Pencarian populer

Tentang Dosa-dosa Solari (dan Real Madrid)

Solari saat memimpin Madrid di sebuah laga. (Foto: REUTERS/David W Cerny)

Santiago Bernabeu bungkam kala Real Madrid lagi-lagi dipaksa bertekuk lutut dari tim tamu. Kali ini giliran Real Sociedad yang jadi tukang jagalnya. Mereka mengandaskan El Real 0-2 pada pekan ke-18 La Liga, Senin (7/1/2019) dini hari WIB.

Well, ini memang merupakan kekalahan keenam Madrid di ajang liga atau yang pertama pada rezim Santiago Solari. Akan tetapi, tak lantas hasil minor ini menjadi mudah dimaklumi, sebab di pekan sebelumnya Madrid baru gagal mendulang poin penuh karena ditahan imbang Villarreal 2-2.

Perlu diingat bila keruntuhan Julen Lopetegui diawali dari kekalahan dan hasil imbang sebelum menjelma menjadi rentetan hasil negatif yang ditelan Madrid. Masing-masing satu kemenangan dan imbang, serta lima kekalahan yang ditutup dengan keok dengan skor telak 1-5 dari Barcelona.

Sampai di sini, era Solari yang disebut sebagai Renaissance dari rezim Lotepetegui perlu dikhawatirkan. Pelatih kelahiran Rosario itu nyatanya belum mampu membawa Madrid berbaris di tiga besar klasemen La Liga. Alih-alih demikian, Sergio Ramos dan kawan-kawan kini melorot ke peringkat lima karena baru mengantongi 30 angka, 10 poin lebih sedikit dari Barcelona sebagai pemimpin klasemen.

Seperti pendahulunya, Solari juga tak luput dari dosa. Lalu, apa saja kefasikan yang dibuatnya selama memimpin Madrid?

Para pemain Real Madrid meratapi gol Santiago Cazorla pada laga kontra Villarreal. (Foto: Jose Jordan/AFP)

Candu akan Sosok Bale

Ketiadaan Bale, demikian dalih Solari atas hasil buruk yang menjangkit Madrid di tengah pekan lalu. Dia tak mengada-ada, sebab Madrid akhirnya gagal mempertahankan keunggulan dari Villarreal usai Bale ditarik keluar di awal babak kedua karena cedera.

Sudah bukan rahasia lagi bila Bale merupakan pengganti ideal Cristiano Ronaldo. Fisik kuat, kemampuan dribel mumpuni, serta klinis dalam menyelesaikan peluang--baik itu lewat tembakan jarak jauh maupun duel udara--jadi benang merah keduanya. Itulah mengapa jebolan akademi Southampton itu begitu dijadikan tumpuan, seperti Ronaldo.

Ini bukan salah Solari, Lopetegui juga mengalami problem serupa saat kehilangan Bale di pekan-pekan padat September-Oktober lalu. Bila mencari kambing hitam, manajemen Madrid bisa diacungi jari telunjuk atas timbulnya masalah seperti ini.

Salah sendiri mereka ogah-ogahan mencari superstar lain sebagai pengganti Ronaldo. Alhasil, Madrid dengan siapapun pelatihnya, bakal bersandar kepada Bale yang rentan akan cedera itu.

Namun, yang jadi masalah adalah bagaimana cara Solari menanggapi ketiadaan mantan penggawa Tottenham Hotspur itu. Saat laga Villarreal misalnya, Madrid kudu menarik keluar Bale di awal babak kedua karena mengalami cedera.

Pada akhirnya Solari memasukkan Isco, yang secara karakteristik cukup ideal untuk menjaga kreativitas Madrid. Namun, di sisi lain, Solari justru menarik keluar Luka Modric dan Toni Kroos.

Gareth Bale dan Santiago Solari usai Real Madrid mengalahkan Kashima Antlers di semifinal Piala Dunia Antarklub. (Foto: REUTERS/Andrew Boyers)

Bukan hanya mengurangi dominasi Los Blacos di area sentral, hilangnya kedua gelandang itu praktis membuat Casemiro menjadi penyeimbang tunggal di lini tengah. Pasalnya, Vinicius Junior serta Federico Valverde yang masuk menggantikan keduanya bukanlah tipikal pemain dengan atribut bertahan mumpuni. Toleh saja gol Santiago Cazorla di menit 82, cukup merepresentasikan betapa buruknya peran gelandang Madrid dalam melindungi back-four.

Isco

Dosa terbesar Solari, ya, menyia-nyiakan bakat Isco. Sejak diangkat sebagai pelatih tetap 29 Oktober lalu, cuma sekali Solari memasang Isco sebagai starter, saat berhadapan dengan Kashima Antlers di Piala Dunia Antarklub lalu. Bila ditotal, gelandang jenius itu cuma mengukir durasi mentas sebesar 302 menit selama Solari berkuasa.

Pelatih berusia 42 tahun itu memang sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menyisihkan Isco di awal kedatangannya. Eks penggawa Malaga itu tak diturunkan pada laga perdana Solari, saat Madrid bertandang ke markas UD Melilla pada ajang Copa del Rey akhir Oktober lalu.

Isco baru dipersilakan merumput kala Madrid menjamu Real Valladolid di pekan 11, itu pun berangkat dari bangku cadangan. Meski begitu, dia berhasil memecah kebuntuan dengan menyumbang sebiji assist kepada Vinicius di menit 83. Keunggulan Madrid kemudian bertambah lima menit berselang usai Ramos mencetak gol dari titik penalti.

Solari bukannya tanpa alasan mencadangkan Isco. Operasi usus buntu yang sempat dijalani pemain dengan 34 caps bersama Tim Nasional Spanyol itu jadi acuannya. Akan tetapi, tetap saja mengesampingkan pemain seperti Isco dalam durasi yang lama akan menimbulkan pertanyaan besar.

Sulit dimungkiri bahwa Isco adalah instrumen penting di balik kesuksesan Madrid bersama Zinedine Zidane. Sebagai gambaran, Isco menjadi personel ketiga Madrid yang paling intens melepaskan umpan kunci di La Liga musim 2017/18 dengan rata-rata 1,6 per laga, hanya kalah dari Kroos dan Marcelo. Torehan assist-nya di pentas pun menyentuh angka 7, cuma bisa dikalahkan Karim Benzema.

Belum lagi dari segi gol yang juga mencapai 7, torehan yang membawa Isco menjadi produsen gol terbanyak selain Ronaldo dan Bale. Lopetegui tahu betul akan hal itu. Makanya, dia begitu mengandalkan Isco sebagai motor serangan Madrid--selain Bale.

Wajar saja, dengan hilangnya Ronaldo, praktis Madrid akan kehilangan sosok pengacau pertahanan lawan selain juru gedor. Itulah mengapa Isco diberikan peran free-role, demi merusak koordinasi pertahanan lawan. Sebab pemain berusia 26 tahun itu tak hanya mampu melakukan pentrasi di sisi tepi, tetapi juga pada area sentral.

Perayaan gol para penggawa Madrid. (Foto: OSCAR DEL POZO / AFP)

Bila Bale menjadi algojo dan tukang penetrasi dari sisi tepi, peran Isco sedikit berbeda. Dia merupakan penyalur serangan dari sektor belakang ke depan, memanfaatkan celah dari lini kedua--selayaknya figur playmaker murni-- menghidupkan peran Modric dan juga Kroos.

Kelebihan Isco ini yang tak dimiliki Vinicius, Lucas Vazquez, Dani Ceballos, atau Marco Asensio sekalipun. Pemain yang disebut belakangan bahkan urung mengukir gol atau assist di era kepemimpinan Solari.

Hal paling mendasar untuk melanjutkan kerberhasilan Zidane adalah dengan meniru, baru kemudian memodifikasinya. Bisa dibilang, satu hal yang dilewatkan Solari adalah dengan memfungsikan Isco sebagai kreator seragan Madrid, sebagaiman yang pernah dilakukan Zidane dan juga Lopetegui.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23