kumparan
10 Jun 2018 16:45 WIB

Tugas Southgate: Membiarkan Pemain-pemain Mudanya Mewujudkan Mimpi

Manajer Timnas Inggris, Gareth Southgate. (Foto: Reuters/Carl Recine)
Timnas Inggris melakoni Piala Dunia 2018 dengan cara yang berbeda. Kali ini, mereka membuka pintu lebar bagi pemain-pemain muda untuk bertanding di Rusia. Gareth Southgate, sang pelatih, mengambil langkah berani. Ia memutuskan tidak mengikutsertakan beberapa nama veteran seperti Joe Hart, Ryan Bertrand, hingga Chris Smalling dalam skuat Piala Dunia-nya.
ADVERTISEMENT
Malah, ada satu pemain, Trent Alexander-Arnold, yang sama sekali belum pernah mengenakan kostum The Three Lions. Menurut Southgate, ia memang tak tertarik untuk menjadi pesaing serius di Piala Dunia 2018.
Dalam satu wawancara terbarunya ia menjelaskan, target Inggris di pesta sepak bola sejagat kali ini cukup menjejak di perempat final. Alih-alih mengemban ambisi menjadi juara dunia, pelatih yang sempat menangani Timnas Inggris U-21 itu lebih tertarik untuk merencanakan masa depan.
Transfermarkt mencatat, rata-rata usia pemain Timnas Inggris yang diikutsertakan ke Piala Dunia adalah 26 tahun. Dengan kondisi seperti itu, tentu Southgate bisa mempersiapkan Timnas Inggris untuk menjadi kandidat juara di Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022.
Pemain muda yang minim pengalaman dan memiliki banyak kekurangan tak serta-merta membikin Southgate menjadi pelatih picik. Sebagai pelatih, ia tetap mendukung optimisme yang sedang dihidupi oleh pemain-pemain mudanya jelang laga Piala Dunia 2018. Bagi Southgate, hanya karena Inggris diisi dengan pemain-pemain muda, bukan berarti mereka tak punya kesempatan untuk melakoni laga dengan brilian.
ADVERTISEMENT
"Mengapa saya harus membatasi apa-apa yang mereka anggap tidak mustahil? Tugas saya di sini adalah untuk membiarkan orang-orang menjalani dan menghidupi mimpinya. Buatlah hal-hal yag terlihat mustahil menjadi mungkin."
"Tak ada satu pun dari kami yang bangun tidur hanya untuk tersingkir dengan cepat dari turnamen. Mereka sedang ada di usia produktif dan memiliki rasa lapar untuk menang, antusiasme, kualitas yang tak main-main. Jadi, mereka bisa berkembang," tegas Southgate, mengutip The Guardian.
"Kami harus memperbaiki diri untuk mencapai level yang lebih tinggi. Ini bukan pekerjaan mudah, membutuhkan kerja keras, dan komitmen tinggi. Namun, sekarang saya sedang melihat bukti bahwa tim bersedia untuk menerima tantangan yang tak mudah ini."
Timnas Inggris merayakan gol. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
Yang dinilai Southgate sebagai anumisi terbaik tim untuk berlaga di Rusia tak hanya optimisme dan keterbukaan untuk berkembang, tapi juga keberanian anak-anak didiknya untuk melawan persoalan yang tak berhubungan langsung dengan teknis dan taktik sepak bola, seperti rasialisme.
ADVERTISEMENT
Belakangan, santer terdengar kabar tentang Danny Rose yang mengaku melarang keluarganya untuk berangkat ke Rusia dan menontonnya bertanding di Piala Dunia. Southgate yang mengetahui kabar ini tak tinggal diam. Ia mengumpulkan anak-anak asuhnya dan berbicara tentang persoalan rasialisme.
"Kami belajar untuk terbuka menyoal hal ini. Saya membiarkan mereka berbicara seperti apa perasaan dan pendapat mereka tentang masalah rasialisme ini. Kami mendiskusikan situasi apa yang mungkin saja bisa kami hadapi di Piala Dunia nanti."
"Koneksi antara pemain sebagai tim dibutuhkan dalam perkara seperti ini. Saya sadar ini bukan waktu-waktu yang bisa membuat kami merasa nyaman, tapi tak ada waktu yang lebih tepat daripada sekarang untuk membangun kebersamaan dalam tim," jelas Southgate.
ADVERTISEMENT
"Dari hasil diskusi dan sesi kami, saya menyadari siapa-siapa saja yang sebenarnya ada di tim saya ini. Yang saya saya tekankan kepada mereka adalah, siapa pun yang ada di sebelah mereka saat ini (rekan setim -red), mereka harus ada di sana untuknya, harus mendukungnya, harus bersedia setiap saat ia akan mengoper bola dan melindunginya dari adangan lawan dan kesalahan," tuturnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan