kumparan
2 Mei 2019 18:31 WIB

Tentang Serangan Jantung yang Dialami Iker Casillas Itu

Kiper legendaris Spanyol, Iker Casillas. Foto: Reuters/Andrew Yates
Iker Casillas sudah terbiasa berhadapan satu lawan satu dengan bahaya. Posisinya sebagai kiper menuntutnya untuk bersiaga sendirian di depan gawang, menjadi palang pintu terakhir yang melindungi tim dari kemasukan gol dan kekalahan.
ADVERTISEMENT
Tapi, ada lawan yang jauh lebih mengerikan ketimbang sepakan Lionel Messi atau kekalahan di laga final. Bagi Casillas, lawan yang kelewat mengerikan itu bernama serangan jantung. Malah, serangan jantung tak cuma menjadi lawan, tapi musuh yang bukannya tak mungkin merenggut nyawanya.
Kabar horor ini dikonfirmasi oleh FC Porto. Lewat pernyataannya, Porto menjelaskan bahwa Casillas terkena serangan jantung akut saat melakoni sesi latihan pada Rabu (1/5/2019), pagi waktu Portugal. Sesi latihan langsung dihentikan demi memberi pertolongan cepat dan intensif kepada Casillas.
Porto juga mengonfirmasi bahwa kondisi Casillas kini sudah membaik dan sedang menjalani proses pemulihan di Rumah Sakit CUF Porto. Namun demikian, musim 2018/19 bagi Casillas sudah selesai. Serangan jantung ini memaksanya untuk beristirahat sampai kondisinya benar-benar stabil.
ADVERTISEMENT
Sepintas, atlet dan serangan jantung ibarat dua kutub yang rasanya tak mungkin bakal beririsan. Imej atlet sebagai manusia-manusia dengan kondisi fisik prima yang melahirkan argumen tersebut.
Menurut rilis resmi Porto, Casillas mengalami acute myocardial infarction atau infark miokard akut. Penyumbatan pembuluh darah menuju jantung ini umumnya dapat terjadi akibat penumpukan plak yang terdiri dari kolesterol, lemak, dan sisa metabolisme.
Lewat jurnal berjudul Heart Attack Risks Greater for Athletes Competing in Endurance Sports yang ditulis oleh Andrew Hamilton dijelaskan bahwa atlet juga berpotensi besar mengalami kondisi ini. Hasil penelitian ini tentu menimbulkan pertanyaan besar. Toh, gaya hidup sehat, seperti tidak merokok, menjaga pola makan, tidur cukup, dan olahraga, menjadi saran yang acap muncul soal menghindar dari serangan jantung.
ADVERTISEMENT
Yang pasti, lewat jurnal itu dijelaskan bahwa orang yang melakukan endurance sports termasuk latihan endurance, mengalami peningkatan enzim troponin. Enzim ini merupakan molekul protein yang menjadi bagian dari otot rangka dan otot jantung. Troponin memiliki tiga subunit: troponin C, troponin I, dan troponin T. Dua subunit troponin terakhir sering digunakan untuk mendeteksi kerusakan jantung.
Iker Casillas dan para pemain Porto menjalani sesi latihan jelang laga melawan Porto. Foto: Reuters/Jason Cairnduff
Dalam jurnal itu dijelaskan, pernah dilakukan penelitian pada 38 atlet pria lomba radmarathon alias balap sepeda sejauh 230 km di Austria. Setelah mengikuti kompetisi, kadar triponin I mereka meningkat sebesar 13%.
Pesepak bola adalah olahraga yang menuntut aktivitas fisik tinggi. Saat bertanding, mereka bisa menempuh jarak lebih dari 10 km. Itu belum ditambah dengan aktivitas saat latihan, entah itu fisik maupun teknik. Itulah sebabnya, pemeriksaan rutin begitu dibutuhkan, terlebih enzim triponin bertahan selama satu hingga dua minggu dalam tubuh.
ADVERTISEMENT
Persoalannya, masalah jantung yang acap menimpa pesepak bola bukan cuma serangan jantung seperti yang dikonfirmasi Porto terjadi pada Casillas. Ada lagi yang namanya henti jantung atau biasa dikenal dengan istilah cardiac arrest.
Jantung memiliki sistem elektrik internal yang mengendalikan ritme detak jantung. Beberapa masalah dapat menyebabkan ritme jantung yang abnormal, disebut dengan aritmia.
Selama aritmia, jantung dapat berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau berhenti berdetak. Sudden cardiac arrest (SCA) muncul saat jantung mengalami aritmia yang menyebabkan berhentinya jantung. Nah, serangan jantung seperti Casillas juga dapat memicu terjadinya cardiac arrest.
Cardiac arrest adalah penyebab meninggalnya penggawa Benfica, Miklos Feher, pada 25 Januari 2004. Pemain mana pun yang diperbolehkan untuk turun arena adalah pemain dengan kondisi fisik sehat. Namun, maut memang mengancam dalam diam.
ADVERTISEMENT
Kejadian horor ini muncul pada menit 91, saat Benfica sudah unggul 1-0 atas Guimares. Sesaat sebelum kolaps, Feher bahkan menyunggingkan senyuman. Penyebabnya, ia diganjar kartu kuning karena wasit menilainya mengulur-ulur waktu.
Namun, siapa pula yang menyangka itu menjadi senyuman terakhir Feher? Seketika, Feher tumbang, tergeletak di lapangan. Sontak para pemain dan tim medis berdatangan ke arahnya, mencegah agar lidahnya tak tertelan hingga akhirnya mobil ambulans membawanya ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, nyawa Feher tidak tertolong.
Tiga jam setelah kejadian, konfirmasi soal apa yang menjadi penyebab kematian Feher dirilis. Dari situ diketahui bahwa Feher meninggal akibat sudden cardiac arrest yang dipicu oleh aritmia akibat hypertrophic cardiomyopathy (HCM).
Dalam jurnal berjudul Football Stadium Defibrillators for Cardiac Arrest yang ditulis oleh Profesor Gaetano Thiene dan rilis pada 2009, dijelaskan apa yang dimaksud dengan HCM.
ADVERTISEMENT
Sebelum jauh, HCM adalah satu dari beberapa tipe cardiomyopathy (kardiomiopati). Ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan miokardium atau otot jantung. Pada kondisi ini, terdapat kelainan struktur dan fungsi otot jantung tanpa adanya penyakit jantung koroner, hipertensi, atau kelainan katup jantung.
Sebagian besar HCM diakibatkan oleh kondisi genetik yang menurun di dalam keluarga dan dapat terjadi pada segala usia. Gangguan timbul akibat penebalan otot jantung secara abnormal, khususnya pada ventrikel kiri jantung, yaitu ruang jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Penebalan ini mengakibatkan jantung menjadi sulit untuk memompa darah.
Apa yang dialami mendiang Feher juga dialami oleh pemain Timnas Kamerun, Marc-Vivien Foe. Peristiwa muram ini terjadi saat Kamerun berlaga melawan Timnas Kolombia di Piala Konfederasi 2003. Serupa Feher, Foe kolaps di lapangan. Foe sempat mendapat perawatan intensif di rumah sakit, tapi nyawanya tetap tak tertolong.
ADVERTISEMENT
Begitu pula yang terjadi dengan penggawa Livorno, Piermario Morosini, pada 14 April 2012. Kala itu, Livorno sedang berlaga melawan Pescara di kompetisi Serie B. Yang menjadi pemicu SCA pada Morosini bukannya HCM seperti Feher dan Foe, tapi arrhythmogenic right ventricular cardiomyopathy (ARVC).
Dibandingkan dengan tipe yang lain, kasus ARVC tergolong jarang. Kasus ini muncul akibat mutasi pada satu gen atau lebih. Kondisi ini menimbulkan kelainan pada protein yang merekatkan sel otot jantung sehingga menimbulkan kematian sel. Karena sel otot jantung mati, lemak datang sebagai pengganti. Akibatnya, dinding ruang jantung menjadi tipis dan meregang.
Kondisi ini membuat irama jantung menjadi tidak beraturan serta tidak sanggup memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik. Apa yang terjadi pada Morosini juga menimpa bek Sevilla, Antonio Puerta, pada Agustus 2007.
ADVERTISEMENT
Kabar baiknya, tak semua pesepak bola yang mengalami SCA tidak tertolong. Fabrice Muamba adalah buktinya. Saat membela Bolton Wanderers berlaga melawan Tottenham Hotspur di perempat final Piala FA, 24 Maret 2012. Muamba kolaps saat laga yang digelar di White Hart Lane ini berjalan 43 menit. Penggawa Spurs, Rafael van der Vaart, menjadi orang pertama yang menyadari kejadian ini.
Amy Lawrence, jurnalis The Guardian yang berada di lokasi, menggambarkan seperti apa fragmen tersebut. Menurut pengamatannya, Muamba langsung terjatuh.
Ia tidak melihat Muamba memegang dada kirinya atau jatuh berlutut. Ia langsung tergeletak begitu saja dalam posisi tengkurap seperti pohon tumbang. Belakangan dikonfirmasi bahwa Muamba mengalami SCA yang dipicu oleh HCM.
ADVERTISEMENT
“Ia terjatuh seperti gerakan slow motion, wajahnya menghadap tanah yang mana sudah menandakan ada sesuatu yang tak beres. Insting saya mengatakan ada yang benar-benar tidak beres,” seperti itu cerita fisioterapis kepala Bolton waktu itu, Andy Mitchell, kepada Vice. Maka, tanpa meminta izin Howard Webb, wasit yang memimpin laga, Mitchell berlari kencang masuk ke lapangan.
Laporan medis menjelaskan bahwa jantung Muamba berhenti berdetak selama 78 menit. Pada dasarnya, Muamba saat itu sudah seperti tak bernyawa. Namun, pada akhirnya nyawa Muamba tertolong.
Tak cuma akibat penanganan intensif di rumah sakit, tapi juga karena pertolongan pertama berupa CPR yang didapatnya plus dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan ambulans. Itulah sebabnya, ambulans dengan perlengkapan medis lengkap menjadi keharusan.
ADVERTISEMENT
Bagaimanapun, pertolongan pertama menjadi kunci utama. Menit demi menit yang terbuang sebelum prosedur CPR begitu berarti. Tak jarang, keterlambatan penanganan membuat kondisi semakin buruk, bahkan menyebabkan kematian. Setiap menit yang terbuang bahkan diestimasi membuang harapan hidup sebesar 10%.
Berangkat dari sini, stadion mewah tanpa peralatan dan tim medis lengkap sama saja dengan kebohongan besar. Bagaimanapun, kejayaan, tumpukan gelar, dan kemewahan tak akan ada artinya selama klub tak sanggup menjaga keselamatan siapa-siapa yang ada di dalamnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·