Pencarian populer

Senjata Baru Barcelona Itu Bernama Malcom

Malcom tiba di markas Barcelona. (Foto: Albert Gea/Reuters)

Namanya Malcom Filipe Silva de Oliveira. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Malcom tanpa atribut nama keluarga.

Ia orang Brasil, berusia 21 tahun, dan jadi perbincangan jagat sepak bola. Apa boleh bikin, siapa pun yang membuat Barcelona rela menghalalkan ‘segala cara’, termasuk pembajakan, tentu saja akan menjadi pembicaraan.

Konon, ayah Malcom mengambil namanya dari Malcolm X, aktivis hak asasi manusia asal Amerika Serikat yang juga keturunan Afrika. Bagi para pengagumnya, ia dikenal sebagai sosok pemberani yang memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam. Sementara, mereka yang terancam dengan keberadaannya, menudingnya sebagai pemberontak dan pelaku kekerasan.

Malcom bukan aktivis hak asasi manusia, ia seorang pesepak bola. Namun, bila Malcolm X memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam, maka Malcom memperjuangkan kehidupannya di atas lapangan bola. Serupa bocah Brasil lainnya, favela menjadi stadion pertama bagi kisah sepak bola Malcom.

Ceritanya ibarat epos yang mempertontonkan kisah yang dimulai dengan keadaan yang sulitnya minta ampun, dalam hal ini kemiskinan, sampai akhirnya ia berhasil mengecap apa yang disebut orang sebagai kesuksesan. Malcom memutuskan untuk tak pergi ke bangku kuliah. Ia memantapkan tekad untuk menjalani kehidupannya sebagai pesepak bola profesional.

Tempaan hidup macam itu pulalah yang pada akhirnya mengantarkannya kepada kondisi seperti sekarang. Diperebutkan oleh klub-klub papan atas, bahkan menjadi bagian dari klub sekelas Barcelona.

Corinthians menjadi anak tangga pertama dalam kehidupan Malcom sebagai pesepak bola profesional. Pada 2014, ia bergabung di klub yang keseluruhan kisahnya tak dapat dipisahkan oleh perjuangan Socrates itu. Namun, serupa masa kecilnya yang tak mudah, awal kariernya pun tak dijalani dengan mudah.

Selama dua musim, hingga 2016, namanya tenggelam. Kepiawaiannya tersembunyi di balik bayang-bayang Vagner Love dan Jadson. Bila dihitung, ia bermain setidaknya 51 kali dan mencetak 7 gol untuk Corinthians. Meski demikian, itu semua belum cukup untuk menjadikannya sebagai bintang utama.

Namun, nasib buruk ada bukan untuk dikeluhkan dan disesali. Ia ada untuk dilawan, untuk ditantang, dan diajak berkelahi. Kalau perlu sampai mampus, sampai tak ada lagi yang tersisa. Malcom mengamini dan menghidupinya.

Nasib muram dan jalan sempit tak membuatnya tersungkur dan meratap. Ia tetap mengikat tali sepatunya, duduk di bangku cadangan sesuai keinginan pelatih, dan bersusah-payah dalam sesi latihan. Barangkali bila kepalanya dibedah, kita akan melihat keyakinan bahwa ialah penentu nasibnya sendiri mengakar kuat sampai ke batas kemustahilan.

Tak mendapat tempat di rumah sendiri, Malcom memutuskan untuk hijrah ke Prancis dan bergabung dengan Bordeaux pada Januari 2016. Yang membedakan dengan kariernya di Brasil, pelatih Bordeaux, Jocelyn Gourvennec, memberikan jam terbang dan ruang yang cukup baginya untuk mengembangkan permainannya.

Malcom (tengah) dijaga ketat pemain-pemain lawan. (Foto: REUTERS/Regis Duvignau)

Bermain dalam kerangka 4-3-3, Gourvennec menyadari keberadaan Malcom sebagai salah satu inverted winger paling menjanjikan yang pernah ia temui. Walau bermain sebagai pemain sayap kanan, kaki kirinya memang lebih dominan. Bila dirangkum, di sepanjang kompetisi Ligue 1 2017/2018, Malcom mencetak 12 gol serta mencatatkan rataan 2,7 dribel, 2,1 tembakan, dan 2,5 umpan kunci per laga.

“Kalau ingin membicarakan Malcom, kalian semua harus melihat permainannya setiap hari. Ia tetap menempa diri, tapi juga menikmati segala tempaan yang harus dilaluinya demi skuat ini. Ia bahkan berinisiatif sebagai penerjemah bagi kawan-kawannya yang juga berasal dari Brasil."

"Ia tidak pernah terganggu dengan apa pun yang dikatakan oleh media. Segala hal yang ada padanya menunjukkan bahwa, ya, dia memang masih muda, tapi juga begitu dewasa," tutur Gourvennec kepada The Guardian.

Cut-inside dan kecepatan menjadi senjata andalan Malcom. Ketika melakukan cut-inside, Malcom mahir dalam memanfaatkan tubuhnya untuk menjaga possession. Yang menarik, walau beraksi di Tanah Prancis, Malcom tak kehilangan ciri permainan sepak bola Brasil yang ekstravaganza, yang ditunjukkan lewat caranya menggiring bola demi mengecoh lawan-lawannya.

Kemampuan individual macam ini akan agaknya akan membiasakan kita untuk menyaksikan aksi akrobatik Malcom saat menggiring bola. Saat berlari dalam kecepatan tinggi, ia akan melakukan aksi akrobatik yang menawan sekaligus efektif untuk mengecoh lawan. Dan dalam sekejap, ia sudah ada dalam situasi satu lawan satu dengan penjaga gawang.

Beruntung, pembicaraan soal Malcom tak melulu seputar mencetak gol. Selain merobek jala lawan, ia juga tahu caranya berbagi dengan kawan-kawannya. Sewaktu ada dalam situasi yang tidak memungkinkannya untuk melakukan cut-inside dan melepaskan tembakan, ia bisa saja memberikan umpan kunci kepada rekan-rekannya yang memiliki ruang. Berdasarkan catatan Squawka, ia menorehkan 76 kans dan 7 assist untuk timnya di kompetisi Ligue 1 musim lalu.

Malcom kala memperkuat Bordeaux. (Foto: Nicolas Tucat/AFP)

Malcom juga memiliki kemampuan bertahan yang cukup meyakinkan. Kala timnya diserang dan lawannya itu ada di areanya, ia akan memberikan tekanan dan memancing lawan untuk melakukan kesalahan.

Malcom kerap membuat pemain lawan memberikan celah sehingga ia bisa melakukan intersep atau memaksa pemain lawan untuk melakukan umpan yang tak sempurna dan berpotensi untuk direbut oleh pemain Barca lainnya. Musim lalu, ia membukukan rata-rata 1 defensive action per laga.

Keberadaan Malcom di Barcelona menimbulkan tanda tanya mengenai peran apa yang akan dimainkannya. Namun, bila melihat efektivitasnya saat bermain sebagai winger kanan, kemungkinan besar ia akan bermain dalam posisi serupa di Barcelona.

Di musim 2017/2018, Barcelona asuhan Ernesto Valverde paling sering bermain dalam skema 4-4-2 dengan memasang duet Luis Suarez dan Lionel Messi di lini serang. Pada dasarnya, Barcelona sudah memiliki Phillipe Coutinho di sayap kiri dan Ousmane Dembele di sayap kanan.

Sayangnya, di musim lalu Dembele didera cedera dan tak bisa bermain rutin. Kalaupun bermain, Dembele sering terlambat mengejar bola kala ia bermain di posisi yang lebih dalam. Lantas, berbekal kecepatannya, Malcom dianggap dapat mengisi kekosongan pos ini. Kecepatan, visi, dan kemampuan bertahannya dapat menjadi senjata pamungkas baru bagi lini serang Barcelona. Kalaupun Malcom masih membutuhkan waktu untuk adaptasi, maka untuk sementara ia dapat digunakan sebagai pelapis Dembele.

Keberadaan Malcom (tentunya bila ia sudah dapat beradaptasi dengan baik) juga dapat memberikan keleluasaan taktikal bagi Valverde bila sewaktu-waktu Messi tidak bisa bermain, entah karena cedera, hukuman, ataupun memang harus diistirahatkan. Bila situasi ini terjadi, kemungkinan besar Valverde dapat menggunakan 4-2-3-1. Di lini kedua, Valverde bisa menempatkan trio Dembele-Coutinho-Malcom yang menopang Suarez sebagai ujung tombak serangan.

Hingga kini, belum ada yang dapat memastikan bakal seefektif apa keberadaan Malcom di Barcelona. Serupa kemungkinan bahwa ia akan menjadi bintang baru, Malcom juga punya peluang bakal kehilangan sinarnya di Barcelona. Namun, terlepas dari kemungkinan dua sisi itu, setidaknya untuk sekarang, Valverde boleh bernapas sedikit lega karena kedatangan opsi baru yang meyakinkan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60