Pencarian populer

Sean Dyche yang Berada di Antara Realitas dan Mimpi

Manajer Burnley, Sean Dyche. (Foto: Reuters/Paul Childs)

Adagium, pada akhirnya menjadi adagium--dan bukan celoteh belaka--karena ia sudah kerap terbukti keabsahannya. Dalam dunia olahraga, salah satu adagium yang paling kerap didengungkan adalah bahwa serangan yang baik akan menghasilkan kemenangan, sementara pertahanan yang apik akan memberi gelar.

Namun, bagi Gennaro Ivan Gattuso, hal ini tak berlaku. Atau, mungkin lebih tepatnya, Gattuso tidak tahu betul bagaimana cara menerapkan adagium itu tadi dengan baik dan benar.

Pasalnya begini. Adagium tersebut tidak serta merta mengajarkan kepada para pelaku, mau itu pelatih, pemain, atau bahkan presiden klub sekalipun, untuk mengabaikan salah satunya. Bagi sebuah tim, untuk mendapat hasil optimal, yang perlu mereka lakukan adalah menyeimbangkan dua hal tadi.

Gattuso, seperti halnya orang yang mengamalkan ayat kitab suci setengah-setengah, kemudian mengamalkan adagium itu tadi dengan setengah-setengah pula. Tatkala dia membesut Pisa pada kancah Serie B musim 2016/17 lalu, Gattuso berhasil membawa tim yang pernah diperkuat Diego Pablo Simeone itu menjadi salah satu tim dengan pertahanan paling solid di Serie B.

Musim lalu, Pisa harus melakoni 42 pertandingan di Serie B dan dari sana, Pisa hanya kemasukan 36 kali. Jumlah kebobolan mereka itu hanya kalah dari Spezia yang kemasukan 34 gol. Perbedaannya, Spezia mengakhiri musim di peringkat kedelapan dan berhak lolos ke play-off promosi ke Serie A dan Pisa jadi juru kunci.

Di situ, Gattuso lupa bahwa tidak kebobolan saja akhirnya tak cukup untuk membawa sebuah tim berprestasi. Biar bagaimana pun, sepak bola adalah permainan di mana jumlah gol menjadi hitung-hitungan penting. Dengan hanya mencetak 23 gol, Pisa pun akhirnya harus rela turun ke Lega Pro.

Sean Dyche, tentu saja, bukan Gennaro Gattuso. Walau begitu, setiap kali nama Dyche disebut, yang sudah pasti akan terbesit adalah bagaimana pertahanan yang solid juga jadi primadona.

Hal itu sebenarnya memang tidak mengejutkan. Baik Gattuso maupun Dyche, ketika masih aktif bermain dulu, adalah pemain bertahan. Bedanya, Gattuso adalah seorang juara dunia, sementara Dyche adalah legenda di Chesterfield. Sebagai pemain, Gattuso memang tak perlu diragukan lagi kapasitas dan reputasinya, tetapi sebagai pelatih, Rino harus belajar banyak pada The Ginger Mourinho.

Sean Dyche adalah potret kebersahajaan yang pada akhirnya justru menimbulkan decak kagum. Di antara kesebelasan-kesebelasan yang berlomba-lomba untuk menjadi seperti Barcelona, Dyche tak pernah mau ikut arus. Bisa jadi memang karena dia tak mampu, akan tetapi lebih pas rasanya jika disebut bahwa Dyche, dengan Burnley-nya itu, tetap bertahan dengan identitas mereka semata-mata karena itu adalah identitas mereka. Tak kurang dan tak lebih.

Sean Dyche lahir dari keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah seorang konsultan untuk British Steel Corporation yang banyak menghabiskan waktu bekerja di luar negeri.

Walau begitu, Dyche tak pernah mengikuti jejak sang ayah. Bagi pria kelahiran 1971 ini, sepak bola adalah hidupnya. Itulah mengapa, meski tak bagus-bagus amat sebagai pemain, Sean Dyche tetap setia menjadi pesepak bola sejak masih berusia belasan hingga akhirnya pensiun di usia 36 tahun.

Selama bermain, Dyche berposisi sebagai bek tengah. Masa-masa keemasan kariernya terjadi pada dekade 1990-an kala berkostum Chesterfield. Di sana, dia menghabiskan tujuh musim dan sempat didapuk menjadi kapten. Walau begitu, Dyche akhirnya terus berpindah klub sebelum akhirnya gantung sepatu di klub tempat kelahirannya, Northampton Town.

Setelah pensiun, Dyche langsung mencoba peruntungan di dunia manajerial. Hanya saja, dia menmang harus memulai dulu dari nol. Persis setelah pensiun pada 2007, dia menjadi pelatih U-18 Watford--klub yang diperkuatnya antara 2002 s/d 2005--sebelum kemudian, pada 2009, dipromosikan menjadi asisten manajer Malky Mackay.

Di sinilah trajektori karier Dyche baru benar-benar terasa. Setelah dua musim menjadi tangan kanan Mackay, Dyche akhirnya ditunjuk menjadi manajer The Hornets untuk musim 2011/12 menyusul kepergian mantan bosnya itu ke Cardiff City.

Bersama Watford, catatan Dyche sebenarnya cukup impresif karena dia mampu membawa klub berkostum kuning-hitam itu ke urutan empat Divisi Championship sekaligus mengamankan tiket play-off ke Premier League. Sayangnya, Watford kemudian diakuisisi oleh Keluarga Pozzo dari Italia.

Di bawah Keluarga Pozzo, ada sebuah ambisi untuk mengubah Watford menjadi klub bergaya kontinental dan ini pada akhirnya terlihat dari manajer-manajer yang mereka tunjuk selama ini, mulai dari Walter Mazzarri sampai kini, Marco Silva.

Dyche yang terlalu Inggris itu tentu saja tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh Keluarga Pozzo. Dengan demikian, meski posisi empat itu adalah prestasi terbaik Watford selama beberapa tahun, Dyche akhirnya terpaksa angkat kaki.

Sembari menunggu lowongan pekerjaan, Dyche pun mengisi waktunya dengan bergabung ke jajaran staf kepelatihan Tim Nasional Inggris U-21. Kebetulan, "Singa-singa Muda" kala itu dibesut oleh Stuart Pearce yang merupakan rekan setim Dyche kala di Nottingham Forest dulu. Namun, masa-masa Dyche di Timnas Inggris U-21 itu tak bertahan lama karena beberapa pekan kemudian, Burnley datang mengetuk.

Burnley adalah salah satu raksasa Inggris yang harus lama memejamkan mata karena terus tergilas zaman. Mereka punya dua trofi juara Liga Inggris di kabinetnya, tetapi terakhir kali mereka menjadi juara liga, itu terjadi pada tahun 1960. Selebihnya, klub berjuluk The Clarets ini lebih kerap berkubang di divisi bawah. Sesekali, nama mereka memang muncul ke permukaan. Akan tetapi, kemunculan nama Burnley itu lebih disebabkan oleh rivalitas mereka dengan Blackburn Rovers.

Dyche, pada September 2012 itu, diminta manajemen Burnley untuk menggantikan Eddie Howe yang hijrah ke Bournemouth. Di titik itulah segala puja puji bagi Dyche itu bermula.

Pada musim keduanya membesut Burnley, Dyche berhasil membawa mereka promosi ke Premier League untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Akan tetapi, Premier League musim 2014/15 itu kemudian terbukti jadi musim yang sangat sulit bagi Dyche.

Sudah sejak awal, Dyche selalu menerapkan filosofinya di Burnley. Filosofi ini boleh jadi merupakan kebalikan dari filosofi milik Josep Guardiola. Sebenarnya, apa yang diterapkan Dyche ini juga bisa disebut sepak bola yang mengandalkan pemosisian pemain. Hanya saja, jika Guardiola menggunakan itu untuk menyerang, Dyche menerapkannya dalam pertahanan.

Sepintas memang tak ada yang spesial dengan pakem 4-4-2 atau 4-4-1-1 milik Dyche. Sepintas, gaya main yang mereka terapkan pun nyaris tak ada bedanya dengan milik manajer-manajer klasik Inggris lain seperti Tony Pulis, Samuel Allardyce, atau David Moyes. Namun, pendekatan Dyche yang lebih modern, termasuk dengan menggalakkan penggunaan analisis video, pada akhirnya membuat dirinya jadi yang terdepan saat ini.

Namun, pada musim 2014/15 itu, situasinya belum semanis sekarang. Pada musim debutnya di Premier League itu, nasib Dyche mirip dengan nasib Gattuso di Pisa. Secara defensif oke, tetapi secara ofensif sama sekali tak bertaji. Bahkan, sebelum dipecahkan Aston Villa pada musim 2015/16 dan Middlesbrough pada 2016/17, rekor mencetak gol Burnley itu (28 gol dalam semusim) adalah yang terburuk sepanjang sejarah Premier League. Mereka pun finis di urutan ke-19 setelah hanya meraih tujuh kemenangan.

Seharusnya, dengan standar Premier League yang tak mengenal kesabaran itu, Dyche dipecat saat itu juga. Namun, Burnley adalah klub yang berbeda.

Seperti dituturkan Liam Rosenior dalam kolomnya di The Guardian, ada rasa percaya yang ditanamkan manajemen Burnley kepada Dyche. Kegagalan itu tidak pernah dilihat sebagai sebuah kegagalan, melainkan sebuah langkah mundur yang biasa terjadi dalam sebuah proses jangka panjang.

Dyche pun membayar kepercayaan itu dengan keberhasilan untuk kembali ke Premier League untuk musim 2016/17. Di situ, Dyche mulai belajar. Masih dengan pertahanan yang solid, urusan menyerang pun diperbaikinya. Hasilnya, walau akhirnya Burnley cuma finis di urutan ke-16, mereka tetap selamat.

Sampai akhirnya, musim 2017/18 ini tiba. Walaupun diprediksi bakal turun kelas, terutama sepeninggal Michael Keane, Sean Dyche nyatanya justru mampu membawa Burnley ke jajaran papan atas. Segala yang sudah pernah diserapnya selama dua musim sebelumnya di Premier League kemudian baru berbuah hasil pada musim ini.

Sampai menjelang pekan ke-20 ini, Burnley bertengger di urutan ketujuh dengan hanya tertinggal tiga poin dari zona Liga Champions. Awalnya, mereka menetapkan target 40 poin seperti musim lalu, tetapi kini mereka sudah punya koleksi 32 poin.

Hal itu mereka dapatkan dengan pertahanan yang amat, sangat solid. Terbukti, hanya duo Manchester di puncak klasemen saja yang pertahanannya lebih bagus dari mereka. Burnley sejauh ini baru kemasukan 15 kali, sedangkan City dan United masing-masing kebobolan 12 dan 14 gol.

Capaian Burnley ini, sekali lagi, adalah cerminan dari Sean Dyche sendiri. Bagi seorang Sean Dyche, seperti yang dia sampaikan kepada The Times, sepak bola adalah soal realitas, tetapi juga soal mimpi. Burnley pada musim ini berangkat dari realitas. Akan tetapi, dari realitas itu, mereka bisa mengejar sebuah mimpi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22