Pencarian populer

Pratinjau: Brasil Mencari Penawar Candu akan Neymar

Selebrasi gol Brasil ke gawang Kroasia. (Foto: Andrew Boyers/Reuters)

Brasil hanya meraup satu angka saat bersua Swiss di matchday pertama. Jelas, skor 1-1 yang terpampang di Rostov Arena empat hari silam bukan hasil yang diinginkan oleh pasukan Tite tersebut.

Well, di atas kertas Brasil dengan kualitas skuat yang mewah bisa dengan mudah menundukkan Swiss. Akan tetapi, yang sudah biarlah sudah. Tite kudu berbenah saat bersua dengan Kosta Rika pada matchday kedua Grup E, Jumat (22/6/2018).

Secara garus besar, hasil negatif yang ditelan Brasil mengindikasikan kelemahan utama mereka saat ini: ketergantungan akan Neymar. Dibanding rekan-rekan setimnya, ia diberi kebebasan lebih untuk melakukan manuver dan melepaskan tembakan. Tengok saja total tembakannya yang menyentuh angka empat --terbanyak bersama Philippe Coutinho. Belum lagi dengan jumlah sentuhannya yang mencapai 79, hanya kalah dari Marcelo yang diutus untuk membangun serangan dari sisi samping.

Sialnya, Neymar benar-benar mendapatkan perlakuan 'spesial' dari Swiss di laga tersebut. Total 10 kali pemain termahal di dunia itu dilanggar oleh Granit Xhaka dan kawan-kawan. Hal itu kemudian menyumbat pendar Neymar. Cuma lima dribel yang sukses dibukukannya dalam 12 percobaan. Nah, problem demikian yang mestinya dijadikan acuan bagi Tite nanti. Artinya ia kudu mengenyahkan konsep 'Neymarsentris' yang sejauh ini jadi dasar pakemnya.

Kebetulan Kosta Rika juga memiliki keunggulan di lini tengah mereka, tak jauh berbeda dengan Swiss. Buktinya, Serbia saja kesulitan untuk menembus area yang digawangi David Guzman dan Celso Borges di pertandingan perdana. Nama yang disebut belakangan bahkan sukses mencatatkan tujuh tekel sukses dari tujuh percobaan. Itulah mengapa gol Serbia lahir dari eksekusi tendangan bebas jitu Aleksandar Kolarov. Ya, karena wakil dari CONCACAF itu sukses meminimalisir kreativitas gelandang Serbia.

Kendati keok, pakem tiga bek yang dicangkan Oscar Ramirez terbukti kokoh. Bukan cuma Guzman dan Borges saja yang ditunjuk meng-cover area tengah, melainkan juga duo gelandangnya --Bryan Ruiz dan Johan Vanegas yang bermain lebih ke dalam. Situasi demikian yang membuat Sergej Milinkovic-Savic, Adem Ljajic, serta Dusan Tadic kesulitan untuk meluapkan kreativitasnya.

Lebih dari itu, Ramirez yang memakai formasi dasar 3-4-3 menitikberatkan sisi tepi untuk melancarkan serangan. Kehadiran bek sayap macam Christian Gamboa dan Bryan Oviedo jadi salah satu alasan Ramirez mengandalkan serangan dari samping.

Mengingat full-back Brasil yang intens melakukan overlap --khususnya Marcelo, Joel Campbell yang pada pertandingan sebelumnya turun sebagai pemain cadangan kemungkinan besar akan dimainkan sejak menit pertama. Alasannya, pemain Arsenal tersebut memiliki keunggulan dalam kecepatan akan jadi tandem ideal bagi Gamboa untuk menyerang sisi kiri pertahanan 'Tim Samba'.

Kosta Rika vs Serbia. (Foto: REUTERS/David Gray)

Ngomong-ngomong masalah candu akan Neymar, Tite kudu mengalokasikan porsi kepada pemain lain. Artinya, tidak terpatok kepada Neymar untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan. Tak sekadar mengakomodir serangan, akan tetapi juga piawai dalam memanfaatkan peluang.

So, siapa sosok yang pantas untuk mengemban tugas demkian?

Dari beberapa pemain lainnya, Coutinho adalah figur yang ideal sebagai penawar candu Neymar. Total 28 gol dan 13 assist yang dibuatnya bersama Barcelona dan Liverpool di lintas ajang musim lalu cukup memberikan bukti sahih.

Contoh paling nyata, ya, keberhasilannya mencetak gol perdana dan satu-satunya Brasil sejauh ini. Usai memanfaatkan bola liar, Coutinho dengan jeli melepaskan tendangan dari luar kotak penalti yang tak mampu dijangkau kiper Swiss, Yann Sommer.

Kemampuannya dalam melakukan tendangan jarak jauh jadi alternatif vital kala Brasil kesulitan menembus barikade pertahanan Kosta Rika -- yang kemungkinan akan tampil defensif. Bukannya mengerdilkan peran Gabriel Jesus dan Roberto Firmino sebagai ujung tombak. Namun, keduanya tak sebaik Coutinho dalam urusan tembakan jarak jauh. Selain mantan penggawa Inter Milan itu, Willian juga bisa dijadikan opsi bagi Tite untuk memecah kebuntuan.

Mengandalkan Neymar seorang bukanlah opsi bijak bagi Brasil. Hasil imbang di laga pembuka kontra Swiss jadi pelajaran berharga. Jadi, Tite harus mengubah konsep tersebut jika tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dan Coutinho, adalah pilihan ideal untuk Brasil nanti.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33