• 3

Pratinjau Indonesia vs Islandia: Menilik Cara Mengubur Tim Tamu di GBK

Pratinjau Indonesia vs Islandia: Menilik Cara Mengubur Tim Tamu di GBK


Latihan Timnas Indonesia melawan Islandia di SUGBK

Latihan Timnas Indonesia melawan Islandia di SUGBK (Foto: Arif Prawira Utama/kumparan)

Tim Nasional (Timnas) Indonesia akan menghadapi Islandia dalam uji tanding yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (14/1/2018) malam WIB. Melihat penampilan terakhir kedua kesebelasan, bagaimana peluang laga ini?
Luis Milla datang dengan sederet keyakinan di mata pendukung Indonesia. Beragam hal diinisiasi eks-pelatih Spanyol U-23 ini, termasuk gaya bermain yang cenderung baru bagi sepak bola lokal dan pemanggilan pemain yang terkesan segar.
Untuk laga melawan Islandia, Milla kembali mengejutkan khalayak kala memanggil beberapa nama kejutan. Beberapa di antaranya adalah Henhen Herdiana, Victor Igbonefo, Ilham Udin Armaiyn, dan Egi Maulana Vikri.
Pemilihan keempat nama tersebut menjadi kejutan terbesar untuk kali ini. Pasalnya, beberapa nama lain yang dipanggil oleh Milla adalah langganan Indonesia, seperti Evan Dimas, Boaz Solossa, Andritany Ardhiyasa, hingga Fachrudin Aryanto.
Laga melawan Indonesia Selection, beberapa hari yang lalu, bisa jadi gambaran bagaimana Islandia bermain. Pelatih Heimir Hallgrimsson memilih menggunakan pola 4-3-3 dengan gaya bermain yang menekankan agresivitas.
Mengandalkan agresivitas dan keunggulan postur, Islandia mengubur Indonesia Selection dengan skor 6-0. Melihat buruknya kualitas yang jauh berbeda, tak mengherankan jika angka tersebut terpampang di papan skor Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Ketika tak menguasai bola, Islandia berusaha bertahan di kedalaman. Mereka berupaya tak memberikan lubang di daerah permainannya kepada pemain Indonesia Selection. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh ketakutan Hallgrimsson terhadap kecepatan pemain-pemain Indonesia Selection.

 Islandia vs Indonesia Selection

Islandia vs Indonesia Selection (Foto: Dok: Media PSSI)
Pemain Islandia juga berupaya menggunakan banyak pemain di dalam kotak penalti. Selain itu, ada dua pemain yang selalu disiagakan di depan kotak penalti, yang kemungkinan difungsikan untuk menutup ruang bagi sepakan jarak jauh atau menginisiasi serangan balik.
Islandia berupaya mengarahkan serangan ke sisi lapangan ketika sudah memasuki daerah permainan Indonesia Selection. Hal itu disebabkan oleh cara menyerang mereka yang ditekankan pada banyaknya umpan silang lambung ke dalam kotak penalti.
Jika tidak menggunakan cara itu, Islandia berupaya mengirim umpan datar kepada setiap pemain yang berdiri tanpa pengawalan di dekat kotak penalti. Nah, dari sana, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan: melepaskan sepakan seketika mendapatkan bola atau melakukan dribel.
Dari sekian gambaran bagaimana cara bermain Islandia, Indonesia harus melakukan beberapa hal. Di antaranya adalah: melakukan penjagaan ketat ketika pemain Islandia membawa di sisi lapangan dan kedua, memanfaatkan kecepatan dan kombinasi umpan dengan di sepertiga akhir dengan sebaik-baiknya.
Sebelum mencari antisipasi taktik Islandia, Milla sepertinya akan kembali menggunakan pola 4-3-3. Di bawah mistar, besar kemungkinan bakal diisi oleh Andritany. Empat bek di depannya bisa jadi Gavin Kwan Adsit, Fachrudin, Hansamu Yama, dan Rezaldi Hehanusa.

Pemain Timnas U-22

Pemain Timnas U-22, Rezaldi Hehanusa. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Di depan empat nama tersebut, Milla bisa saja menurunkan Bayu Pradana dan Muhammad Hargianto. Keduanya bakal diturunkan untuk mendukung Evan Dimas Darmono. Sementara itu, di depan, Milla bakal menurunkan Boaz, Andik Vermansah dan Osvaldo Haay.
Milla sepertinya telah mengantisipasi cara pertama. Melihat daftar bek tengah yang dipanggil oleh Milla, Hansamu, Fachrudin, Igbonefo, dan Bagas Adi, hanya nama terakhir yang memiliki tinggi di bawah 180 cm.
Tiga nama yang disebutkan di awal, Hansamu, Fachrudin, dan Igbonefo memiliki tinggi di atas 180. Ketiganya diyakini tak bakal kesulitan berduel dengan pemain depan Islandia, Kristjan Floki Finnbogason, yang juga memiliki tinggi menjulang.
Meski demikian, tugas untuk mengantisipasi umpan tersebut tak hanya perlu dilakukan oleh bek tengah. Dua bek sayap, juga wajib aktif memberi tekanan atau setidaknya melakukan penjagaan kepada pengirim umpan lawan.
Jika langkah ini dilakukan, harapan Indonesia untuk melihat Islandia tak bisa mencetak gol mungkin dapat menjadi kenyataan. Pun demikian jika tak dilakukan, Islandia bisa jadi akan dengan mudah mencetak gol melalui duel udara.
Untuk langkah kedua, Indonesia perlu memainkan gelandang serang yang tak hanya mampu berlari, tapi juga cerdik mencari ruang. Dari sekian nama yang dipanggil, Andik dan Osvaldo adalah pilihan yang rasional.
Andik dan Osvaldo sama-sama cerdik. Keduanya tak hanya mampu menyisir sisi lapangan, tapi juga menyelinap ke dalam kotak penalti, untuk memanfaatkan kesalahan-kesalahan ketika terjadi kemelut.
Meski akurasi umpan mereka tak cukup baik, keduanya mampu mencari ruang dan kemudian memanfaatkannya untuk melakukan percobaan. Jika tak membuahkan hasil, Febri Hariyadi dan Ilham Udin bisa menjadi alternatif.
Untuk pilihan utama di lini depan, Boaz sepertinya menjadi pilihan utama. Selain ketajamannya, Boaz juga memiliki sepakan keras nan akurat yang bisa menjadi senjata Indonesia untuk mencetak gol.
Di luar itu, Indonesia harus menyiapkan langkah antisipasi. Sebagai salah satu caranya adalah dengan memainkan Evan Dimas di belakang dan Egi di samping Boaz. Kepiawaian Evan saat mengirim umpan dan pergerakan dengan bola Egi yang istimewa, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Milla dengan maksimal.
Semua hal di atas hanyalah inset dari beberapa laga saja. Islandia bisa saja mengubah gaya permainan dan memilih bertahan untuk menekan melalui serangan balik. Begitu pula dengan Indonesia, yang bisa saja mengubah haluan mereka dari pendekatan berbasis umpan dekat ke umpan panjang.


Sepak BolaSportsIndonesiaIslandia

500

Baca Lainnya