Pencarian populer

The Reykjavik Grapevine dan Alasan Sepak Bola Islandia Berpendar

Islandia bukan cuma Sigur Ros dan Bjork. (Foto: Karl Peterson/AFP)

The Reykjavik Grapevine bukanlah majalah yang besar. Mereka hanya menerbitkan 25 ribu kopi setiap edisinya dan biasanya terdiri atas 48 halaman. Mereka juga membagikan majalahnya dengan gratis. Melihat senjakala media cetak saat ini, siapa yang yakin majalah gratisan ini bisa memuaskan nafsu pembacanya?

Majalah ini diisi oleh konten yang berbau Islandia. Mereka berfokus pada persoalan sehari-hari umat manusia, musik, budaya, serta acara-acara alternatif. Menurut situs mereka, tujuan utama majalah ini adalah untuk menjadi media yang lazim dibaca oleh turis yang datang ke Islandia.

Juni 2016 lalu, The Reykjavik Grapevine mengejutkan dunia. Selayaknya media massa pada umumnya, mereka membahas Euro 2016. Masalahnya, pendekatan yang mereka lakukan tak lazim. Mereka memilih untuk membela Islandia, negara asal mereka, dan menolak bersikap obyektif, selayaknya media yang lain.

Emosi tumpah di seluruh cuitan di akun Twitter resmi milik mereka. Menghadapi Portugal, dalam laga perdana Islandia di Euro 2016, mereka mengklaim lawan berada di bawah tekanan karena sedang berhadapan dengan ksatria-ksatria Nordik.

Tak hanya itu, mereka juga kerap menyebut pemain Portugal yang kerap melakukan diving karena terlalu takut bersentuhan dengan pemain Islandia. Puncaknya, mereka memuji semangat tanding pemain Islandia dan memberi kritik pemain Portugal, yang dianggap terlalu memandang lemah lawannya.

Euro 2016 menjadi penantian panjang sepak bola Islandia di kompetisi akbar antarnegara. Dan, rasanya cukup wajar jika The Reykjavik Grapevine dan Islandia begitu bangga melihat penampilan Timnas Islandia di Euro 2016.

Secara jumlah penduduk, Islandia mungkin negara dengan jumlah penduduk tersedikit yang bermain di Euro 2016. Namun, melihat penampilan mereka secara keseluruhan, mungkin Islandia adalah negara dengan mental terbaik yang bermain di Euro 2016.

Sepak bola memang menjadi obyek yang belakangan berkembang di Islandia. Lima tahun yang lalu, Islandia boleh dihina karena berada di urutan ke-100 di ranking FIFA, tetapi, sekarang mereka menanjak drastis berkat penampilan yang mengejutkan dunia di Euro 2016.

Perkembangan peringkat sepak bola Islandia tak bisa dijauhkan dari tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Islandia beserta Federasi Sepak Bola Islandia (KSI). Mereka tak hanya ingin sepak bola Islandia berkembang, tetapi juga bisa dinikmati.

Akhir 2000-an, pemuda-pemudi yang memiliki minat lebih di sepak bola patungan untuk belajar sepak bola di Inggris. Pengiriman ini dilakukan secara bertahap dan difungsikan sebagai sarana untuk belajar bagaimana mengatur sepak bola dengan profesional.

Beberapa tahun berikutnya, pemerintah mengucurkan dana yang tak kecil untuk pembangunan stadion indoor di beberapa kota. Masalah stadion memang menjadi kendali mendasar sepak bola Islandia. Pasalnya, di Reykjavik, suhu rata-rata bisa mencapai 0 hingga -10 derajat celcius.

Dengan begitu, sepak bola tetap bisa berjalan bahkan ketika suhu udara menyentuh titik paling dingin sekalipun. Keterbatasan, memang, semestinya ditanggapi dengan berbagai solusi, bukan keluhan menyebalkan.

Pembangunan pusat pelatihan sepak bola bernama Breidablik jadi langkah berikutnya. Di komplek ini, anak-anak Islandia belajar bermain sepak bola. Sebagai satu-satunya sarana pelatihan, Breidablik menghasilkan beberapa pemain muda berkualitas, salah satunya adalah Gylfi Sigurdsson.

Tak berhenti sampai di sana. Banyaknya bakat sepak bola coba mereka kirim ke kesebelasan besar demi memperoleh ilmu dasar. Beberapa pemain muda berbakat asal Islandia bahkan didatangkan lewat biaya yang sepenuhnya dibayarkan oleh KSI.

Persoalan primer pada akhirnya berhasil diatasi. Tugas Islandia pada akhirnya —hingga tahun 2000-an— hanya mencari pelatih berkualitas. Setelah menyaring beberapa nama, dipilihlah Lars Lagerback, pria yang berpengalaman melatih kesebelasan-kesebelasan asal Skandinavia.

Pemilihan Lagerback pada 2011 menuai buahnya di kualifikasi Piala Dunia 2014. Saat itu, Islandia tampil di atas ekspektasi banyak orang dan berhasil mengakhiri kualifikasi dengan status runner-up Grup E di bawah Swiss.

Para pemain Islandia di Euro 2016. (Foto: Valery Hache/AFP)

Pujian yang dihaturkan kepada Lagerback tak membuatnya besar kepala. Menurutnya, kesuksesan Islandia berkat kepercayaan besar yang diberikan oleh KSI dan pemerintah Islandia, tak peduli bagaimana hasil di lapangan.

"Mereka (KSI) tak memberikan target ketika menunjuk saya sebagai pelatih kepala. Hal tersebut membuat saya dan para pemain selalu bermain di tanpa beban karena tak pernah ditugaskan untuk mencapai babak play-off,” kata Lagerback.

Tak hanya soal target, Lagerback juga bercerita bahwa keberhasilan Portugal di Euro 2016 adalah buah dari tingkat pendidikan pemain yang tinggi. Selain itu, ia juga terbantu dengan ilmu sepak bola oleh staf di belakangnya.

“Salah satu alasan mengapa sepak bola di sini berkembang adalah karena pemain Islandia memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Sepak bola tak dianggap sebagai pekerjaan di sini dan mereka memperlakukan pendidikan sebagai hal yang tak bisa dinafikan,” kata Lagerback.

“Hal kedua yang membuat Islandia berjaya adalah ilmu staf sepak bola di sini. Selain rata-rata masih berusia muda dan memiliki pengalaman di kesebelasan-kesebelasan besar, mereka juga mau menerima hal baru. Inilah yang membuat sepak bola Islandia berjaya,” lanjutnya.

Keberhasilan Islandia menyelesaikan semua masalah primer membuat mereka mencapai Euro 2016. Di kompetisi empat tahunan itu, Islandia membuktikan bahwa kerja sama kelompok bisa mengubah hal yang tak mungkin sekalipun.

Austria dan Republik Irlandia menjadi korban Islandia di Euro 2016. Di sisi lain, Portugal dan Hongaria, yang kelasnya jauh di atas mereka, hanya mampu bermain imbang. Kegemilangan Islandia harus berhenti di Prancis, yang pada akhirnya menjadi runner-up.

Timnas Islandia disambut bak pahlawan. (Foto: Karl Petersson/AFP)

Penampilan Islandia di Euro 2016 selayaknya halaman pertama di sebuah buku tulis. Masih banyak halaman lain yang bisa dibuat oleh Islandia, termasuk mewujudkan mimpi semua negara: menjadi yang terbaik di dunia.

Kalau mimpi itu masih kejauhan, ada satu lagi mimpi yang bisa direalisasikan oleh Islandia, yakni lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Sejauh ini, mimpi tersebut mendekati kenyataan. Hingga tersisa dua pertandingan, Islandia duduk di posisi kedua Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2018 dengan nilai 16 —sama dengan nilai yang dimiliki Kroasia si pemuncak klasemen.

Ada dua laga lagi yang akan dilakoni Islandia, menghadapi Turki dan Kosovo. Jika akhirnya lolos langsung, bolehlah kita berharap reaksi yang sama meledaknya dari The Reykjavik Grapevine tahun depan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23