Pencarian populer

Janet DeNeefe, Sosok di Balik Ubud Food Festival

Janet DeNeefe Foto: Safira Maharani/ kumparan

Nama Janet DeNeefe mungkin terdengar tak asing di kalangan para pegiat dan penulis kuliner. Ya, ialah sosok di balik dua festival besar di Bali, yakni Ubud Writer's and Reader's Festival dan Ubud Food Festival.

Menemukannya di Ubud Food Festival pun tidak sulit. Lihat saja perempuan dengan wajah bule yang kental, mengenakan baju adat Bali.

Keragaman budaya dan cita rasa masakan Nusantara membuat perempuan asal Melbourne, Australia itu jatuh cinta dalam sekejap. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menambatkan hatinya pada Pulau Dewata dan menetap di sana.

The Queen of Ubud, begitulah julukan yang kini disematkan padanya. Tak cuma berhasil membangun 'kerajaan' restorannya, Janet juga berhasil menghidupkan Bali usai kasus pengeboman lewat Ubud Writer's and Reader's Festival di tahun 2004 silam.

Janet DeNeefe Foto: Dok. Dio Damalla

Sembilan tahun setelahnya --tahun 2013-- pemilik restoran sekaligus penulis buku ini mengangkat kuliner Indonesia untuk lebih dikenal di mata dunia. Di titik inilah, Ubud Food Festival tercipta.

Tentu tak mudah baginya, apalagi ia adalah seseorang yang tidak lahir di Indonesia. Gagasan ini melibatkan perbedaan budaya, latar belakang, hingga persepsi tentang kuliner Indonesia dan Barat.

Dalam sebuah kesempatan, kami menemuinya di Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC. Janet berkisah kepada kumparan tentang kilas balik hidup barunya di Bali. Bagaimana ia pertama kali jatuh cinta terhadap kuliner Indonesia, memulai bisnis restoran pertamanya, hingga membesarkan nama Ubud Food Festival.

Mari simak obrolan lengkap kami bersama Janet DeNeefe berikut ini:

Janet DeNeefe Foto: Dok. Wirasathya Darmaja

Bagaimana awal mula perkenalan anda dengan kuliner Indonesia?

Saya pertama kali mencoba makanan Indonesia di tahun 1975. Saya belum pernah mencicipi rasa seperti itu sepanjang hidup. Sejak itulah, ketertarikan terhadap makanan Indonesia muncul dan menjadi salah satu passion saya.

Ketika saya kembali ke Bali di tahun 1984, keinginan untuk belajar membuat makanan Indonesia pun tumbuh. Bermula dari situ, saya terus mencoba untuk belajar sebanyak mungkin. Cukup sulit, mengingat tak ada yang tahu makanan Indonesia di Australia. Tak ada satupun orang yang tahu bumbu-bumbu Indonesia, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi saya untuk mendapatkannya.

Perjalanan yang sangat menakjubkan, karena saya tak pernah berhenti belajar dan selalu menemukan hal-hal baru di sepanjang eksplorasi.

Apa yang menginspirasi terciptanya Ubud Food Festival?

Saya memulai Ubud Writer's Festival 16 tahun silam untuk mengembalikan perekonomian dan membangkitkan Bali paska pengeboman. Di saat yang sama, saya juga ingin mengadakan festival kuliner, karena saya telah memiliki restoran di sini (Ubud).

Tapi, tentu saja kami tak bisa mengadakan kedua festival tersebut sekaligus dan harus menunggu waktu yang tepat. Setidaknya hingga Ubud Writer's Festival telah benar-benar mapan.

Dan akhirnya, enam tahun yang lalu --tepatnya tahun 2013-- saya pun memutuskan bahwa inilah saat yang tepat untuk memulai Ubud Food Festival.

Bagaimana Anda memulai Ubud Food Festival?

Sebelumnya, saya telah memiliki banyak koneksi di bidang kuliner, apalagi di Ubud Writer's Festival selalu ada diskusi tentang kuliner. Kami selalu mendatangkan alm. Bondan Winarno dan berbagai tokoh kuliner lainnya dalam acara tersebut.

Sehingga, bisa dibilang bahwa saya sudah punya lingkaran pertemanan di bidang kuliner. Selain itu, tim yang tergabung dalam Ubud Food Festival juga sudah berpengalaman dalam urusan teknis di festival sebelumnya. Sangat memudahkan mekanismenya.

Fokus kami ada di makanan Indonesia dan Bali, dan diskusi yang dilakukan sebagian besar fokus pada masakan Indonesia. Di ajang pertama UFF, kami mendatangkan tiga chef dari luar Indonesia yang bekerja di Asia.

Saya rasa dari situlah kami menentukan konsep operasional UFF; berdiskusi tentang masakan Indonesia, membawa chef dari seluruh penjuru Indonesia, dan mendatangkan tokoh kuliner dari luar negeri, khususnya Asia.

Janet DeNeefe Foto: Instagram/ @janetdeneefe

Kenapa memilih Ubud sebagai lokasi jalannya festival?

Karena saya tinggal di Ubud, supaya mudah, hahaha. Saya rasa juga karena Ubud telah terbiasa mengadakan acara. Kita tahu bahwa Ubud masih sangat kental akan budayanya. Hampir setiap waktu ada upacara adat, sehingga cukup mudah bagi orang-orang Bali untuk membuat acara bersama karena telah terbiasa.

Apa yang telah Anda pelajari dari perhelatan Ubud Food Festival selama ini?

Ketika kita membuat sebuah acara atau festival, secara tidak langsung kita juga punya tanggung jawab bagi masyarakat. Karena itulah, kami mulai menciptakan berbagai penghargaan bagi orang-orang yang mungkin tak begitu dikenal, tapi telah berkontribusi besar di dunia kulilner.

Kami belajar untuk mempromosikan bahwa harus ada sesuatu yang mengedukasi dalam bidang kuliner. Semua orang menyukai makanan, tapi juga sangat penting bagi mereka untuk mengedukasi tentang makanan tersebut.

Pandangan untuk Ubud Food Festival dalam lima tahun ke depan?

Dalam lima tahun, kami akan memiliki beberapa venue lainnya. Nantinya akan ada beberapa area dengan fokus yang berbeda.

Saya akan lebih mendalami slow-foods dan mengembangkan kuliner dari pasar yang masih sangat tradisional. Saya ingin membawa atmosfer natural untuk menyajikan makanan yang benar-benar autentik, beserta proses pembuatannya.

Sepertinya dalam beberapa tahun ke depan, akan ada area tradisional, semacam makanan inovatif dan kontemporer, lalu juga ada proses produksi makanan. Banyak aspek berbeda yang akan kami bawa.

Janet DeNeefe Foto: Instagram/ @janetdeneefe

Apa yang membuat Anda jatuh cinta terhadap masakan Indonesia?

Apa yang saya suka dari masakan Indonesia? Tentu saja, cita rasanya. Cita rasa masakan Nusantara sangat luar biasa. Tiap daerah bahkan punya rasanya masing-masing. Dari rendang hingga soto, misalnya.

Selain makanan Indonesia, Anda juga menyukai rempah-rempah. Mengapa?

Saya rasa karena cita rasanya. Ketika rempah-rempah disatukan, they created a glorious flavour. Tampilannya pun sangat menarik. Selain itu, saya juga menemukan bahwa rempah-rempah memiliki sejarah yang sangat mengagumkan.

Kini, Anda telah memiliki dua restoran, satu sekolah masak, dan satu guesthouse beserta bakery. Sejak kapan sebenarnya Anda mulai memasak?

I've always been cooking. I think it grew up with that. Karena itulah, saya selalu suka memasak, terutama masaskan rumah. Saya rasa masakan rumah adalah yang terbaik. Meski saya suka bersantap di restoran, tapi saya sangat menyukai makanan rumah, makanan yang dimasak oleh kasih sayang seorang ibu.

Cerita menarik saat Anda pertama kali membuka restoran di Indonesia?

Saya pertama kali membuka restoran di tahun 1997, di Jalan Monkey Forest, Ubud. Saat itu, suami saya dan temannya mengambil alih dari pemilik sebelumnya. Hanya sebuah restoran kecil, tapi saya sangat bahagia. Mimpi saya seperti terwujud.

Saya pun berencana untuk menyajikan sedikit hidangan Western, karena saya pikir saya tahu apa yang para wisatawan inginkan. Kala itu, saya mengajari para pegawai untuk membuat salad. Mereka sangat kaget dan tidak percaya bahwa itu adalah sebuah hidangan untuk para tamu, lebih mirip seperti makanan kelinci.

Setiap kali saya meminta seorang chef untuk mencicipi hidangan Western buatan saya, mereka akan lari dan memuntahkannya.

Janet DeNeefe Foto: Instagram/ @janetdeneefe

Ada lagi, saat itu kami menyajikan konsep three course meal yang terdiri dari starter, main course, dan dessert. Saya ingat, suatu hari saat saya mampir ke restoran, pukul 11.00, ada seorang tamu menyantap semangkuk es krim. Saya pikir itu masih terlalu pagi untuk makan es krim, karena kami tak pernah mengkonsumsi makanan dingin sebelum jam makan siang.

Dan saat saya lihat ke dapur, para staff sedang menyiapkan makanan untuk tamu. Saya bilang, mengapa mereka menyajikan es krim untuk si tamu, setidaknya sajikan dahulu main course-nya. Waktu itu, mereka belum mengerti konsep three course meal.

Es krim disajikan pertama karena itu adalah menu yang paling mudah dan cepat dibuat. Setelahnya, mereka baru menyajikan nasi goreng.

Saya harus belajar bahwa tak semua orang tahu tentang three courses meal. Menu yang kami sajikan pun beragam, dari makanan Indonesia hingga makanan Western. Saya suka bereksperimen dengan makanan Indonesia dan memadukannya dengan sedikit sentuhan Western.

Daerah mana saja yang pernah Anda kunjungi di Indonesia?

Saya pernah mengelilingi Jawa; Yogyakarta, Semarang, Kudus, Bandung, Jakarta. Saya juga pernah berkunjung ke Padang, Bukittinggi, Medan, Aceh, Makassar, Bunaken, Manado, Ambon, dan saya selalu pergi ke Banda Neira setiap tahun. Oh, Labuan Bajo juga mengagumkan. Dan tentunya ke pulau tetangga, Lombok.

Tempat terfavorit?

Saya sangat tergila-gila dengan Banda Neira. Tempat ini punya kisah sejarah yang menakjubkan. Karena itulah saya selalu mengunjunginya tiap tahun. Actually, there are too many places to choose. Saya juga ingin berkunjung kembali ke Banyuwangi setelah kunjungan terakhir saya 25 tahun silam.

Janet DeNeefe Foto: Instagram/ @janetdeneefe

Perkembangan pariwisata mereka sangat pesat, dan saya ingin melihat apa saja hal baru di sana. Dan saya sangat senang dapat membawa perwakilan dari Ternate dan Aceh ke dalam Ubud Food Festival tahun ini. Inilah yang ingin saya lakukan, membawa lebih banyak daerah di Indonesia untuk bergabung di Ubud Food Festival.

Top 5 most favorite Indonesian foods?

Bebek asap khas Bali. Teksturnya empuk, kombinasi rasa dari bumbu dan nasi kuningnya sangat luar biasa. Rendang, well, who doesn't like rendang? Saya juga tergila-gila dengan opor. Oh, dan lontong cap go meh, I love it.

I also love mi ayam. Jika saya punya waktu untuk berkunjung ke Jakarta, saya akan melakukan perburuan bakmi, hahaha.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63