Pencarian populer

Polisi: Khusus Liga 1, Kami Awasi Setiap Laga dengan Komdis PSSI

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat berkunjung ke kantor kumparan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Menjelang pergantian tahun 2018, sepak bola Indonesia seakan membuka lembaran baru menyusul dibentuknya Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola oleh Polri. Dengan masa kerja selama enam bulan, Satgas berhasil mencokok 16 orang yang diduga terlibat dengan pengaturan skor (match fixing) dan pengaturan pertandingan (match setting).

Meski demikian, kerja Satgas Antimafia Bola kini telah usai. Lantas, akankah mafia bola di Indonesia kembali berdansa?

Jawabannya adalah tidak. Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menegaskan pihaknya tetap berkomitmen untuk memberantas mafia bola meski kini Satgas telah rampung bekerja. Polri, lanjut Dedi, kini menjalin kerja sama dengan Komisi Disiplin (Komdis) dan Komite Wasit PSSI untuk mengawasi pertandingan di Liga 1.

"Satgas Antimafia Bola sudah selesai, dan ke depan yang harus dipikirkan bersama dengan PSSI adalah upaya mitigasi secara maksimal terhadap mafia bola yang akan merusak dunia sepak bola," ujar Dedi ketika berkunjung ke Kantor kumparan di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

"Kami sudah bekerja sama dengan Komdis dan Komite Wasit PSSI, setiap pertandingan akan kami lakukan pengawasan bersama. Tujuannya, agar betul-betul pertandingan berjalan fair dan meningkatkan profesionalitas pemain sehingga mereka tidak akan terganggu terkait intervensi dari oknum tertentu, baik perangkat pertandingan, pemilik klub atau pelatih. Untuk saat ini, kami fokus di Liga 1 dulu," lanjutnya.

Dedi menyatakan bentuk pengawasan tersebut akan cenderung difokuskan kepada perangkat pertandingan. Pasalnya, lanjut Dedi, perangkat pertandingan menjadi sosok yang memiliki peran penting dalam terjadinya match fixing atau setting.

Kepada siapa saja Lasmi memberikan uang Rp 1,2 miliar? Foto: Indra Fauzi/kumparan

"Indikasinya, begini saja, yang jadi pemantauan dari pengaturan skor itu dari perangkat pertandingan. Karena peran yang paling menonjol di match fixing itu adalah perangkat pertandingan yaitu wasit, asisten wasit, dan panpel. Kalau klub sama pelatih kecil kemungkinan, paling banyak berperan adalah perangkat pertandingan," katanya.

"Selalu kami tekankan ke mereka, kalau terbukti lakukan match fixing (dan match setting) pasti akan kami tindak pidana. Makanya, kami kerja sama dengan Komdis dan Komite Wasit PSSI, karena itu paling penting," ucap Dedi.

Priyanto (kiri) dan Anik Yuni Kartikasari jalani persidangan perdana kasus Mafia Bola di Pengadilan Negeri Banjarnegara, Jawa Tengah (6/5). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Saat ini, enam dari 16 terdakwa mafia bola tengah menanti putusan di Pengadilan Negeri Banjarnegara, Jawa Tengah. Mereka adalah Johar Lin Eng (mantan anggota Komite Eksekutif PSSI), Dwi Irianto (eks anggota Komite Disiplin PSSI), Priyanto (mantan Komite Wasit PSSI), Anik Yuni Artikasari (wasit futsal), Nurul Safarid (wasit), dan Mansyur Lestaluhu (staf Direktur Wasit PSSI).

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63