Pencarian populer

Infografik: Jawara Warteg Jakarta

Seribu Rasa Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/Kumparan)

Rumah makan di Indonesia banyak macamnya, mulai dari yang tradisional hingga restoran mewah. Tapi, bagaimana sebenarnya potret rumah makan khas Tanah Air? Jawabannya, warteg. Lho, kenapa warteg? Ya, warteg merupakan potret rumah makan khas Indonesia yang bisa kita temukan di mana saja, bahkan meskipun kita sedang tidak berada di Tegal. Sesuai namanya, warteg merupakan singkatan dari 'warung tegal.' Meskipun begitu, persebarannya tidak hanya berada di Kota Bahari saja, melainkan hampir ke seluruh Indonesia.

Menurut sejarahnya, warteg mulai muncul sekitar tahun 1960-an, di mana warga Tegal banyak yang berimigrasi ke Jakarta. "Awalnya berangkat dari tenaga kerja Indonesia, khususnya warga Tegal yang pergi ke Jakarta. Pada saat itu sekitar tahun 1960-an ke sanalah ya," cerita Asmawi Aziz, Penasihat Asosiasi Koperasi Warteg yang ditemui kumparanFOOD beberapa waktu lalu.

Dilanjutkan pria yang juga merupakan pengusaha warteg tersebut, kala itu banyak warga Tegal yang merupakan buruh kasar merantau ke Jakarta untuk bekerja di proyek-proyek pembangunan. Pada tahun tersebut, tepatnya masa awal pemerintahan Soekarno, banyak dilakukan pembangunan insfrastruktur. Nah, di situlah banyak pekerja kasar asal Tegal yang memeras keringatnya.

Menurut Asmawi, selain bekerja sebagai buruh mereka juga mencari tambahan penghasilan dengan berjualan nasi bungkus. "Di samping bekerja, mereka kecil-kecilan berjualan nasi ponggol, awalnya di lingkungan mereka kerja. Kemudian berjalannya waktu mereka meminta tempat untuk berdagang. Awalnya pakai lesehan, kemudian berkembang ada yang pakai tenda, atau buka warung kecil-kecilan," tambahnya.

Di warung-warung tersebutlah, makanan sederhana ala rumahan dengan harga murah-meriah bermunculan. Dengan nama nasi ponggol (semacam nasi kucing), sebungkusnya berisi mi goreng, tempe, dan ikan asin. Singkat cerita, setiap pedagang yang berjualan mengaku berasal dari Tegal sehingga banyak orang yang lebih mengenal tempat makan mereka dengan sebutan 'warung tegal' atau warteg.

Jika dahulu tempat jualannya hanya berupa tenda dan warung kecil, saat ini warteg identik dengan warung berpintu kayu, dengan etalase kaca dan bernuansa hijau atau biru telur asin. Bangunan tersebut bisa dibilang bangunan tradisional asli yang mencirikan warteg. Nama warteg pun semakin banyak bermunculan, mulai dari nama warteg yang diikuti nama pemiliknya hingga warteg berembel-embel kata 'bahari' yang menjadi slogan kota Tegal.

Kepopuleran warteg yang menurut sejarahnya memang bukan hanya di kota asalnya saja, melainkan istilah tersebut datang dari warga yang mengadu nasibnya di Ibu Kota. Lalu bagaimana dengan perkembangan warteg di Jakarta? Penasaran dengan nama-nama warteg apa saja yang populer khususnya di Ibu Kota? Simak selengkapnya dalam infografik yang telah kumparanFOOD buatkan khusus untuk para pecinta warteg Tanah Air, berikut ini.

Jawara Warteg Jakarta (Foto: Putri Sarah Arifira/Kumparan)

Simak ulasan lengkap konten spesial kumparan dengan follow topik Seribu Rasa Warteg.

Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57