Pencarian populer

Richarlison sang Petarung Ulung

Richarlison merayakan gol untuk TImnas Brasil. (Foto: USA Today/Reuters/Geoff Burke)

Sedari awal, niat Tite sudah jelas. Selain ingin segera bangkit dengan merengkuh kemenangan usai kegagalan menyakitkan di Piala Dunia 2018, pelatih Tim Nasional Brasil itu juga punya niat untuk menjajal nama-nama anyar. Hugo Sousa, Dede, Lucas Paqueta, Arthur Melo, Andreas Pereira, Everton Sousa, dan Pedro diberi kesempatan untuk unjuk aksi dalam balutan seragam Selecao.

Tite sudah mengumumkan skuat penuh penyegaran itu sejak pertengahan Agustus silam. Dalam perjalanannya, pria 57 tahun itu masih harus melakukan berbagai tambal-sulam. Fagner yang merupakan bek utama Brasil di Piala Dunia 2018 cedera dan harus digantikan oleh bek muda Porto, Eder Militao. Bertambahlah satu calon debutan lain di skuat Brasil.

Akan tetapi, di antara calon-calon debutan itu pun ada yang akhirnya harus menunda mimpi. Pedro, striker Fluminense berusia 21 tahun yang dikabarkan jadi target Real Madrid itu, tiba-tiba saja menderita cedera. Cederanya Pedro itulah yang kemudian membuka kesempatan bagi Richarlison de Andrade.

Richarlison dan Pedro lahir di tahun yang sama. Mereka pun pernah bermain bersama untuk Fluminense pada musim 2016/17. Setahun bersama, Richarlison pergi meninggalkan Pedro untuk mengadu nasib di Eropa. Seharusnya, kepindahan Richarlison itu memberi nilai plus pada kredensial si pemain. Apalagi, dia bermain di Premier League, yang jelas bukan kompetisi sembarangan.

Namun, Tite lebih memercayai Pedro. Dalam benak Tite, 12 gol dari 23 pertandingan milik Pedro lebih meyakinkan dibanding 3 gol dari 3 laga yang sejauh ini sudah dibukukan Richarlison bersama Everton. Walau demikian, Richarlison-lah yang kemudian tersenyum paling akhir. Sebab, pada pertandingan pertamanya sebagai starter, pemuda kelahiran Nova Venecia itu langsung mencetak dua gol yang layak masuk dalam kategori gol cantik.

Dua gol itu dicetak Richarlison dalam pertandingan menghadapi El Salvador di FedExField, Landover, Maryland, Rabu (12/9/2018) pagi WIB, yang berakhir dengan kemenangan telak 5-0 untuk Brasil. Gol pertama Richarlison itu lahir di menit ke-16 lewat tendangan placing yang membuat bola berada jauh sekali dari jangkauan kiper Henry Hernandez. Sementara, gol kedua lahir lewat sepakan kaki kiri yang bersarang telak di sudut kanan bawah gawang El Salvador.

Kontribusi Richarlison tak cuma sampai di situ. Sebelum menyarangkan dua gol, dia sudah terlebih dahulu menjadi protagonis di balik lahirnya gol penalti Brasil yang dicetak oleh Neymar. Saat laga baru memasuki menit keempat, Richarlison melakukan penetrasi yang memaksa bek El Salvador melakukan pelanggaran. Dari situlah pesta gol Brasil bermula.

Sebenarnya, pertandingan melawan El Salvador itu bukanlah laga debut Richarlison. Tiga hari silam, pada pertandingan menghadapi Amerika Serikat di New Jersey, pemain berpostur 179 cm itu sudah diberi kesempatan turun untuk kali pertama. Namun, saat itu Richarlison hanya bermain selama 15 menit dan tak mampu berbuat banyak.

Setelah mendapat kesempatan turun sebagai starter, Richarlison tak menyia-nyiakannya. Dengan terciptanya gol pertama itu, artinya dia hanya butuh waktu 31 menit untuk mencetak gol internasional perdananya. Dengan total dua gol dari dua pertandingan, untuk saat ini rasio gol per laga Richarlison pun genap di angka satu.

***

Jika Tite awalnya lebih memilih Pedro untuk jadi bagian skuat Timnas Brasil, itu sebenarnya bisa dimengerti. Sebab, Richarlison sendiri memang masih harus menunjukkan bahwa apa yang ditampilkannya bersama Everton bukanlah repetisi menjemukan dari apa yang diberikannya untuk Watford musim lalu.

Richarlison pembelian sukses Watford. (Foto: Reuters/Eddie Keogh)

Richarlison mendarat di Vicarage Road sebagai salah satu pemain termahal The Hornets sepanjang masa. Ketika Richarlison datang, hanya Isaac Success dan Roberto Pereyra yang harga transfernya lebih tinggi. Uang senilai 12,4 juta euro harus dibayarkan Watford kepada Fluminense kala itu untuk menebus jasa Richarlison. Untuk bocah 19 tahun, biaya transfer itu terbilang mahal untuk klub sekelas Watford.

Pada tujuh pertandingan pertamanya untuk Watford, Richarlison menunjukkan kepada semua orang bahwa harganya itu justru bisa dibilang terlalu murah. Sebab, dalam kurun waktu tersebut dia mampu menyarangkan enam gol dan empat assist. Watford sendiri saat itu berhasil mencatatkan tiga kemenangan dan tiga hasil imbang. Satu-satunya laga di mana Richarlison tak berkutik adalah kala Watford dihantam Manchester City 0-6.

Sayangnya, itu semua berhenti di angka tujuh. Setelah itu, Richarlison tak mampu lagi memberi kontribusi nyata di lapangan. Faktor kelelahan ditengarai jadi musabab utama karena dia hanya punya jeda tiga pekan antara pertandingan terakhir di Fluminense dan laga perdana untuk Watford. Hasilnya, Richarlison pun kehabisan bensin secara prematur.

Masa depan Richarlison di Watford pun mulai dipertanyakan. Apalagi, pelatih yang membawanya ke sana, Marco Silva, dipecat karena dianggap sudah tak fokus menangani klub. Di bawah arahan Javi Gracia, Richarlison tak lagi mendapat kepercayaan besar. Pada titik itu, Richarlison tak ubahnya sensasi semalam yang tak lagi berkesan.

Pergantian musimlah yang akhirnya menyelamatkan Richarlison. Untuk kedua kalinya, Silva mengemis kepada manajemen untuk mendaratkan pemain jebolan akademi America Mineiro itu. Silva pertama kali mengemis pada manajemen Watford dengan berargumen bahwa Richarlison adalah pemain yang sudah benar-benar diamatinya sejak lama. Kepada manajemen Everton, Silva melakukan hal serupa.

Richarlison, harapan baru Everton. (Foto: REUTERS/Peter Powell)

Akhirnya, meskipun harga si pemain sudah melonjak hampir lima kali lipat, manajemen Everton menuruti permintaan Silva. Apalagi, Richarlison adalah pemain yang tidak dimiliki The Toffees musim lalu.

Kecepatan, kengototan, kemampuan melakukan penetrasi, dan teknik individual Richarlison itu benar-benar dibutuhkan oleh Everton arahan Silva. Demi masa depan klub yang lebih cerah, Farhad Moshiri pun tak keberatan mengeluarkan uang sebesar 56 juta euro untuk mendatangkan sang pemain idaman.

Sejauh ini, 56 juta euro itu terlihat menjanjikan. Jumlah gol tentu saja layak dijadikan patokan. Kendati begitu, musim masih panjang dan Richarlison masih harus menunjukkan bahwa dia bukan pemain yang cuma bisa meledak di awal tetapi melempem di akhir. Selain itu, dia juga masih harus belajar mengontrol emosi agar kartu merah di laga kontra Bournemouth itu tak terulang.

***

Bagi Richarlison, sepak bola dan keluarga adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Ketika kecil dulu, dia memulai perjalanan sebagai pesepak bola dengan bermain di tim desa yang pernah diperkuat ayahnya. Sebagai sosok yang dibesarkan di kota kecil, akses untuk menggapai sepak bola profesional memang lebih sulit untuk Richarlison. Namun, justru di situlah dia ditempa.

Richarlison kecil bermain untuk Vila Pavao di kompetisi Futebol de Varzea yang juga pernah jadi gelanggang milik Gabriel Jesus. Maka, tak heran jika dua pemain ini punya karakter yang mirip. Selain punya teknik bagus, mereka berdua tak segan bertarung untuk memperebutkan ruang maupun bola.

Jesus melakukan selebrasi. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Sembari memupuk mimpi jadi pesepak bola, Richarlison membantu keluarganya mencari nafkah. Jika Gabriel Jesus dulu pernah menjadi tukang cat trotoar, Richarlison lebih memilih untuk berdagang.

"Aku dulu sering berjualan es lolipop dan permen di pinggir jalan. Aku juga sempat kerja di tempat cuci mobil. Sebelum pergi ke sekolah siang hari, paginya aku bekerja dulu. Sesekali, aku juga ikut kakek pergi ke ladang," kenang Richarlison dalam wawancara dengan ESPN Brasil.

Kerja keras Richarlison itu perlahan terbayar. Pada usia 16 tahun, dia mendapat kesempatan trial bersama Figuirense dan Avai. Akan tetapi, dia ditolak di dua klub Serie A tersebut. Inilah masa-masa sulit pertama bagi Richarlison dan untuk bisa melewati ini, dia butuh banyak bantuan dari pamannya, Elton. Pamannya inilah yang kemudian mengarahkan Richarlison untuk bergabung dengan klub lokal Real Noroeste.

Di situlah Richarlison lantas menemukan titik baliknya. Setelah dua tahun bersama Noroeste, Richarlison mendapat undangan untuk menjalani trial bersama Mineiro dan kali ini dia berhasil. Akhirnya, Mineiro pun jadi jalan pembuka Richarlison menuju Fluminense.

Jika di Brasil dia punya ayah dan paman kandung, Richarlison punya 'ayah' kedua di Inggris. 'Ayah' kedua yang dimaksud, tak lain, adalah pelatihnya sendiri, Marco Silva. Richarlison mengaku berutang banyak kepadanya dan pada sesi perkenalan bersama Everton, dia menekankan bahwa keberadaan pelatih asal Portugal itu sangatlah penting bagi perkembangannya.

Faktanya adalah, Silva memang selalu jadi pelindung untuk Richarlison. Ketika publik sepak bola Inggris mulai heboh dengan kecemerlangan si pemain di masa-masa awal bersama Watford, Silva-lah yang mengingatkan untuk tidak memberi beban tambahan pada Richarlison. Tak heran jika Richarlison kesulitan tanpa keberadaan Silva.

Marco Silva enggan bicara rumor ke Everton. (Foto: REUTERS/Eddie Keogh)

Namun, kini Silva pulalah yang akhirnya memberi beban tersebut. Banderol 56 juta euro yang tersemat di dirinya membuat Richarlison dipastikan bakal lebih rentan akan kritik. Ditambah lagi, kini dia sudah jadi pemain internasional untuk Timnas Brasil. Di sini, tak ada lagi yang bisa membela Richarlison kecuali dirinya sendiri.

***

Richarlison punya potensi, itu sudah jelas. Namun, potensi adalah jebakan yang begitu menakutkan bagi para pemain sepak bola. Sudah tak terhitung berapa pemain potensial yang akhirnya cuma jadi catatan kaki.

Untuk Richarlison, mengandalkan potensi saja jelas tidak cukup dan sebenarnya dia sudah memahami itu. Itulah mengapa, dia selalu ingin bermain dan bermain. Bahkan, dia pernah menangis karena diganti di tengah-tengah pertandingan, yakni saat Watford menang 4-1 atas Chelsea, Februari silam.

Respons Richarlison itu boleh jadi kurang tepat dan bisa disalahartikan dengan mudah sebagai sebuah kelemahan. Akan tetapi, tangisan itu justru menunjukkan hasrat besar dari seorang pemain belia dan semestinya, hasrat besar itu bisa jadi modal berharga baginya.

Saat ini, Richarlison sudah berada di lingkungan yang lebih mapan. Everton percaya kepada Silva dan Silva percaya kepada Richarlison. Jikalau kesulitan di masa remaja itu akhirnya bisa dilewati dengan mulus, seharusnya situasi seperti ini bakal membuat Richarlison lebih mengerikan lagi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60