kumparan
4 Feb 2019 7:36 WIB

Fakta Menarik di Balik Kue Keranjang

Kue keranjang simbol eratnya hubungan kekeluargaan Foto: Thinkstock
Kue keranjang pun menyimpan fakta menarik yang sayang untuk dilewatkan. Tahun Baru Imlek di depan mata. Pernak-pernik khas Imlek pun bisa dengan mudah kita temukan. Salah satu yang erat kaitannya dengan Imlek adalah kue keranjang. Khusus kue yang satu ini, ada kisah menarik di baliknya. Yuk, simak aneka fakta di balik manisnya kue keranjang. Masuknya Kue Keranjang ke Indonesia
Proses Pembuatan Kue Keranjang Foto: Dok. Novan Nurul Alam
Sebenarnya belum bisa dipastikan kapan tepatnya kue keranjang menjadi bagian dari kuliner Indonesia. Sejarawan dari Semarang, Jongkie Tio, memperkirakan masuknya kue keranjang ke Indonesia bersamaan dengan masuknya orang Tionghoa ke Indonesia sekitar tahun 400-an. "Tionghoa itu masuk Indonesia tahun 400-an. Saat itu masih pria yang datang. Kalau di Semarang itu mendaratnya di daerah Mangkang. Nama Mangkang itu dari nama kapal China Wangkang," papar Jongkie. Kue lengket itu, sambung Jongkie, merupakan hantaran wajib di kelenteng. Tradisi membawa kue keranjang ini diawali oleh para pelaut Tionghoa yang ketika berlabuh, mereka akan mendirikan kelenteng kecil untuk berterima kasih pada Dewa Bumi. "Orang Tionghoa kalau mendarat berterima kasih pada Dewa Bumi, membuat kelenteng. Di daerah pantai pasti ada kelenteng kecil," katanya. Filosofi Kue Keranjang
Proses Pembuatan Kue Keranjang Foto: Dok. Novan Nurul Alam
ADVERTISEMENT
Dulu kue keranjang hadir dengan balutan daun pisang sebagai pembungkus. Daun pisang membuat kue keranjang semakin wangi. Namun seiring perkembangan zaman, kue keranjang lebih banyak dibungkus plastik. Tak hanya itu, kini kue keranjang juga hadir dengan berbagai varian rasa. Meski begitu, filosofi kue keranjang tidak berubah. "Rasa manisnya itu dimaksudkan agar berpikiran baik dan bicara yang manis. Lengketnya itu merupakan satu kesatuan, dengan falsafah pliketnya (lengket) itu," terang Jongkie. Kue keranjang berbentuk bundar menyerupai silinder juga punya makna tersendiri. Bentuk bundar ini melambangkan persatuan. Kue keranjang juga enggak disarankan untuk disajikan sembarangan. Sembarangan itu misalnya menyajikannya dalam jumlah empat. Jumlah ini terlarang lantaran bagi orang Tionghoa, empat atau shi berarti mati, sehingga diasosiasikan dengan nasib sial. Saran terbaik, kue keranjang disajikan dalam jumlah yang genap. Selain itu, kue keranjang biasanya disusun tinggi ke atas. Ada harapan di balik penyusunan ini, yakni agar doa-doa yang dipanjatkan bisa segera sampai pada Dewa. Selain itu, jika makin ke atas bentuknya makin mengecil, maka ada makna peningkatan dalam rezeki dan kemakmuran. Zaman dulu, dengan semakin tingginya kue keranjang yang disusun juga menandakan kemakmuran si pemilik rumah. Asimilasi Kue Keranjang
Kue keranjang Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Sejak dibawa oleh pelaut Tionghoa ke Indonesia, kue keranjang pun berasimilasi dengan budaya dan kuliner lokal. Meski kue keranjang sendiri tetap bertahan, tapi ada beberapa kuliner Indonesia yang merupakan turunan dari kue tersebut. "Turunannya kue keranjang itu ada wajik, jenang, dodol, dan lainnya," terang Jongkie.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·