kumparan
21 Jul 2018 16:13 WIB

Barry Prima vs Willy Dozan, Siapa Lebih Jagoan?

Barry Prima vs Willy Dozan (Foto: dok 'Comic 8: Casino Kings'/Falcon Pictures)
Banyak aktor laga masa kini yang sudah menembus pasar film internasional. Sebut saja Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang lebih dari sekali terlibat dalam produksi film Hollywood.
ADVERTISEMENT
Namun bicara soal genre laga di Tanah Air sebenarnya tak dapat dipisahkan dari dua aktor laga lawas yang sampai saat ini masih terus berkarya. Mereka adalah Barry Prima dan Willy Dozan. Bagaimana kiprah mereka selama ini?
Saat Masih Muda
Barry memulai debutnya dalam film berjudul 'Primitif' pada tahun 1978. Dalam Film itu beradu peran dengan Henny Haryono dan Johan Marjono. Film bergenre horor tersebut rupanya sempat menuai kontroversi di masa penayangannya, sebab film itu mengangkat unsur kanibalisme.
Sementara itu di genre action sendiri Barry kerap membintangi film yang mengangkat cerita daerah. Paras blasteran yang ia miliki tak menghalanginya untuk memerankan tokoh jagoan seperti Jaka Sembung dan Jampang.
Sementara itu Willy Dozan langsung memulai debutnya dalam film bergenre laga. Film tersebut berjudul 'Pertarungan Kera Sakti' yang dirilis pada tahun 1977. Ketika itu Willy dipasangkan dengan pemain film Hong Kong, Chen Kuan Tai yang turut bermain di film itu.
ADVERTISEMENT
Pemilik nama lain Billy Chong ini memang identik dengan film silat Hong Kong. Paras tionghoa yang dimilikinya membuat Willy sangat lekat dengan tokoh pendekar kungfu.
Mayoritas film yang ia bintangi juga mengangkat tema kungfu. Bahkan namanya sempat mendunia kala film 'Kung Fu from Beyond the Grave' yang ia bintangi meraih box office. Sebelumnya pada tahun 1980 ia juga sempat mendapat penghargaan Best New Comer pada Internatonal Movie Academy Award di Italia lewat film 'Crystal Fist.'
Era 2000-an
Memasuki tahun 2000an keduanya masih sering wara-wiri di industri hiburan. Bukan hanya dalam film laga, keduanya bahkan meramaikan genre lain seperti, drama, horor, dan komedi.
Barry tercatat bermain setidaknya dalam 13 film di era 2000-an. Film-film seperti 'Janji Joni', 'Realita Cinta dan Rock n Roll', dan 'Tarix Jabrix 3' menjadi beberapa film yang sempat ia mainkan. Namun perannya sudah berbeda dari zaman dulu.
ADVERTISEMENT
Seolah tak mau kalah, Willy juga meramaikan industri perfilman pada era tersebut. Setidaknya Willy bermain dalam 7 film, dan beberapa masih lekat dengan genre action seperti 'Duel: The Last Choice', 'Runaway' dan 'Sang Pemberani.'
Main di Sinetron
Tak hanya tampil di layar lebar, Barry dan Willy juga kerap tampil di layar kaca. Ya keduanya juga sempat bermain dalam beberapa judul sinetron.
Barry pernah bermain dalam 15 sinetron. Beberapa sinetron yang tayang di tahun 2000-an di antaranya 'Super Dede Season 2', 'Pangeran 2', dan 'Kiamat Hari Jumat'. Dalam sinetron 'Kiamat Hari Jumat', Barry bahkan tampil religius sebagai seorang guru ngaji.
Sementara itu Willy tercatat pernah bermain dalam tujuh sinetron. Sebut saja 7 Manusia Harimau, Boy, dan Anak Langit. Seolah belum puas memamerkan aksi laganya, Willy masih melakukan adegan perkelahian dalam beberapa sinetron yang ia bintangi.
ADVERTISEMENT
Tampil Bareng di 'Comic 8'
Barry dan Willy sempat tampil bareng dalam film 'Comic 8: Casino Kings'. Di Film itu meski usia mereka tak lagi muda namun keduanya terlihat gagah dengan seragam pasukan khusus yang dikenakan serta senjata yang mereka bawa.
Pernah Berakting Kemayu
Meski sering tampil garang, Barry dan Willy juga pernah berakting kemayu. Hal ini membuktikan bahwa keduanya memang benar-benar aktor watak yang mampu menerima berbagai peran yang ditawarkan.
Dalam film 'Realita Cinta dan Rock n Roll' Barry bahkan berperan sebagai seorang transgender. Uniknya meski sudah mengenakan pakaian wanita, Barry tetap mamp menunjkan aksi laganya.
Sementara itu dalam film terbarnya berjudul 'Target', Willy berperan sebagai lelaki yang sifat dan perilakunya kemayu. Tokoh yang diperankan Willy dalam film garapan Raditya Dika itu bernama Wince. Bintang film 'Rio sang Juara' ini mengaku harus mempelajari dan terus mendalami karakter tersebut di kediaman Dika selama dua bulan.
ADVERTISEMENT
"Awalnya agak kagok. Setelah tiga sampai empat minggu, ada harapan. 'Om, kayaknya sudah matang,' kata Radit begitu," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan