kumparan
4 Jul 2018 16:40 WIB

Sudah Saatnya Kita Berhenti Memandang Jordan Pickford Sebelah Mata

Selebrasi pascalaga Jordan Pickford. (Foto: Reuters/Carl Recine)
Claudio Andre Taffarel dan adu penalti seperti berjodoh. Pada Piala Dunia 1994 dan 1998, pria kelahiran 52 tahun silam itu membantu Tim Nasional (Timnas) Brasil memenangi dua adu penalti. Kemudian, pada final Piala UEFA 2000, Taffarel membawa Galatasaray menjadi juara, juga lewat adu penalti.
ADVERTISEMENT
Oleh karenanya, Anda sebaiknya percaya ketika Taffarel berbicara mengenai adu penalti itu sendiri. Baginya, adu penalti adalah tos-tosan dalam arti yang sesungguhnya.
Menurut pria berpostur 183 cm itu, nilai untung-untungan di dalam babak adu penalti sangatlah besar dan oleh karenanya, siapa pun yang menang di babak itu belum tentu tim yang lebih baik. Karena alasan itu pulalah Taffarel enggan disebut sebagai pahlawan meskipun sukses membawa timnya memenangi adu penalti.
Lain Taffarel, lain pula orang-orang Inggris. Karena sudah sering menang, barangkali Taffarel juga sudah tak menganggap penalti -- khususnya babak adu penalti -- sebagai sesuatu yang spesial. Namun, bagaimana dengan mereka yang punya trauma kronis terhadap adu penalti seperti orang-orang Inggris?
ADVERTISEMENT
Menurut orang-orang Inggris, Jordan Pickford adalah pahlawan. Bahkan, lewat kolom Barney Ronay, The Guardian yang selama ini sangat anti terhadap jingoisme khas The Telegraph atau The Times sampai melabeli Pickford sebagai seorang 'pahlawan super'. Musababnya, tentu saja adalah keberhasilan Pickford mengantarkan Inggris memenangi adu penalti melawan Kolombia.
Sebenarnya, selain penalti Carlos Bacca, Pickford sudah melakukan satu penyelamatan cemerlang terlebih dahulu di babak perpanjangan waktu. Menghadapi sepakan jarak jauh Mateus Uribe, kiper Everton ini sejatinya tak berada dalam posisi yang menguntungkan. Dia butuh dua, tiga langkah untuk melompat dan menepis tendangan Uribe tadi. Dia berhasil. Berkat penyelamatan itu, napas Inggris diperpanjang dan adu penalti pun akhirnya digelar.
Untuk orang Inggris, adu penalti adalah sebuah momok yang begitu mengerikan. Dalam sejarah Piala Dunia, mereka belum pernah sekali pun memenangi babak ini. Di kejuaraan Eropa pun nasib mereka setali tiga uang. Di fase gugur, mereka berulangkali terhenti karena gagal melewati babak tos-tosan seperti kala menghadapi Italia di Euro 2012, Portugal di Euro 2004, atau Jerman di Euro 1996.
ADVERTISEMENT
Narasi adu penalti antara Inggris dan Kolombia sempat membuat para pendukung 'Tiga Singa' ketar-ketir. Bagaimana tidak? Pada gilirannya yang ketiga, Inggris gagal menjebol gawang Kolombia setelah tendangan Jordan Henderson diblok dengan sempurna oleh David Ospina. Namun, kegagalan Henderson itu rupanya hanya menjadi peringatan palsu.
Semua bermula dari Uribe. Pemain ini, secara tidak langsung, memang menjadi 'bintang' kemenangan Inggris. Sebagai penendang keempat Kolombia, Uribe punya kans untuk mendekatkan timnya pada kemenangan. Akan tetapi, setelah tendangan spektakulernya di perpanjangan waktu ditip secara spektakuler oleh Pickford, di babak adu penalti Uribe kembali gagal. Tendangan pemain kelahiran Medellin itu membentur mistar dan bola pun urung masuk ke gawang.
Dari yang tadinya punya keuntungan, posisi Kolombia berubah jadi tim yang tertekan. Apalagi, penendang keempat Inggris, Kieran Trippier, sukses memperdayai Ospina. Beban mahaberat pun tertumpu di pundak Bacca selaku penendang kelima Kolombia.
ADVERTISEMENT
Satu hal yang lucu soal adu penalti adalah bahwa kiper sebenarnya tidak punya beban apa-apa. Lewat kolomnya di Wired, James Temperton menuliskan bahwa dalam sejarah Piala Dunia, keberhasilan eksekusi penalti mencapai angka 70%. Artinya, di situasi seperti itu, seorang kiper hanya bisa melakukan apa yang dia bisa dan setelahnya bertawakal.
Pickford menyelamatkan penalti Carlos Bacca. (Foto: Reuters/Kai Pfaffenbach)
Memang, dalam studi tentang penalti, diketahui ada sebuah tren. Dari sana bisa diketahui kebiasaan seorang pemain dalam menendang bola. Harry Kane, misalnya, lebih kerap menendang ke sisi kanan kiper. Itu bisa dipelajari. Akan tetapi, dalam praktiknya, apa yang sudah dipelajari bisa saja tidak terjadi. Oleh karenanya, lagi-lagi, dalam situasi demikian, seorang kiper tidak bisa dipersalahkan jika kebobolan.
Namun, kisah Pickford ini memang tak ubahnya epos kepahlawanan. Tak salah jika seandainya orang-orang Inggris menyebut dirinya sebagai pahlawan super sekalipun.
ADVERTISEMENT
Menghadapi tendangan Bacca, Pickford sebenarnya sudah salah menebak. Kiper berusia 23 tahun ini memprediksi Bacca bakal menendang ke arah kanan tubuhnya dan ke arah situlah dia bergerak. Namun, Bacca rupanya memilih untuk menendang ke arah tengah. Pickford berpikir cepat. Dalam tempo sepersekian detik, dia memutuskan untuk tidak terlalu jauh terbang ke kanan.
Posisi tubuh Pickford sebenarnya agak canggung ketika itu. Namun, posisi itulah yang rupanya tepat untuk menghentikan sepakan Bacca. Bertumpu pada tangan kanannya, Pickford melakukan gerakan ala breakdance sembari mengangkat tangan kirinya. Dengan tangan kiri itu, bola hasil sepakan Bacca berhasil dia halau dari gawang.
Pickford girang bukan kepalang. Sebuah selebrasi kecil-kecilann dia lakukan di depan gawang. Hanya kecil-kecilan, memang, karena dia tahu semua ini belum berakhir.
ADVERTISEMENT
Video
Sampai akhirnya, datanglah Eric Dier sebagai eksekutor pemungkas Inggris. Dengan ancang-ancang ala kadarnya, gelandang Tottenham Hotspur itu menendang bola ke sisi kanan bawah Ospina. Dier berhasil, Inggris pun berpesta.
Di lapangan, Pickford dikerubungi rekan-rekannya. Mereka semua tahu bahwa kemenangan ini mustahil tanpa penyelamatan gemilang dari kiper yang memulai karier bersama Sunderland tersebut. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, Inggris memenangi adu penalti.
***
Arsene Wenger dan Thibaut Courtois adalah dua orang berbeda dengan kepentingan berbeda pula. Di Piala Dunia 2018, Courtois punya kepentingan bersama Timnas Belgia. Sebagai bagian dari generasi emas kedua Belgia, Courtois punya misi menjadi juara dunia. Sementara itu, kepentingan Wenger di Piala Dunia ini adalah bagaimana mengumpulkan uang sebagai komentator setelah mengundurkan diri dari Arsenal.
ADVERTISEMENT
Orang berbeda, kepentingan berbeda, tetapi Wenger dan Courtois punya opini yang sama terhadap Pickford. Wenger mengatakan bahwa Inggris tidak akan menjadi juara karena 'dia belum pernah melihat tim juara dunia yang memiliki kiper tidak meyakinkan'. Sementara, Courtois menyebut Pickford terlalu pendek untuk jadi seorang kiper hebat.
Lewat penampilannya di laga melawan Kolombia, Pickford menjawab dua sindiran itu dengan aksi gemilang. Courtois bilang dia terlalu pendek. Pickford menjawabnya dengan penyelamatan atas tendangan jarak jauh Uribe. Wenger bilang dia tidak meyakinkan, Pickford merespons dengan membawa Inggris memenangi adu penalti untuk kali pertama sepanjang sejarah Piala Dunia.
Dari dua pernyataan tadi terlihat bahwa Pickford adalah seorang kiper yang dipandang sebelah mata. Salah satu alasannya, barangkali, adalah karena dia hanya bermain untuk Everton. Namun, sebagai dua orang yang lama berkecimpung di Premier League, Courtois dan Wenger seharusnya sama-sama paham bahwa Pickford bukan kiper sembarangan.
ADVERTISEMENT
Pickford saat masih memperkuat Sunderland. (Foto: Reuters/Craig Brough)
Sebagai awalan, mereka semestinya ingat bahwa Pickford adalah kiper termahal Inggris dan kiper termahal ketiga di dunia setelah Gianluigi Buffon serta Ederson Moraes. Pada musim panas 2017 lalu, Pickford bergabung ke Everton dengan nilai transfer 30 juta poundsterling.
Bukan tanpa sebab Everton membeli Pickford. Ketika bermain untuk Sunderland pada musim 2015/16, kiper berpostur 185 cm ini mampu melakukan 135 penyelamatan dengan rasio keberhasilan sampai 73%. WhoScored mencatat bahwa kelebihan kiper satu ini memang ada pada kualitas penyelamatan jarak dekatnya.
Kendati akhirnya tak mampu menyelamatkan Sunderland dari degradasi, Pickford diselamatkan oleh Everton. Bersama The Toffees, Pickford mampu membuat 121 penyelamatan. Ini adalah penyelamatan terbanyak keempat di Premier League musim lalu. Selain itu, dia juga mampu menghasilkan 10 kali nirbobol. Artinya, Pickford sebenarnya memang kompeten. Hanya karena dia tidak bermain di klub enam besar tak lantas membuatnya harus dicoret dari hitungan.
ADVERTISEMENT
Sebagai seorang kiper, Pickford tidak cuma dikenal karena kemampuannya melakukan penyelamatan. Lebih dari itu, dia juga merupakan sosok kiper dengan kualitas distribusi bagus. Ini pula yang menjadi alasan di balik pemilihan dirinya sebagai kiper utama Timnas Inggris. Manajer The Three Lions, Gareth Southgate, memang menginginkan pemain-pemain dengan kualitas olah bola apik di semua posisi.
Kemampuan Pickford dalam melakukan distribusi ini tak bisa dilepaskan dari masa lalunya sebagai seorang gelandang. Kepada The Guardian, Kevin Ball, pelatih akademi Sunderland, bercerita bahwa dahulu Pickford selalu diposisikan sebagai gelandang dalam sesi latihan timnya.
Kiper Everton, Jordan Pickford. (Foto: REUTERS/Dylan Martinez)
“Dahulu saya suka memasang Jordan (Pickford) sebagai gelandang saat latihan, supaya dia paham bagaimana rasanya jadi gelandang saat kiper terbang di atas kepala mereka untuk menghalau umpan lambung. Tak diduga, Jordan menyukai perannya dan saya pikir, dia bisa menjadi seorang gelandang,” ujar Ball.
ADVERTISEMENT
Atribut-atribut itulah yang membuat Pickford memang pantas menjadi kiper nomor satu Inggris. Namanya boleh jadi kurang mentereng, tetapi tidak dengan kualitas penampilannya.
***
Akhir kata, Pickford adalah perlambang dari sebuah harapan. Jika Inggris mampu memenangi adu penalti di Piala Dunia, rasanya tak ada lagi hal yang tak mungkin dilakukan. Namun, jalan Pickford masih sangat panjang. Piala Dunia 2018 belum selesai dan dia masih akan menghadapi lawan-lawan tangguh lain sebelum bisa membawa sepak bola pulang ke rumah.
Selain itu, usianya juga masih sangat muda. Masih teralu banyak kemungkinan yang ada untuk bisa memprediksi secara pasti ke mana kariernya akan berjalan. Akan tetapi, dengan penampilan apik selama berkostum Sunderland, Everton, maupun Timnas Inggris, Pickford seharusnya takkan kekurangan peminat. Toh, tidak semua tim besar (baca: Liverpool) belum memiliki kiper berkualitas.
ADVERTISEMENT
Yang jelas, untuk saat ini biarkanlah Pickford menulis cerita dan membangun momentumnya sendiri. Dengan mengambil langkah yang tepat nantinya, Pickford bisa dengan mudah menjadi penawar rindu Inggris akan kiper yang sungguh-sungguh bisa diandalkan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan