kumparan
31 Okt 2018 13:28 WIB

Respons Bobotoh soal Dugaan Pengeroyokan Capo Ultras Garuda

Suporter Indonesia memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk mendukung Timnas U-19 di Piala Asia U-19. (Foto: Dok. AFC)
Kekerasan suporter masih menjadi problem sepak bola Indonesia. Teraktual, capo atau dirigen suporter Ultras Indonesia Garuda, Aples, mengaku dikeroyok oleh oknum suporter Persija Jakarta karena ia adalah seorang Bobotoh --sebutan pendukung Persib Bandung.
ADVERTISEMENT
Agak dikhawatirkan karena insiden tersebut bukan terjadi di pertandingan Persib atau Persija. Aksi pengeroyokan malah mencoreng laga antara Timnas U-19 Indonesia dengan Jepang dalam perempat final Piala Asia U-19 2018 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (28/10/2018).
Merujuk pada pengakuan Aples, ia dihampiri oleh beberapa suporter yang memaksanya untuk memperlihatkan identitas dan gawai. Itu dilakukan karena Aples dicurigai sebagai pendukung Persib Bandung yang hadir ke GBK.
Namun, pemuda berusia 20 tahun itu menolak memenuhi permintaan suporter yang menghampirinya. Tak berselang lama, ia mendapatkan pukulan pertama dan pengeroyokan terjadi.
Ketua Viking Frontline, Tobias Ginanjar, merespons insiden tersebut dengan miris. Menurut Tobi --demikian Tobias disapa--, sudah seharusnya rivalitas Persib dengan Persija lenyap ketika menyaksikan Timnas bermain.
ADVERTISEMENT
"Rivalitas lokal harus dipisahkan ketika ditarik ke konteks yang lebih jauh, yakni Timnas. Karena ini (dukungan) untuk negara. Kalau sudah menyangkut negara ini (semestinya) sudah enggak melihat itu suporter mana, ini suporter mana," ucap Tobi kepada kumparanBOLA, Rabu (31/10).
"Terlepas dari apa pun dan siapa pun. Kejadian itu tak usah terjadi. Lagi pula, Bobotoh (dalam konteks ini Aples) tak memakai kaos Persib. Ya, karena memang mau nonton dan jadi suporter Timnas, bukan nonton Persib."
"Kita 'kan Indonesia. Heran saja, kok, di event besar ketika Timnas berlaga di pentas internasional, masih saja ada pihak-pihak yang membawa konteks yang lebih kecil (rivalitas lokal)," lanjutnya.
Aples sendiri memutuskan untuk tak mau menjadikan insiden tersebut menjadi perkara. Dalam penafsiran Tobi, keputusan yang diambil Aples sudah tepat. Akan tetapi, pengeroyokan itu harus menjadi pembelajaran bahwa tak ada rivalitas lokal saat Timnas tengah berjuang.
ADVERTISEMENT
"Tak boleh ribut karena berbeda klub kalau sudah tataran nasional mah. Ya, itulah, maksudnya. Walau tak ada tindakan hukum. Tapi, jadi pembelajaran buat semua, harus berpikir untuk bangsa dan negara, bukan fanatisme sempit," kata Tobi menutup.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan