kumparan
11 Des 2018 12:04 WIB

Frisian Flag Ajak Anak Pahami Pedoman Gizi Melalui 'Gerakan NUSANTARA'

Perwakilan Siswa SD Inpres 109 Sorong (Foto: Mela Nurhidayati/kumparan)
Permasalahan kecukupan gizi yang dialami anak-anak Indonesia memang tidak bisa disepelekan. Jika masalah ini dibiarkan, kesehatan dan kemampuan mereka untuk belajar akan menjadi kurang optimal. Nah, guna mencegah permasalahan ini bertambah, Frisian Flag Indonesia bersama Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKGK UI) meluncurkan program Gerakan NUSANTARA (MiNUM Susu TiAp Hari uNTuk Anak CeRdas Aktif Indonesia). Program yang telah berjalan sejak 2013 itu, ingin mengajak anak-anak Indonesia untuk bisa mengadopsi gaya hidup sehat.
ADVERTISEMENT
"Jadi mereka tidak hanya tahu bagaimana cara makan dengan gizi seimbang saja, tetapi juga turut mempraktekan gerak aktif di luar ruangan. Tak hanya itu, kita juga ingin mensosialisasikan pedoman gizi seimbang, serta bagaimana meningkatkan konsumsi susu sebagai salah satu produk yang bergizi dan bemanfaat bagi kesehatan," ungkap Refa Hayudi Griyanda, Corporate Sustainability Development Manager Frisian Flag Indonesia, kepada kumparanFOOD, saat acara penutupan Gerakan NUSANTARA di SD Inpres 109 Perumnas Kota Sorong, Papua Barat, pada Jumat (7/12).
Pada tahun ini, Gerakan NUSANTARA berhasil menjangkau 756.405 murid di 1.291 sekolah dasar yang tersebar di 11 kota, 9 kabupaten pada 5 provinsi. Adapun untuk kegiatannya sendiri, menitikberatkan kepada pemberian edukasi gizi komprehensif langsung kepada murid, dan kegiatan Training of Trainers (ToT) yang secara signifikan bisa meningkatkan kapasitas guru dalam pemahaman tentang gizi.
Guru SD Inpres 109 Sorong Saat Memaparkan Edukasi Pedoman Gizi Seimbang (Foto: Mela Nurhidayati/kumparan)
"Khusus untuk kegiatan ToT 2018 ini, kita lakukan di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kota Sorong dan Kabupaten Sorong. Totalnya ada 434 guru di 182 sekolah dan 65.039 murid sekolah dasar," tambah Refa.
ADVERTISEMENT
Menurut Ketua PKGK UI, Ir. Ahmad Syafiq, kegiatan ToT merupakan salah satu metode yang efektif untuk memberikan ilmu kepada guru terkait Pedoman Gizi Seimbang yang harapannya bisa diteruskan kepada rekan guru dan murid lain. Menariknya lagi, pelaksanaan kegiatan ToT di 2018 mengalami peningkatan rata-rata nilai pengetahuan guru akan Pedoman Gizi Seimbang sebesar 83,1 poin dari yang sebelumnya 60,1 poin.
"Tapi dari pengalaman kami, tak hanya peningkatan pengetahuannya saja melainkan juga meluas hingga aspek perilaku. Perubahan perilaku ini biasanya terjadi pada kebiasaan sarapan, kebiasaan jajan, hingga aktivitas fisik," kata Ahmad Syafiq kepada kumparanFOOD.
Dan benar saja, menurut penuturan Kepala Sekolah SD Inpres 109 Perumnas Kota Sorong, Maryatin, setelah mendapatkan edukasi gizi dari guru, murid-murid di sekolahnya mengalami perubahan perilaku terutama dalam hal kebiasaan sarapan.
ADVERTISEMENT
"Biasanya kalau upacara pagi, ada anak-anak yang pingsan karena lupa atau melewatkan sarapan. Setelah mereka diberi edukasi gizi, mereka jadi rajin untuk sarapan pagi," katanya disela-sela acara penutupan Gerakan NUSANTARA.
Penutupan Gerakan NUSANTARA (Foto: Mela Nurhidayati/kumparan)
Untuk diketahui, sejak diselenggarakan pada 2013 silam, program Gerakan NUSANTARA telah menjangkau 3.798 sekolah dan 2.132.740 siswa yang tersebar dari Indonesia bagian Barat hingga Timur. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Gerakan NUSANTARA pada 2018 ini berhasil menjangkau 3 wilayah di Indonesia, yaitu Kupang, Malang, dan Papua.
"Ke depannya kita akan mentargetkan wilayah-wilayah baru, tapi yang pasti wilayah Indonesia Timur tetap akan diprioritaskan. Karena namanya juga Gerakan NUSANTARA ya, makanya harus menjangkau semua wilayah di Indonesia termasuk ke Timur," tutup Refa.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan