kumparan
12 Jan 2019 12:37 WIB

Menjajal Warteg di Kota Asalnya

Seribu Rasa Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/Kumparan)
Warteg mungkin masuk dalam daftar tempat makan teratas saat ingin mengenyangkan perut namun tak perlu merogoh kocek dalam. Warung makan asal Tegal ini memang identik sebagai tempat makan untuk kalangan menengah ke bawah karena memang menyediakan beragam menu rumahan dengan harga terjangkau.
ADVERTISEMENT
Bayangkan saja, dengan merogoh kocek Rp 10 ribuan saja, kamu bisa menikmati seporsi nasi berisi lauk sayur, tempe, atau telur, lengkap dengan segelas teh manis. Seiring berjalannya waktu, pelanggan warteg pun tak hanya berasal dari pekerja kasar maupun perantau dengan kocek pas-pasan. Banyak pekerja kantoran dengan tampilan rapi dan perlente yang sudah tak ragu lagi untuk makan di warung makan sederhana ini.
Jadi jangan heran, pertumbuhan warteg di ibu kota kini bak jamur di musim penghujan. Mulai dari perkantoran modern, perumahan elite, hingga perkampungan pinggir kota, pasti terselip satu dua bangunan warteg yang kebanyakan dicat warna biru atau hijau muda.
Bila diperhatikan lebih seksama, warteg di Jakarta umumnya memiliki ciri khas yang hampir serupa yakni menempati bangunan dua pintu dengan kaca besar bertuliskan nama warung berwarna mencolok di bagian depannya. Saat masuk ke dalam ruangan, pengunjung akan disambut puluhan lauk yang berjejer rapi di sebuah etalase kaca.
ADVERTISEMENT
Nah, bila warteg di Jakarta umumnya memiliki konsep yang hampir serupa. Bagaimana dengan warteg yang ada di kota asalnya, Tegal?
Tidak ada warteg di Tegal
Ilustrasi Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Demi menjawab rasa penasaran, kumparanFOOD pun menelusuri langsung kota asal warteg tersebut. Ternyata, di sepanjang jalan Kota Bahari, hampir mustahil menemukan warung makan bertuliskan warteg di bagian depannya.
Hal ini sejalan dengan penuturan penasehat asosiasi koperasi warteg, Asmawi Azazi, yang menjelaskan bahwa Tegal justru tidak memiliki warteg. Penyebutan warteg merujuk pada usaha warung makan yang dimiliki warga asli Tegal namun berada di luar kota Tegal dan sekitarnya.
"Yang disebut warung tegal itu biasanya di luar Tegal. Kalau yang namanya warteg itu biasanya berada di luar kota Tegal. Kalau sudah di Tegal ya warung makan biasa, bukan warteg," ujar Asmawi.
ADVERTISEMENT
Selain penyebutan nama yang berbeda, tak ada banyak perbedaan antara warteg di Jakarta dan Tegal. Bangunan warung makan di Tegal juga memiliki dua pintu yang berfungsi sebagai sirkulasi udara sekaligus agar pelanggan lebih leluasa keluar masuk tempat makan.
Cita rasa gurih yang kuat sebagai andalan
Porsi nasi ayam Rp 50 ribu di warteg. (Foto: Elsa Olivia/kumparan)
Menu-menu yang dijual umumnya adalah menu rumahan yang sederhana dan mudah dibuat seperti sayur lodeh, sayur asam, aneka tumisan, gorengan, hingga orek tempe bercita rasa manis dan gurih. Saat dicicipi, aneka lauk di warung makan di Tegal yang kumparanFOOD kunjungi umumnya memiliki cita rasa gurih yang lebih kuat.
"Orang Tegal itu kan terkenal dengan makanan gurih, kalau orang Solo dan Semarang itu kan manis, orang Padang pedas. Gurih itu gabungan antara manis, pedes, asam digabung jadi satu itu gurih," tambah Asmawi.
ADVERTISEMENT
Selain itu, porsi nasinya pun jauh lebih sedikit dengan lauk yang justru lebih banyak, bahkan hingga menutupi nasi. Namun inilah yang membuat warung makan di Tegal terasa lebih istimewa dan khas dibandingkan warteg Jakarta.
Uniknya, selain lauk rumahan sebagai andalannya, kebanyakan warung makan di Tegal juga menyediakan menu tradisional Tegal lainnya seperti nasi lengko dan sauto berlumur sambal tauco. Nasi lengko umumnya banyak dipilih sebagai menu sarapan karena porsinya yang tidak terlalu mengenyangkan, sedangkan sauto yang gurih dengan isian melimpah sangat cocok disantap saat siang maupun malam hari. Menariknya, baik nasi lengko maupun sauto biasanya lebih banyak dipilih oleh wisatawan dari luar Tegal yang penasaran dengan cita rasa dua hidangan tersebut.
ADVERTISEMENT
Teh poci sebagai penutup
Teh Gopek, racikan teh khas warung makan Pi'an. (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)
Satu lagi daya tarik warung makan di Kota Bahari, yaitu adanya teh melati khas Tegal yang cita rasanya memang sudah melegenda. Ya, Tegal memang terkenal dengan budaya minum tehnya yang dinamakan moci. Moci sendiri sebenarnya adalah istilah yang merujuk pada aktivitas minum teh menggunakan teko dan cangkir mungil dari batu bata.
Daun tehnya pun menggunakan daun teh yang dipetik dari perkebunan di lereng Gunung Slamet, seperti perkebunan Bumijawa atau Kaligua. Teh Tegal yang wangi dan bercita rasa sepat semakin nikmat saat diseduh bersama gula batu.
Kamu lebih suka yang mana, warteg di Jakarta atau warung makan di Tegal?
Simak ulasan lengkap konten spesial kumparan dengan follow topik Seribu Rasa Warteg.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·