kumparan
14 Feb 2019 20:13 WIB

Geliat Cokelat Indonesia di Kancah Internasional

Ilustrasi cokelat. Foto: Thinkstock
Puluhan cokelat beraneka rupa tersusun rapi di etalase sebuah minimarket. Dengan kemasan yang beragam, seringnya berupa warna-warna beraneka rupa, tiap-tiap merek punya identitasnya sendiri yang jadi pembeda.
ADVERTISEMENT
Ada yang dibalut dengan bungkus berwarna ungu, merah terang, warna cokelat muda, pokoknya dengan melihat warnanya saja, kita sudah dengan otomatis mengenali mereknya.
Kepopuleran dari cokelat sendiri memang cukup tinggi. Tentu saja, rasanya terlalu sulit untuk menolak lembut dan legitnya cokelat, apalagi sensasinya saat lumer di mulut. Alhasil, produk ini laris manis di pasaran.
Lucunya, bila diperhatikan, merek-merek cokelat yang mendominasi dan paling sering kita temukan di pasaran sebagian besar berasal dari produsen luar negeri. Memang masih ada merek lokal yang tersembunyi di balik namanya yang kebarat-baratan-- Silverqueen, Delfi, Chunky-- tapi tampaknya gempuran merek dari luar masih lebih banyak memenuhi rak-rak penjualan cokelat.
Ilustrasi cokelat. Foto: Thinkstock
Sebut saja Cadbury, Van Houten, Toblerone, atau Dove. Mereka tak cuma bisa dibeli di swalayan atau supermarket besar, tapi juga telah merambah ke minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah.
ADVERTISEMENT
Agak ironis, sebenarnya, mengingat Indonesia adalah penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia. Tapi, banyak di antara masyarakat Indonesia sendiri yang belum pernah mencicipi cita rasa dari cokelat asli Nusantara. Bahkan, tak banyak yang tahu, kalau cokelat-cokelat buatan lokal justru mampu menembus pasar internasional dengan kualitas yang mumpuni.
Pipiltin Cocoa, misalnya, telah memproduksi cokelat berkualitas premium yang menggunakan biji cokelat dari perkebunan Nusantara sejak tahun 2013 silam. Bukan hal yang mudah, tentunya, untuk memperkenalkan rasa cokelat yang cenderung pahit dan asam (sebenarnya inilah rasa asli dari cokelat).
Cokelat praline Pipiltin Foto: dok.Azalia Amadea/Kumparan
Apalagi, orang Indonesia memang lebih menggemari cokelat yang bercita rasa manis.
“Pasar Indonesia secara umum belum ngeh dengan cokelat asli. Secara budaya juga belum sampai ke syarat konsumsinya. Bahkan, menurut data dari Nielsen, orang Indonesia yang mengkonsumsi cokelat asli hanya dua persen,” terang Kevin Angra Limawan, Marketing Manager dari Pipiltin Cocoa.
ADVERTISEMENT
Keistimewaan dari cokelat Indonesia sendiri terletak pada cita rasanya. Sama halnya seperti kopi, cokelat yang berasal dari tiap-tiap daerah-- atau single origin, juga punya rasa yang masing-masing berbeda pula.
Cokelat dari Aceh, misalnya, punya rasa yang nutty dan fruity. Ada juga cokelat dari Jawa Timur dan Flores yang dikenal vegan-friendly. Setiap wilayah punya keunikan rasa, yang tak bisa disamakan.
Mampu menembus pasar Eropa
Beda halnya dengan produk cokelat buatan luar negeri yang kebanyakan hanya bermain dengan cita rasa yang itu-itu saja, karena mereka tak memiliki single origin yang bisa ditanam di Eropa.
Inilah yang membuat cokelat Indonesia begitu istimewa, hingga mampu berkiprah di kancah internasional.
Sebenarnya, cokelat Nusantara sendiri sudah go international sejak puluhan tahun lalu, tapi semakin menguat mulai beberapa tahun ini, apalagi kakao termasuk salah satu komoditas utama untuk diekspor. Kini, produk olahannya yang berupa cokelat artisan pun sudah mulai menyaingi merek-merek dari Eropa.
Cokelat bar Krakakoa. Foto: Azalia Amadea/kumparan
Krakakoa, produsen cokelat artisan lokal yang telah berkiprah sejak lima tahun lalu ini juga berhasil memasarkan produknya hingga ke Singapura, Korea, Jepang, dan sebagian besar negara di Eropa. Mereka bahkan pernah memenangkan penghargaan sebagai Indonesia’s Best Chocolate Factory di London.
ADVERTISEMENT
“Memperkenalkan cokelat indonesia ke luar itu cukup susah karena orang luar itu taunya cokelat bagus berasal dari Eropa. Tapi, kita berusaha memperkenalkan bahwa cokelat indonesia itu memiliki kualitas yang tinggi,” jelas Wilsen, Junior Marketing Manager Krakakoa, saat ditemui kumparanFOOD di kantor Krakakoa (13/2).
Seperti Krakakoa, Pipiltin Cocoa ternyata juga telah merambah hingga ke Jepang, Singapura, New Zealand, dan berencana untuk memulai ekspansi ke pasar Australia. Tak sekadar ‘numpang lewat’, tiap bulannya, mereka telah menjadi pemasok tetap dari sebuah toko yang berada di Jepang tersebut.
“Di Jepang, produk coklat Pipiltin masuk ke dalam kelas premium yang dijual seharga 500 yen per buahnya dan laris manis saat Valentine,” jelas Kevin.
Krakakoa. Foto: Azalia Amadea/kumparan
Apresiasi juga datang dari Belgia. Tahun lalu, Pipiltin sempat didatangi oleh badan penelitian cokelat dari Belgia yang bekerja sama dengan KBRI Brussel. Produk-produk cokelat Nusantara buatan mereka dianggap telah memenuhi standar kualitas, dan akan dibawa ke Belgia. Rencananya, Pipiltin Cocoa akan mulai memperkenakan cokelat Indonesia ke pasar Eropa.
ADVERTISEMENT
Kendati pencarian eksistensi di pasar luar negeri dilakukan dengan gencar oleh produsen cokelat Indonesia, tak lantas membuat pasar dalam negeri dilupakan begitu saja. Tetap saja, yang jadi tujuan utama adalah membuat masyarakat Indonesia bisa menikmati cita rasa dari cokelat asli Nusantara. Maka itu, cobalah sesekali mencoba nikmatnya cokelat yang tumbuh di Tanah Air.
Karena bagaimanapun juga, tempat terbaik untuk tumbuh adalah di rumah kita sendiri, kan?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan