Pencarian populer

Pratinjau Liverpool vs Wolves: Daya 'Si Merah' Merengkuh Takhta Juara

Para pemain Liverpool merayakan gol. Foto: REUTERS/Rebecca Naden

Wolverhampton Wanderers bukan tim sembarangan. Hampir semua personel big six sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya dikalahkan oleh tim besutan Nuno Espírito Santo ini--entah itu di Premier League 2018/19 maupun Piala FA.

Di antara nama-nama besar, cuma Manchester City saja yang belum pernah mereka kalahkan. Tapi, jangan lupa, Wolves adalah tim pertama yang mampu memutus tren kemenangan City di Premier League musim ini.

Sialnya, Liverpool menjadi salah satu tim yang pernah mereka kalahkan. Namun, Liverpool pun sedang ada dalam momentum bagus, meski beberapa pemain kunci masih cedera. Comeback atas Barcelona di leg kedua semifinal Liga Champions itulah penyebab membubungnya morel Liverpool jelang laga.

Efektivitas lini serang

Kabar baik bagi Liverpool, Mohamed Salah diprediksi sudah bisa turun arena di laga ini. Sebelumnya, Salah tak dapat berlaga melawan Barcelona di leg kedua lantaran cedera. Praktis, Klopp mesti memutar otak untuk menemukan siapa pemain yang paling tepat untuk mengisi pos penyerang sayap kanan yang ditinggalkan Salah plus penyerang tengah yang biasa ditempati Roberto Firmino.

Setelah menyadari bahwa memaksakan Georginio Wijnaldum bermain sebagai false nine benar-benar false, Klopp mengutus Divock Origi untuk menggantikan Firmino. Hasilnya manjur. Dua dari empat gol Liverpool di laga itu lahir dari tembakan Origi.

Selebrasi pemain Liverpool, Xherdan Shaqiri. Foto: REUTERS/Phil Noble

Yang menjadi pertanyaan, mengapa Liverpool bisa tampil trengginas? Padahal, Ernesto Valverde menurunkan skuat yang sama persis dengan leg pertama.

Pada dasarnya, Klopp adalah tipe pelatih yang membebaskan anak-anak asuhnya untuk berkreasi mencetak gol. Jika gol dapat dilakukan dengan permainan direct, monggo. Jika gol lebih efektif dibangun dengan umpan-umpan pendek, ya, silakan saja.

Masalahnya, Liverpool cenderung mengandalkan kemampuan individu para pemainnya untuk mencetak gol di leg pertama--yang mana, tugas ini menjadi beban terbesar buat Wijnaldum.

Pemain asal Belanda ini acap terlambat saat transisi bertahan (memberi pressing kepada pemain lawan yang menguasai bola) ke menyerang. Ia pun sering terlihat tak berani mengambil risiko untuk 'berlari secara cerdas' demi mendapatkan ruang terbaik untuk menambah opsi serangan.

Contoh paling nyata dan cepat muncul pada menit 13. Di situ, James Milner terlihat hendak memberikan umpan silang dari area sayap. Posisi Wijnaldum ada di belakang dua pemain Barcelona, tapi berada di luar kotak penalti. Dengan kecepatannya, seharusnya Wijnaldum dapat menjangkau kotak penalti.

Marc-Andre ter Stegen saat gawangnya di jebol Georginio Wijnaldum. Foto: REUTERS/Phil Noble

Namun, Wijnaldum tak mau mengambil risiko sehingga lebih memilih bersiaga di posisi awal sehingga satu-satunya cara yang bisa dilakukan James Milner adalah mengirim umpan silang ke kotak penalti yang mana tak berefek banyak karena tak ada yang menutup serangan secara optimal.

Yang harus dipastikan Klopp, tak ada lagi cerita macam ini. Kecenderungan membuang-buang peluang yang berubah menjadi petaka dialami Manchester United dalam pertemuan terakhirnya dengan Wolves.

United betul-betul bermain semenjana hampir di sepanjang babak kedua. Begitu sampai sepertiga akhir lapangan, mereka malah kebingungan untuk menyelesaikan serangan. Sebaliknya, Wolves beberapa kali mengancam lewat serangan balik.

Kembali mengutus Origi sebagai penyerang tengah bisa jadi keputusan bagus. Bukan hanya karena Origi fasih bermain melebar, tapi karena ia tergolong penyerang cair seperti Firmino. Toh, fluiditas sistem penyerangan menjadi kunci di balik ketajaman trio penyerang Liverpool: Salah-Firmino-Mane.

Memperkaya opsi serangan

Wolves adalah tim yang unik. Mereka acap tangguh berhadapan dengan tim big six, tapi semenjana melawan tim yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya. Kesimpulan paling logis yang bisa ditarik adalah sistem tiga bek Nuno efektif meredam tim yang bermain ofensif, sementara Wolves acap mati kutu kala bermain melawan tim yang bermain bertahan serta mengandalkan serangan balik.

Bek Wolverhampton Wanderers, Matt Doherty Foto: REUTERS/Eddie Keogh

Pertemuan teranyar dengan Liverpool mempertontonkan alternatif Liverpool dalam membangun serangan. Di laga tersebut, Jordan Henderson dan Fabinho mengemban tugas sebagai poros ganda. Biasanya, mereka akan bermain lebih dalam untuk menerima bola di belakang pemain Wolves yang melakukan pressing.

Namun ada suatu waktu ketika Fabinho bermain melebar untuk melepaskan diri dari tekanan yang dilepaskan oleh dua atau tiga pemain Wolves yang juga menjebak Henderson. Menciptakan angle seperti ini merupakan upaya untuk memperkaya opsi Liverpool mengeksplorasi area tepi.

Lagipula, keberadaan Fabinho di area ini juga menciptakan rute yang lebih mudah untuk menghubungkan lini tengah dengan para full-back. Ini lebih efektif ketimbang mengirim umpan panjang yang berpotensi dimatikan dengan intersep.

Skenario kebalikan juga dilakukan Liverpool di laga tersebut. Ada waktu saat Henderson yang menguasai bola bermain melebar demi menarik tekanan kepadanya.

Sementara, Fabinho beralih peran menjadi single pivot. Ia dibiarkan di tengah, berdiri tanpa penjagaan karena Henderson menjadi umpan. Dengan kemampuan passing Henderson, lini tengah dapat dijadikan opsi untuk memulai serangan.

Fabinho dalam laga pramusim bersama Liverpool. Foto: Reuters/Carl Recine

Umpan silang juga bisa menjadi opsi Liverpool untuk mendulang poin. Cedera Andrew Robertson membuat peluang Wijnaldum untuk tampil di laga pemungkas terbuka.

Kemungkinan, Klopp akan menggunakan cara seperti di leg kedua. Saat Robertson cedera, Wijnaldum masuk menempati posisi gelandang, sementara Milner mundur ke pos bek sayap kiri.

Keberadaan Trent Alexander-Arnold juga diperlukan untuk menjamin peran Wijnaldum dapat jadi lebih efektif. Penyebabnya, anak muda 19 tahun ini begitu andal mengirim umpan, termasuk umpan silang.

Penjagaan kepada penyerang tengah--terutama karena Origi juga cukup agresif--akan memberi ruang lebih kepada Wijnaldum untuk mencetak gol via umpan silang. Toh, gol Wijnaldum saat melawan Barcelona lahir dari situasi ini.

Waspadai aksi defensif Wolves

Laga teranyar melawan Liverpool membuktikan bahwa Wolves adalah serigala yang trengginas dalam bertahan, dalam artian melepaskan aksi defensif. Statistik defensif mereka menunjukkan hal tersebut. Di sepanjang laga, Wolves membuat 42 upaya tekel dengan 26 di antaranya tekel sukses, 18 sapuan, dan 22 intersep. Bandingkan dengan 16 tekel sukses dari 27 percobaan, 18 sapuan, dan lima intersep Liverpool.

Namun, sistem permainan yang dirancang oleh Klopp begitu mengutamakan pressing secara agresif, tapi kolektif. Itu berarti, begitu bola dikuasai lawan, Liverpool mesti langsung merebut dan sesegera mungkin menempatkan bola ke kotak penalti lawan atau mengeksekusi peluang.

Pemain-pemain Wolves merayakan gol Matt Doherty. Foto: Reuters/David Klein

Semakin sering bola berkutat di kotak penalti Wolves, maka peluang buat Liverpool akan semakin banyak. Tak mengherankan jika di laga tersebut, Mane menjadi pemain Liverpool yang paling banyak melakukan tekel sukses.

Bersama Robertson, pemain asal Senegal itu membukukan empat tekel sukses. Respons cepat untuk merebut bola seperti ini pula yang membuat Liverpool mampu membukukan dua gol pertama mereka di laga melawan Barcelona.

Kemenangan di laga melawan Wolves ini mutlak bagi Liverpool untuk memperbesar kans mereka menutup musim dengan takhta Premier League yang terakhir kali disegel pada 29 tahun lalu.

Juergen Klopp di akhir laga Liverpool vs Barcelona. Foto: REUTERS/Phil Noble

Bahkan menang saja sebenarnya belum cukup untuk Liverpool. Mereka kini tertinggal satu angka dari Manchester City yang ada di puncak. Kalaupun Liverpool menang, tapi City juga menang, raihan tiga poin itu tak akan membuat trofi juara pergi dari Kota Manchester. Itu berarti, supaya trofi juara dapat diangkat oleh The Reds, City juga tak boleh menang atas Brighton and Hove Albion.

Tapi, sehebat-hebatnya Liverpool, mereka cuma bisa menentukan nasib sendiri. Yang diupayakan sedapat-dapatnya oleh Klopp adalah kemenangan timnya, mewujudkan asa untuk menutup Premier League 2018/19 dengan terhormat, dengan menundukkan lawan di rumah sendiri.

*** Laga pemungkas Premier League 2018/19 antara Liverpool dan Wolverhampton Wanderers akan digelar pada Minggu (12/5/2019) di Anfield Stadium. Sepak mula akan berlangsung pada pukul 21:00 WIB.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.59