Pencarian populer

Ahmad Dhani vs Bimbim 'Slank', Siapa Pendiri Grup Musik Favoritmu?

Ahmad Dhani dan Bimbim Slank. (Foto: Munady Widjaja (edit photo by Putri Sarah Arifira/kumparan))

Siapa tak kenal Bimbim dan Ahmad Dhani? Dua sosok pemusik karismatik yang mampu menjadi panutan banyak musisi serta dicintai oleh banyak pendengar musik Indonesia.

Bimbim dan Dhani sama-sama sukses menjadi 'arsitek' bagi grup musik mereka masing-masing, Slank dan Dewa 19. Mengalahkan berbagai polemik di industri musik, karya Slank dan Dewa 19 dianggap klasik dan masih melegenda hingga kini.

Kali ini, kumparan akan menyandingkan keduanya dan menelisik siapa 'arsitek' musik terbaik, Bimbim atau Dhani?

1. Awal mula terbentuknya Slank dan Dewa 19

Slank, 'Transisi' (Foto: Dok. slank.com)

Pada 1983, Bimbim sempat membentuk grup musik Cikini Stones Complex (CSC) yang kerap memainkan musik-musik karya grup musik rock n roll asal Inggris, The Rolling Stones. Kala itu, CSC diperkuat oleh Bimbim (drummer), Boy (gitaris), Kiki (gitaris), Abi (pemain bas), Uti (vokalis), dan Well Welly (vokalis).

Selang beberapa bulan, Bimbim mulai bosan memainkan lagu-lagu The Rolling Stones dan ingin membuat grup musik dengan gayanya sendiri. Ia lantas mengajak Kiki (gitaris) untuk membentuk Slank bersama beberapa rekan lainnya, Bongky (bas, gitar) dan Erwan (vokalis).

Tanpa pernah merekam album atau single, Slank ramai ditanggap di berbagai kota di Jakarta dan sekitarnya. Mereka kerap mengundang animo publik lantaran bermain musik dengan gaya yang slengean di atas panggung.

Dewa 19. (Foto: Youtube/Mp3 Galeri)

Lain dari Bimbim yang membentuk Slank, Dhani membentuk Dewa 19 bersama teman-temannya di SMPN 6 Surabaya, Andra (gitaris), Erwin (bas gitar), dan Wawan. Mulanya, Dewa 19 mengusung musik down beat jazz sebelum akhirnya bertemu Ari Lasso yang memiliki suara serak dan tinggi, khas grup musik rock Amerika era itu, seperti Chicago, Bon Jovi, dan Queen.

Hingga akhir era '80-an, Surabaya belum juga menjadi kota yang ramah bagi musisi. Oleh karena itu, Dhani dan personel Dewa 19 lainnya hijrah ke Jakarta pada 1991.

Sempat terus ditolak oleh banyak label rekaman, produser Jan Djuhana dari Team Records mulai tertarik dengan karya-karyanya di Dewa 19. Benar saja, album self-titled Dewa 19 (1992) sukses melejit di pasaran dengar berbagai hitnya, seperti 'Kangen' dan 'Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi'.

2. Pondasi yang kokoh dari band yang hampir runtuh

Personel Slank ditemui di kawasan Hang Tuah (Foto: Munady Widjaja/kumparan)

Perjalanan Bimbim membentuk Slank tidak mudah dan penuh dengan konflik. Sejak awal berdiri, Slank selalu berganti-ganti personel hingga Bimbim pun akhirnya kesulitan untuk merekam karya.

Memasuki akhir tahun 1980-an, Bimbim baru bisa menemukan formasi 13 yang solid dengan adanya Kaka (vokalis), Bongky (bas gitar), Pay (gitaris), dan Indra Q (pianis). Pada 1991, akhirnya album 'Suit Suit He... He... Gadis Sexy' pun rilis dan Slank kian terkenal di Indonesia.

Namun, era '90-an, bukan era yang ramah bagi anak-anak muda, termasuk para personel Slank. Berkat candu narkoba, Slank yang telah dirancang dengan sempurna oleh Bimbim pun mulai sedikit demi sedikit runtuh. Puncaknya, Bimbim memecat Bongky, Pay, dan Indra Q, yang berada di bawah pengaruh narkoba pada 1996.

Slank formasi 13 dan 14 (Foto: Instagram @slankdotcom)

Hanya tinggal berdua bersama Kaka, Bimbim coba untuk bangkit dari keterpurukan dan menelurkan album 'Lagi Sedih' (1996). Pada 1997, Bimbim mulai mendapat bantuan dari Abdee (gitaris), Ridho (gitaris), dan Ivanka (bas gitar) dan rampunglah album 'Tujuh' tanda era baru Slank bersama formasi 14.

Bimbim dan Kaka kemudian berusaha merehabilitasi diri sendiri agar terbebas dari narkoba bersama dengan Ivanka yang dahulu juga menjadi pecandu narkoba saat masih menjadi pemain bas gitar untuk Imanez. Alhasil, Bimbim, Kaka, dan Ivanka benar-benar terbebas dari narkoba pada 2002 dan Slank bisa terus melaju hingga saat ini.

Dewa 19. (Foto: Dok. Spotify)

Serupa dengan Bimbim dan Slank, Dhani juga sanggup menjadi pondasi kokoh dari Dewa 19 yang dibangunnya. Wawan sang drummer meninggalkan Dewa 19 ada 1994, satu tahun setelah mereka memenangkan dua penghargaan di BASF Awards kategori 'Pendatang Baru Terbaik' dan 'Album Terlaris'.

Demi menjaga Dewa 19 agar tetap kokoh, Dhani pun menambal posisi Wawan dengan Wong Aksan, drummer jazz lulusan salah satu universitas di Jerman. Berhasil merampungkan album 'Pandawa Lima' (1997) yang sukses memenangkan lima penghargaan Anugerah Musik Indonesia 1997, 'Lagu Alternatif Terbaik', 'Lagu Terbaik Umum', 'Duo/Grup Alternatif Terbaik', 'Album Rhythm & Blues Terbaik', dan 'Sampul Album Terbaik'.

Reuni Dewa 19. (Foto: Instagram @de19wa)

Corak jazz Aksan agak kurang cocok dengan suara rock Ari Lasso, posisinya pun diganti oleh Tyo Nugros yang masuk pada 1998. Rencana Dhani mencarikan drummer yang cocok untuk Ari malah berbuah pahit setelah penyanyi berambut gondrong itu beserta Erwin si pemain bas gitar mengundurkan diri karena ketergantungan narkoba pada 1999.

Untung saja ada sosok Once Mekel yang menyelamatkan nasib Dewa 19. Di era 2000-an, Dewa 19 pun bisa terus berkarya hingga akhirnya resmi dibubarkan karena kesibukan masing-masing pada 2011.

Meski Dewa 19 memang telah bubar, namun karya mereka masih dikenang dan mereka pun masih sering reuni di berbagai kesempatan. Bahkan, di Syncronize Fest 2018, Dewa 19 reuni dengan dua vokalis sekaligus, Ari Lasso dan Once Mekel. Tak hanya itu, mereka juga beberapa kali tampil off air di sejumlah daerah bersama.

3. 'Arsitek' andal untuk musisi selain Slank dan Dewa 19

Personil Slank, Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim). (Foto: Munady Widjaja)

Meski Bimbim dikenal sebagai 'arsitek' Slank, ia juga membentuk grup musik The Sidhartas bersama saudara-saudaranya, Massto (drummer), Awa (gitaris), dan Firas (bas gitar). Sebagai vokalis dan gitaris, Bimbim mampu membuat nuansa musik di The Sidhartas sangat berbeda dari Slank.

Kini, The Sidhartas telah cukup populer di skena punk rock Jakarta. Mereka telah main di berbagai gigs dan festival-festival musik yang megah. Label rekaman D’Majors pun menjadi labuhan dari The Sidarthas.

Ahmad Dhani. (Foto: Munady Widjaja)

Dhani bisa dikatakan jauh lebih hebat dari Bimbim saat menjadi 'arsitek musik bagi musisi selain grup musiknya sendiri, Dewa 19. Ia memiliki Republik Cinta Management (RCM) yang menaungi banyak artis, seperti Mulan Jameela, The Virgin, dan Mahadewi.

Karya lagunya saat ini masih terus dinyanyikan oleh banyak artis. Bahkan, lagunya di Dewa 19 juga kerap didaur ulang oleh penyanyi-penyanyi, seperti Eva Celia dan Titi DJ.

Dari tiga aspek di atas, terlihat bahwa Bimbim dan Dhani punya kekuatan masing-masing dalam menjadi 'arsitek' musik di industri Indonesia. Sama-sama membangun grup musik dari nol, keduanya kini terkenal menjadi legenda masing-masing bersama Slank dan Dewa 19.

Bimbim terbukti sukses menjadi 'arsitek' yang hebat untuk Slank yang masih bisa bertahan hingga kini. Slank bahkan masih terus menelurkan album baru dan bisa menggelar konser tunggal di usia ke-35 tahun.

Di sisi lain, Dhani terbukti mampu menjadi 'arsitek musik' bagi musisi di luar Dewa 19. Bersama RCM, ia mampu menelurkan banyak bakat hebat ke industri musik Indonesia. Lagu-lagunya juga masih laku digunakan oleh musisi-musisi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: