunia, yang sulit bukan soal transportasinya, melainkan kualifikasinya.

Lalu, sangatlah mustahil jika laga pembuka Piala Dunia di masa sekarang hanya disaksikan 4.000 orang di stadion berkapasitas 1.000 penonton. Terakhir, bagaimana pemain-pemain yang terlibat di dalamnya kemudian juga terlibat perang agak sulit dibayangkan.

Gambaran ini menunjukkan pula bahwa perkembangan peradaban manusia juga bisa dilacak lewat perkembangan sepak bola. Sebab, biar bagaimana pun, apalah sepak bola kalau bukan cerminan hidup?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: