kumparan
13 Des 2017 17:38 WIB

Serupa tapi Tak Sama, Ini Bedanya Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa

Susu tidak menyebabkan diare lebih parah (Foto: Thinkstock)
Susu adalah sumber nutrisi sehat yang dapat dikonsumsi oleh segala usia. Namun, tidak semua orang dapat mengkonsumsi susu dengan aman. Ada beberapa orang yang akan mengalami gangguan pada sistem pencernaannya sehabis mengkonsumsi susu. Beberapa faktor dapat menjadi penyebab seseorang tidak dapat mencerna susu dengan baik.
ADVERTISEMENT
Proses pengolahan yang tidak tepat sehingga menyebabkan susu terkontaminasi bakteri menjadi salah satu faktor paling umum yang sering terjadi. Selain itu ada juga orang yang memang alergi terhadap susu, ataupun seseorang mengalami laktosa intoleran. Dua faktor tersebut sering sekali tertukar karena gejalanya yang hampir mirip.
“Ada dua masalah kenapa orang tidak dapat mengkonsumsi susu. Pertama adalah alergi protein susu dan laktosa intoleransi,” ujar pakar gizi Emilia E. Achmadi MS., RDN saat ditemui di konferensi media Susu Bergizi Kesukaan Anak di Plataran Dharmawangsa, Jakarta Selatan (13/12).
Lantas, apa perbedaan keduanya?
Sebenarnya, alergi susu dan intoleransi laktosa disebabkan oleh masalah yang berbeda. Alergi susu disebabkan karena seseorang tidak dapat mencerna protein yang ada di dalam susu. Sedangkan laktosa intoleran disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mencerna laktosa susu.
Alergi susu sapi (Foto: Thinkstock)
Susu tersusun dari berbagai komponen protein seperti kasein dan laktoserum, laktosa, serta lemak. Berbagai kandungan tersebut sangat bermanfaat untuk membantu proses pertumbuhan khususnya pada anak-anak.
ADVERTISEMENT
Namun, ada beberapa orang yang mengalami alergi susu dan segala produk turunannya. Saat mengkonsumsi susu, sistem kekebalan tubuh membaca protein yang berasal dari susu sebagai suatu ancaman yang dapat menghambat proses kerja tubuh. Sehingga tubuh akan melepaskan senyawa bernama histamin yang memicu gejala alergi.
Biasanya gejala alergi susu dapat dideteksi sedari bayi baru lahir. Gejala alergi bisa bermacam-macam mulai dari mual, gatal-gatal, ruam, sampai dapat menyebabkan sesak nafas. Jika tidak diketahui sejak dini, alergi susu dapat membahayakan nyawa.
Sedangkan intoleransi laktosa disebabkan oleh ketidakmampuan gen seseorang untuk memproduksi laktase. Di dalam susu terkandung laktosa yang merupakan gula alami yang terdapat pada susu. Laktosa inilah yang membuat kandungan susu menjadi lengkap.
ADVERTISEMENT
Untuk dapat memproses laktosa agar dapat diserap, tubuh membutuhkan enzim bernama laktase yang berfungsi untuk memecah laktosa menjadi glukosa. Orang yang memiliki gangguan intoleransi laktosa tidak dapat memproduksi atau hanya memproduksi sedikit sekali laktase.
Alergi susu sapi pada anak terus meningkat. (Foto: thinkstock)
Sehingga, laktosa yang ada dalam tubuh tidak dapat dicerna dan menyebabkan gangguan pencernaan. Biasanya gangguan ini dapat berupa rasa tidak nyaman di perut, kembung, serta sering buang air besar yang dapat berujung pada diare parah.
Walau begitu, orang dengan gangguan intoleransi laktosa masih dapat mengkonsumsi produk turunan susu seperti yoghurt, keju, dan susu fermentasi. Hal tersebut karena laktosa yang terkandung di dalam susu telah diproses oleh bakteri baik saat proses fermentasi terjadi.
“Pada yoghurt misalnya, laktosa sudah diproses oleh lactobacillus menjadi lactic acid. Sehingga di dalam perut tidak perlu lagi dicerna. Sehingga orang dengan intoleransi laktosa masih dapat mengkonsumsi produk olahan susu,” tambah Emilia menjelaskan tentang produk olahan susu yang dapat dikonsumsi oleh orang yang mengalami intoleransi laktosa.
Anak diperbolehkan minum susu saat diare (Foto: Thinkstock)
Tidak seperti intoleransi laktosa yang masih dapat mengkonsumsi beberapa jenis produk olahan susu. Penderita alergi susu sama sekali tidak dapat mengkonsumsi susu dan semua produk turunannya.
ADVERTISEMENT
Pada bayi berusia dibawah dua tahun yang alergi susu sehingga tidak dapat mengkonsumsi ASI, dokter anak biasanya akan merekomendasikan beberapa susu khusus yang telah mengalami rekayasa protein sedemikian rupa sehingga aman untuk dikonsumsi.
Untuk anak di atas usia dua tahun sampai dewasa, sumber kalsium yang terdapat pada susu bisa diganti dengan sumber makanan lain seperti tahu, tempe, ikan, dan tulang muda. Suplemen penambah kalsium juga dianjurkan bagi pengidap alergi susu yang berusia dewasa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan