Pencarian populer

Wasit dan Sederet Keputusan Kontroversial di Pekan-pekan Awal Liga 1

Ilustrasi wasit Foto: taniadimas

Musim baru, tetapi kisah klasik masih terus berdengung. Begitulah adanya kompetisi sepak bola Indonesia.

Napas dan cita-cita baru dilontarkan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator. Apalagi, musim ini kompetisi mendapatkan sponsor yang baru. Akan tetapi, hanya permukaan saja yang baru karena cerita masih sama saja.

Lagu lama perihal kusutnya jadwal sudah terjadi di awal. Awalnya, PT LIB menginginkan kompetisi digelar pada 8 Mei 2019. Namun, dengan berbagai kepentingan, sepak mula mundur menjadi 15 Mei 2019.

Ketika sudah berjalan, kondisi seperti musim-musim sebelumnya tak kunjung berubah. Kritikan terhadap kinerja wasit datang bertubi-tubi. Padahal, baru sekitar 18 pertandingan berjalan.

PSSI pun berang melihat kenyataan itu. Wasit yang dianggap tak becus memimpin laga segera dievaluasi oleh PSSI.

"Pada pekan ini kami memanggil tujuh wasit yang sudah bertugas pada pekan kesatu dan kedua Shopee Liga 1 2019. Evaluasi kami akan lakukan bersama Komite Wasit. Kami juga mengumpulkan laporan teknis dari penilai wasit (referee assessor PSSI) sebagai salah satu bahan dari evaluasi," kata Sekjen PSSI, Ratu Tisha.

Memangnya, apa saja, sih, kontroversi yang terjadi di Liga 1? Berikut ulasan singkat dari sejumlah insiden yang melibatkan korps berbaju hitam tersebut.

Itu Onside, Sit!

Keputusan elementer seperti menentukan off-side atau tidak tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah di kompetisi Tanah Air. Di pertandingan pembuka yang mempertemukan PSS Sleman vs Arema saja, terdapat sejumlah keputusan off-side yang bikin geleng-geleng kepala.

Ambil contoh, pada menit ke-10, ketika Dendi Santoso mendapat bola di dalam kotak penalti PSS. Dendi dianggap off-side oleh asisten wasit. Padahal, dari tayangan ulang, masih ada pemain PSS di belakang Dendi. Kami mencatat setidaknya keputusan off-side yang keliru ini terjadi sebanyak dua kali di laga pembuka.

Kemudian, di pertandingan Persebaya vs Kalteng Putra juga terjadi keputusan serupa. Damian Lizio yang berada sejajar dengan bek Kalteng Putra, malah dianggap off-side oleh asisten wasit yang bertugas. Jadilah, peluang Persebaya tersebut terbuang.

Terlambat Kartu Kuning untuk Dimas Galih

Persebaya gagal meraup tiga angka di pertandingan kandang perdana mereka di Liga 1 2019. Menjamu Kalteng Putra, 'Bajul Ijo' hanya bermain imbang dengan skor 1-1.

Di laga ini, wasit Dwi Purba yang memimpin laga mendapat sorotan. Sebab, wasit dinilai melakukan dua keputusan yang kontroversial.

Perdana, wasit telat memberikan kartu kuning kepada penjaga gawang Kalteng Putra, Dimas Galih. Padahal, Dimas melakukan segala upaya untuk menunda jalannya laga.

Cedera dan memilih tempat untuk menendang goal kick menjadi kegiatan yang dilakukan Dimas. Tapi, wasit memberikan kartu kuning pada menit akhir pertandingan.

Selain itu, wasit juga tidak mengesahkan gol dari Irfan Jaya di masa injury time. Wasit menganulir golnya karena pelanggaran kendati tak jelas pelanggaran siapa yang ditiup oleh Dwi Purba di laga itu.

Injak Pemain Tidak Kartu Merah

Duel Barito Putera vs Persija di pekan perdana Liga 1 juga tak lepas dari kontroversi. Tepatnya di menit ke-41 kontroversi itu terjadi.

Perebutan bola antara Sandi Suthe dan Evan Dimas di lini tengah menjadi awalannya. Evan yang sedang membawa bola ditekel jatuh oleh Sandi.

Sandi lalu bangun dan kemudian menginjak Evan. Mantan pemain Bhayangkara FC itu lalu berguling kesakitan usai diinjak oleh Sandi.

Namun, wasit tak berani memberikan kartu merah kepada Sandi. Iwan Sukoco yang menjadi pengadil hanya memberikan kartu kuning kepada gelandang Persija itu.

Wasit Dikelabui oleh Diving

PSS Sleman diuntungkan oleh wasit manakala menjamu Semen Padang pada akhir pekan lalu. Insiden tersebut terjadi pada menit ke-71, Kushedya Hari Yudo, menggiring bola di kotak penalti Semen Padang. Lalu, mantan pemain Kalteng Putra ini terjatuh kendati Muhammad Rifqi yang membayanginya tak melakukan sentuhan kepada Yudo.

Armyn Dwi Suryathin yang memimpin laga langsung memberikan hadiah penalti untuk PSS. Protes pun dilakukan oleh para pemain-pemain Semen Padang, namun wasit tetap pada keputusannya.

Penalti tetap diberikan dan Brian Ferreira sukses melakukan tugasnya dengan baik. PSS selamat dari kekalahan setelah mengakhiri laga dengan skor imbang 1-1.

Hand Ball tapi Tidak Penalti

Pertandingan PSIS vs Persija Jakarta yang berlangsung, Minggu (26/5/2019) juga tak lepas dari kontroversi. Fragmen itu terjadi di babak kedua tepatnya pada menit ke-79.

Persija yang tertinggal 2-1 terus menerus melancarkan serangan ke pertahanan PSIS. Sepak pojok pun diberikan lalu kemelut terjadi dan pemain PSIS, Rio Saputra menyentuh bola dengan tangannya.

Marko Simic, Ryuji Utomo, dan Steve Paulle mengangkat tangannya seraya memberi tahu wasit bahwa offside. Namun, Yudi Nurcahya yang menjadi pengadil membiarkan kejadian tersebut dan tetap melanjutkan pertandingan.

Untuk kasus ini, kumparanBOLA telah membahasnya, Senin (27/5) kemarin. Dengan mengacu kepada Laws of The Game pasal 12 tentang 'Fouls and Missconduct', keputusan Yudi tak memberikan penalti untuk Persija sudah tepat.

Lantas, apa pertimbangan Yudi untuk tak meniup kejadian itu dengan pelanggaran? Kami juga telah melakukan konfirmasi langsung kepada wasit berlisensi FIFA tersebut.

Last Man Tackle Hanya Kartu Kuning

Paling anyar kontroversi terjadi di pertandingan Arema FC vs Persela Lamongan, Senin (27/5/2019) malam WIB. Kejadian itu terekam pada menit ke-41 kala striker Persela, Alex Goncalves, sedang menggiring bola menuju kotak penalti Arema.

Artur Cunha berhasil dilewati oleh Alex yang membuatnya tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Arema, Utam Rusdiana. Namun, dari belakang Hamka Hamzah melakukan tekel yang mengenai kaki Alex yang langsung tersungkur. Tendangan bebas diberikan wasit tetapi Hamka hanya diberikan kartu kuning.

Kejadian ini lantas membuat pelatih Persela, Aji Santoso, misuh-misuh. Bagi Aji, sudah selayaknya wasit memberikan kartu merah kepada Hamka.

"Lihat saja ketika wasit tidak mengartumerahkan Hamka (Hamzah) saat menekel (Alex) Goncalves dari belakang. Posisinya kan sudah jelas-jelas Alex sudah melewati Arthur Cunha dan posisi satu lawan satu sama penjaga gawang. Tapi, tekel dari belakangnya Hamka malah kartu kuning saja," ujar Aji usai laga.

***

Well, baru saja dimulai namun kompetisi Liga 1 2019 sudah dijejali beragam kontroversi. Maka tak heran, PSSI selaku federasi menginginkan penggunaan teknologi VAR pada kompetisi tertinggi sepak bola itu.

Namun, apakah infrastruktur dan sumber daya manusianya sudah siap menggunakan teknologi termutakhir itu?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61