kumparan
15 Agu 2019 16:28 WIB

Segudang Masalah Real Madrid Jelang Musim Baru

Para pemain Real Madrid merayakan hat-trick Karim Benzema di final Audi Cup 2019. Foto: REUTERS/Michael Dalder
Real Madrid mengarungi laga pramusim dengan sergut. Kalah dari Bayern Muenchen di duel pertama, lalu susah payah menang atas Arsenal pada 26 Juli. Momen terburuk tercipta tiga hari berselang, El Real ditumpas 3-7 dari Atletico Madrid. Parah, sih.
ADVERTISEMENT
Namun, Zinedine Zidane menanggapinya dengan santai. Ia berdalih bahwa pertandingan lawan Atletico itu tak lebih dari sekadar laga persahabatan.
"Mereka mencetak tujuh gol, sebenarnya itu tidak mungkin terjadi. Para pemain juga tahu itu, dan pada akhirnya kecewa. Tapi, mereka tidak mengecewakan saya. Tidak perlu melihatnya lagi. Ini cuma pertandingan pramusim dan kami harus tetap tenang," kata Zidane seperti dilansir Marca.
Ungkapan Zidane ada benarnya. Masalahnya, hingga saat ini performa Madrid masih jeblok. Memang, setelah tumbang 0-1 dari Tottenham Hotspur. mereka sempat memetik dua kemenangan beruntun atas Fenerbahce dan Red Bull Salzburg.
Namun, ya, cuma dua klub medioker Eropa itu saja yang mampu mengembalikan kepercayaan diri Madrid. Wong, akhir pekan lalu Madrid kembali gagal mendulang kemenangan saat bersua AS Roma di Olimpico.
ADVERTISEMENT
Sempat dua kali unggul lewat bantuan Marcelo dan Casemiro, mereka kemudian takluk melalui drama adu penalti. Bila ditotal, Madrid cuma menggamit 3 kemenangan dari 7 pertandingan pramusim. Sementara 4 sisanya berujung kekalahan.
Ironisnya, Madrid telah mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk mempermak skuatnya, 305,5 juta euro. Masih lebih boros ketimbang Barcelona (255 juta euro) dan Atletico Madrid (243,5 juta euro).
Madrid memboyong Eden Hazard mereka boyong dari. Kemudian Luka Jovic, Eder Militao, Ferland Mendy, dan juga Rodrygo. Hasilnya? Ya, catatan negatif di atas tadi.
Namun, wajar apabila Madrid belanja besar. Musim 2018/19 merupakan periode terburuk Madrid dalam sedekade terakhir. Total 18 kekalahan mereka telan di berbagai ajang. Jumlah itu membengkak dua kali lipat dibanding musim sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Lantas, apa saja, sih, segudang masalah yang dialami Madrid saat ini?
Lini Depan
Sulit untuk menyangkal bahwa kepergian Cristiano Ronaldo di awal musim 2018/19 adalah titik keruntuhan Madrid. Betapa tidak, rata-rata gol per laga Los Blancos di lintas ajang musim lalu hanya menyentuh 1,8 --terburuk dalam sedekade terakhir.
Maka cukup logis kalau Madrid kemudian membelanjakan lebih dari 3/4 anggaran belanja mereka untuk mempertajam lini depan: Hazard, Jovic, dan Rodrygo.
Masalahnya, performa ketiganya tak se-meyakinkan itu. Hazard baru mampu 'pecah telur' di laga pramusim keenam Madrid. Itu pun juga ke gawang klub asal Austria, Red Bull Salzburg.
Jovic lebih parah lagi karena tak kunjung mencetak gol. Padahal, pemain berusia 21 tahun itu tampil meyakinkan bersama Eintracht Frankfurt musim lalu dengan mencetak 27 gol dan 6 assist dari 47 laga di lintas ajang. Masih mending Karim Benzema, sih, karena sukses mengukir trigol ke gawang Fenerbahce di akhir bulan lalu.
ADVERTISEMENT
Pemain baru Real Madrid, Eden Hazard, berpose saat kenakan kostum Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu, Spanyol. Foto: AFP
Ketimbang Hazard dan Jovic, justru Rodrygo yang duluan menunjukkan kualitasnya. Pemain asal Brasil itu sukses mengoyak jala Bayern --meski akhirnya Madrid tetap kalah juga.
Situasi makin sulit buat Madrid karena Marco Asensio terancam melewatkan musim 2019/20 lantaran cedera. Belum lagi dengan Gareth Bale kemungkinan besar bakal angkat kaki dari Santiago Bernabeu. Padahal, ia adalah winger yang karakteristik permainannya paling mendekati Ronaldo.
Madrid memang masih punya Isco. Akan tetapi, soal kekuatan dan insting mencetak gol, Bale masih lebih unggul.
Gareth Bale melakukan pemanasan di bangku cadangan Real Madrid. Foto: Pierre-Philippe Marcou/AFP
Bila Bale benar-benar pergi, praktis hanya Lucas Vazquez, Vinicius Junior, dan Rodrygo yang kemungkinan akan mengisi pos sayap kanan secara bergantian --mendampingi Hazard di tepi sebaliknya. Meski, ya, hanya Vazquez yang berposisi asli sebagai winger kanan murni.
ADVERTISEMENT
Sialnya, produktivitas Vazquez dan Vinicius di La Liga musim lalu juga tak begitu membanggakan. Keduanya mencetak 4 gol bila dikalkulasi atau cuma setengah dari raihan gol Bale.
Lini Tengah
Beranjak ke lini tengah. Kombinasi Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro di area sentral Madrid. Lewat perean ketiganya, Madrid sukses merengkuh tiga trofi Liga Champions secara beruntun.
Di sisi lain, tak bisa dimungkiri bahwa mereka sudah mengalami penurunan performa. Tengok saja Modric, yang catatan intersepnya hanya menyentuh 0,9 Per laga. Itu tak genap setengah dibandingkan dengan torehannya bersama Kroasia di Piala Dunia termutakhir.
Sama halnya dengan Kroos yang produktivitasnya kian menurun. Mantan penggawa Bayern itu cuma mampu mencetak 4 assist dan nihil gol di La Liga musim lalu.
ADVERTISEMENT
Sementara di edisi 2017/18, Kroos sukses mengumpulkan 5 gol dan 7 assist. Tak ketinggalan juga Casemiro yang mengalami penurunan rata-rata aksi tekel dan intersep sekitar 0,6 serta 0,7.
Momen ketika jersi Messi ditarik Modric. Foto: Reuters/Susana Vera
Sebenarnya Madrid masih punya James Rodriguez, gelandang kreatif yang bisa bermain di lebih dari satu posisi. Namun, masa depan playmaker asal Kolombia itu masih belum jelas dan bisa saja hengkang sebelum bursa transfer ditutup.
Lini Belakang
Uang sebanyak 35 juta poundsterling yang dirogoh Madrid untuk mendaratkan Thibaut Courtois nyaris tak berguna. Ia cuma mampu mengukir 8 clean sheet dari 27 pertandingan di La Liga, jauh tertinggal dari kiper-kiper top macam Jan Oblak yang berhasil menjaga keperawanan gawangnya sebanyak 20 kali dan Marc-Andre ter Stegen di angka 16. Malah, Torehan Courtois masih lebih buruk dari Bono, kiper Girona, yang klubnya terdegradasi di akhir musim lalu.
ADVERTISEMENT
Parahnya, Courtois belum mampu memperbaiki performanya di pramusim. Dalam dua laga pertamanya saja -- melawan Bayern, Arsenal, dan Atletico --kiper asal Belgia itu sudah kemasukan 8 gol.
Thibaut Courtois menjalani pemanasan sebelum laga Real Madrid vs Rayo Vallecano. Foto: Benjamin Crewel/AFP
Tak cukup bijak andai menyalahkan Courtois sebagai biang keladi atas gol-gol yang tercipta ke gawang Madrid. Toh, Sergio Ramos cs. juga bertanggung jawab atas hal itu.
Bila kurang yakin, tengok saja rasio kebobolan Los Blancos pada edisi lalu yang menyentuh 1,24 di tiap pertandingan --sekaligus jadi yang terburuk dalam 10 tahun terakhir. Sebagai gambaran, jumlah tersebut jauh lebih buruk dari rata-rata terbaik mereka, dalam durasi tersebut, pada 2010/2011 yang hanya mencapai 0,73.
Bukan semata soal bertahan, barisan belakang Madrid juga mengalami kemerosotan soal proses penciptaan gol, khususnya pada sektor full-back.
ADVERTISEMENT
Selebrasi Marcelo. Foto: REUTERS/Paul Hanna
Pada periode 2017/18, misalnya, Marcelo dan Dani Carvajal membantu Madrid mencetak 20 gol di La Liga dan Liga Champions (5 gol dan 15 assist). Bandingkan dengan raihan Marcelo-Carvajal di musim ini yang hanya membantu memproduksi terciptanya 10 lesakan (4 gol dan 6 assist).
Zidane sebenarnya telah menyiapkan Mendy dan Eder sebagai suksesor Marcelo dan Carvajal. Eder sendiri merupakan bek versatile yang bisa bermain di area sentral dan full-back kanan. Sementara Mendy adalah tipikal full-back yang aktif dalam membantu serangan. Ya, mirip-mirip dengan karakteristik Marcelo.
Apes, ia mengalami cedera otot dan mesti absen hingga sebulan ke depan. Besar kemungkinan pemain berusia 24 tahun itu bakal melewatkan laga pembuka La Liga versus Celta Vigo, 17 Agustus mendatang.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan