Pencarian populer

Selalu Miliki 2 Pintu, Ini 9 Fakta Unik tentang Warteg

Seribu Rasa Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/Kumparan)

Mencicipi beragam menu tanpa harus berpindah tempat? Warung tegal atau yang akrab disebut warteg bisa menjadi solusinya. Selain karena rasanya enak dan porsi yang melimpah, menu yang dijual juga murah meriah. Jadi tak heran, dong, ya, jika rumah makan sederhana ini selalu menjadi penyelamat di saat kantong sedang tak bersahabat.

Keberadaan warteg kini tak hanya terpusat di kota-kota besar, melainkan juga sudah menyebar hingga berbagai pelosok kota di seluruh Nusantara. Menariknya lagi, warung makan yang berasal dari Kota Bahari itu juga sudah melanglang buana hingga mancanegara.

Tak hanya fakta mengenai keberadaannya yang sudah go Internasional, warteg juga memiliki segudang fakta unik lain yang mungkin belum kamu ketahui. Dari mulai pintunya yang selalu dua hingga fenomena warteg dadakan. Ingin tahu informasi lengkapnya? Berikut kumparanFOOD rangkum untuk kamu.

1. Pintunya selalu dua

Warteg Timbul Jaya Kemang Dalam (Foto: Abdul Latif/kumparan)

Hampir semua warteg memiliki ciri fisik bangunan yang sama. Mulai dari menu yang dijajakan dalam lemari kaca, hingga penggunaan kursi kayu panjang agar muat untuk banyak orang. Namun tanpa disadari, ada salah satu ciri yang melekat kuat dengan rumah makan sederhana ini, yaitu kepemilikan dua pintu. Sebenarnya, kenapa, sih, pintu warteg selalu ada dua?

"Soalnya biar rezekinya banyak. Tapi kalau dianalisis dari konteks arsitektur, biar enggak padetlah. Warteg, kan rata-rata kecil ya, jadi solusinya biar keluar masuknya enak ya itu dengan dua pintu," ujar Yono Daryono, Budayawan asal Tegal, kepada kumparanFOOD, saat ditemui di kediamannya beberapa waktu yang lalu.

2. Didominasi warna biru

Warteg Sederhana (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)

Selain memiliki dua pintu, warteg juga umumnya bernuansa biru. Warna ini sendiri sudah dipakai para pengusaha warteg dari puluhan tahun yang lalu.

"Meski identik dengan warna biru, tapi sekarang sudah banyak usaha warteg yang menggunakan warna-warna lain, seperti hijau atau kuning," lanjut Yono.

3. Sebagian besar diberi nama "Bahari"

Warteg Kharisma Bahari (Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan)

Pernahkah kamu bertanya, kenapa sebagian besar warteg diberi nama "Bahari"? Sebagai contoh Warteg Kharisma Bahari, Warteg Putra Bahari, Warteg Tegal Bahari, hinga Warteg Bahari Arifin. Menurut Penasihat Asosiasi Koperasi Warteg, Asmawi Aziz, nama 'Bahari' diambil karena identik dengan kota Tegal.

"Istilah itu (bahari) bukan milik perorangan, jadi boleh dipakai sama siapa saja," katanya saat ditemui kumparanFOOD, di Saung Familier, Tegal.

Arti lain juga menyebut jika 'bahari' memiliki makna keindahan yang identik dengan segala sesuatu tentang kelautan. Jadi, inilah alasan kenapa warteg didominasi warna biru, yang secara filosofi menggambarkan warna laut.

4. Menu warteg identik dengan makanan khas pertanian

Menu Warteg (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Coba sebutkan apa saja makanan yang ada di warteg? Telur balado, orek tempe, tumis kangkung, hingga sambal goreng kentang bisa jadi jawabannya. Namun, pernahkah kamu bertanya kenapa menu tersebut yang justru dijajakan di warteg, bukannya makanan khas Tegal?

Menurut Yono Daryono, makanan seperti sayur lodeh, orek tempe, hingga tumis kangkung merupakan makanan yang identik dengan pertanian. Makanan itu didapat dari hasil tani masyarakat yang diolah dengan cara yang mudah.

"Lalu kenapa dijual murah? Hal ini berkaitan dengan bumbu. Jadi, saat memasak mereka mengurangi bumbu dan juga rempah-rempah sehingga harga yang dijual pun lebih murah," kata pria yang pernah bermain di film 'Turah' tersebut.

5. Ada warteg yang mengusung konsep franchise

Kharisma Bahari (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Tak kalah dengan gerai restoran cepat saji seperti KFC dan McDonald's, warteg juga punya franchaise atau cabang, lho. Kharisma Bahari menjadi salah satu contoh warteg pertama di Indonesia yang mengusung konsep tersebut. Dikatakan Sayudi, pemilik Warteg Kharisma Bahari, ide untuk mengembangkan konsep franchise tersebut berangkat dari ketidaksengajaan.

"Awalnya kami punya cabang tiga, dua cabang cuma dikelola karyawan saja. Karena makin lama makin berantakan, ide itu kemudian muncul dan saya pun mulai mengajak kerabat dan keluarga untuk mengembangkan usaha warteg milik saya," kata laki-laki yang akrab dipanggil Yudhika kepada kumparanFOOD.

Berkat kerja kerasnya selama lebih dari 10 tahun, kini warteg yang identik dengan hijau dan kuning pada dekorasi ruangannya itu pun telah memiliki lebih 200 cabang yang tersebar di seluruh Jabodetabek.

6. Di Tegal, warteg disebut dengan istilah warung nasi

Warteg Sederhana (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)

Ada fakta menarik tentang warteg. Jika di Jakarta dan sekitarnya rumah makan serba ada ini disebut warteg atau Warung Tegal, maka di daerah asalnya warteg dikenal dengan nama warung nasi.

"Penyebutan nama warteg itu sendiri datang atau berasal dari orang-orang di luar Tegal. Kalau sudah di Tegal ya warung nasi atau rumah makan biasa, bukan warteg," tambah Asmawi Aziz.

7. Sistem pergantian kerja antar pemilik warung

Warteg Kharisma Bahari (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Tak hanya istilah nama, sistem kerja yang dianut para pemilik warteg juga tergolong unik, lho. Jadi para pemilik warteg ini akan mengelola wartegnya secara bergantian selama 3 bulan sekali. Lalu, siapa orang yang akan menggantikan pemilik warung tersebut? Tentu saudara atau kerabat dekatnya.

"Jadi mereka itu akan bergiliran. Yang satu disibukkan mengurus warteg, sedangkan saudara yang lain harus pulang kampung dan menyelesaikan pekerjaan di sawah. Begitulah seterusnya," ujar Yono Daryono.

8. Ada desa warteg di Tegal

Ilustrasi Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Warteg memang sudah menjamur di kota-kota besar. Namun, tahukah dari daerah mana sebenarnya warteg itu bermula? Menurut Yono Daryono, warteg sendiri berasal dari beberapa desa di Tegal, seperti Sidakaton, Sidapurna, Cabawan, Margadana, hingga Krandon. Lanjut Yono, berkisar ada ribuan orang dari desa tersebut yang bermigrasi ke luar Tegal untuk membangun usaha rumah makan sederhana yang kita kenal sebagai warteg.

9. Fenomena warteg dadakan

Ilustrasi Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Tak hanya hadir di lokasi-lokasi strategis, kini warteg juga kerap muncul di lokasi-lokasi pembangunan. Fenomena inilah yang dikenal dengan sebutan warteg dadakan. Dinamakan demikian, karena warung makan tersebut hadir secara tiba-tiba di sebuah pembangunan yang sedang berlangsung, sebut saja gedung-gedung perkantoran, mal, ataupun pembangunan besar yang mempekerjakan banyak pekerja bangunan.

"Orang Tegal itu kaya inovasi dan pintar membaca peluang. Jadi begitu mereka tahu ada daerah yang sedang melakukan pembangunan, maka mereka akan membuka warteg untuk dijual kepada pekerja-pekerja kasar. Setelah bangunannya rampung, warteg tersebut akan bubar," tutup Asmawi Aziz.

Simak ulasan lengkap konten spesial kumparan dengan follow topik Seribu Rasa Warteg.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: