Pencarian populer

'Bayang', Film Festival yang Berakhir dengan Sejuta Asumsi

Film Bayang Tayang Perdana di Kyoto International Film Festival 2018, Sabtu (13/10/2018). (Foto: Anissa Sadino/kumparan)

Baru-baru ini, kumparan terbang ke Kyoto, Jepang, untuk menghadiri Kyoto International Film Festival (KIFF) 2018. Pada acara yang digelar tanggal 11-14 Oktober lalu, 'Bayang' menjadi satu-satunya film Indonesia yang tayang di KIFF 2018.

kumparan berkesempatan untuk menonton film tersebut. Bertempat di Toho Cinemas Nijo, Kyoto, film tersebut diputar untuk pertama kalinya.

Cerita dimulai dengan sosok Emma (Novinta Dhini) yang nyaris melompat untuk bunuh diri dari apartemennya di Jepang. Namun, dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk kembali ke Indonesia, tanah kelahirannya.

Emma tiba di rumahnya dan bertemu dengan ibundanya. Saat makan malam, Emma mengatakan bahwa dia hamil di luar nikah dan berniat untuk mencari ayahnya.

Ibunda Emma cukup terkejut mendengarnya, karena ayah Emma pergi sejak usianya 2 tahun demi mendalami dunia musik. Emma pun bertolak ke Jakarta dari Surabaya, untuk mencari sang ayah.

Adegan dalam film 'Bayang' (Foto: Alfrits John Robert)

Di Jakarta, Emma bertemu dengan Adam (Daniel Clift), cowok yang bekerja freelance sebagai soundman. Adam pun membantu Emma untuk mencari ayahnya dengan menyambangi kediaman teman-teman sang ayah. Emma mengetahui alamat mereka dari surat-surat yang dikirimkan pada ayahnya.

Di sisi lain, film ini juga menceritakan kisah seorang penulis muda asal Jepang yang novelnya laku keras di Indonesia. Penulis muda tersebut diperankan oleh Genki Sadamatsu, salah satu talent Yoshimoto Creative Agency sekaligus bagian dari proyek 'Asia Sumimasu Geinin' yang diinisiasi oleh Yoshimoto Kogyo.

Genki beradu akting dengan Claudia Suwardi yang merupakan aktris sekaligus pemain teater asal Indonesia. Claudia berperan sebagai editor sang penulis Jepang itu.

Cuplikan film 'Bayang' yang tayang di Kyoto Interasional Folm Festival. (Foto: YouTube: Yoshimoto Indonesia)

Cerita keduanya mengalir secara bersamaan di film 'Bayang', membuat penonton tentu bertanya-tanya apa hubungan Emma dan sang penulis Jepang di film tersebut. Sekarang, mari kita kembali ke cerita Emma.

Emma pun bertualang dengan Adam. Bahkan, dia sempat ikut Adam ke Bandung untuk menemaninya bekerja. Cukup aneh melihat hubungan mereka di film ini, karena Adam adalah cowok yang bicara apa adanya, sedangkan Emma merupakan cewek yang pendiam dan tertutup. Tapi, hubungan mereka terlihat dekat di film ini. Padahal, Adam memiliki seorang kekasih meski hubungan keduanya tidak baik.

Perjalanan Emma untuk menemukan ayahnya pun semakin dekat ketika dia menyambangi rumah seorang mama muda yang merupakan mantan istri sang ayah. Wanita tersebut bercerita bahwa Hendra, ayah Emma, bukanlah ayah yang baik. Maka dari itu, dia menceraikan Hendra dan memilih untuk hidup sebagai seorang baker rumahan bersama anak pertama yang merupakan buah cintanya dengan Hendra.

Emma mendapat pentunjuk keberadaan sang ayah. Tapi, dia mendadak mengurungkan niatnya untuk mencari sang ayah, dan hal itu membuat Adam marah. Tentu saja, Adam sudah meluangkan waktunya untuk menemani Emma mencari ayah kandungnya selama di Jakarta.

Adegan dalam film 'Bayang' (Foto: Alfrits John Robert)

Mari pindah ke cerita penulis Jepang. Hubungannya dengan sosok perempuan yang diperankan Claudia cukup intens, terutama ketika film menampilkan adegan keduanya di apartemen sang penulis. Di sana, terungkap bahwa novel sang penulis bertemakan bunuh diri dan kisahnya ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis.

Sang editor pun bercerita bahwa kekasihnya dulu meninggal dunia dengan cara gantung diri tanpa tahu apa sebabnya. Namun, komentar si penulis Jepang yang seakan mengatakan, "Paling tidak, dia lebih berani untuk melakukannya daripada aku. Aku pengecut," membuat cewek tersebut marah dan pergi meninggalkan apartemen.

kumparan tidak akan membocorkan ending dari film ini. Yang jelas, penulis menyebutnya sebagai happy ending. Bagi beberapa orang, mungkin akhir film ini terasa 'kentang' atau kena tanggung. Tapi, hal itulah yang diinginkan Alfrits John Robert, sang sutradara.

Adegan dalam film 'Bayang' (Foto: Alfrits John Robert)

"Saya enggak mau kasih kesimpulan apa-apa (untuk film 'Bayang'). Yang kalian lihat (akhir ceritanya) ya, itu. Orang bebas mau bilang apa. Ibarat kalau naik roller coaster, kita naik, ya, sudah. Aku cuma kasih experience saja," kata pria yang akrab disapa Frits usai penayangan film 'Bayang'.

Frits menambahkan, hal itu juga menjadi alasan mengapa 'Bayang' tidak menghadirkan film scoring.

"Pas preview, aku enggak dapat apa yang aku mau. Kalau dikasih scoring, nanti jadi sedih atau apa. Makanya aku minta Daniel (Daniel Clift juga berperan sebagai Music Director) take out," terangnya.

Hal itu dirasa tepat, karena memang 'Bayang' menyerahkan akhir ceritanya kepada para penonton. Menurut penulis, 'Bayang' adalah novel Jepang yang difilmkan.

Cuplikan film 'Bayang' yang tayang di Kyoto Interasional Folm Festival. (Foto: YouTube: Yoshimoto Indonesia)

Emma dan Adam adalah karakter fiksi yang menceritakan tentang isi novel sang penulis Jepang. Novel sang penulis Jepang bercerita tentang bunuh diri, dan hal itu sama dengan apa yang dialami Emma. Hanya saja, mungkin ceritanya tidak persis sama dengan apa yang dialami sang penulis karena bagaimana pun juga, kamu bebas menulis apapun untuk sebuah novel. Jadi, kisah Emma dan Adam bisa jadi bentuk pengembangan yang dilakukan si penulis.

Ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan di benak penulis, yakni hubungan antara Emma dan Adam yang sangat tidak biasa. Durasi film mungkin menghambat sutradara untuk menampilkan hubungan antara Emma dan Adam, karena di film ini banyak shot yang memperlihatkan hal-hal tidak penting namun memuaskan.

Seperti, adegan yang memperlihatkan tetes air AC yang bocor hingga memenuhi ember selama lebih dari 5 detik dan adegan-adegan lainnya yang dirasa membosankan.

Tapi, adegan-adegan tersebut adalah nilai plus untuk beberapa penonton Jepang. Film Jepang (khususnya film drama atau dorama) kerap menampilkan adegan-adegan seperti itu. Cukup manusiawi, karena hal tersebut ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi penulis, hal tersebut tidak membosankan karena cukup menenangkan meski cerita menjadi sangat lambat. Sinematografinya pun apik.

Pemain film Bayang di Kyoto International Film Festival 2018. (Foto: Anissa Sadino/kumparan)

Selain itu, akting kawan-kawan ayah Emma yang beberapa di antaranya ada yang sangat kaku dan sangat lugas. Tapi, penulis dibuat terkejut karena kehadiran Verdi Solaiman yang berperan sebagai salah satu kawan ayah Emma.

Dia terlihat sangat natural memerankan seorang bapak-bapak Betawi dalam sebuah adegan one take yang cukup panjang. Frits membebaskan Verdi untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan untuk mendalami perannya.

Selain itu, penulis memuji akting Daniel Clift. Daniel sangat natural memerankan sosok Adam. Dia terlihat santai, dan cara bicaranya juga sama dengan kehidupan seorang cowok sehari-hari, jauh berbeda jika dibandingkan dengan cara bicara Novinta yang kaku. Mungkin, karena karakter Emma diceritakan bekerja dan tinggal Jepang.

Video

Kesimpulannya, 'Bayang' memang tepat untuk tayang untuk festival film. Pengambilan gambarnya memang identik dengan dorama-dorama Jepang. Kisahnya pun membuat orang-orang bebas berasumsi tanpa batas dan cukup mengundang untuk menikmatinya sekali lagi. Sesuai dengan ucapan Frits, film ini memberikan sebuah pengalaman untuk menentukan tanpa unsur paksaan.

Harapannya, semoga film ini bisa tayang di festival film Indonesia agar sang sutradara bisa mendapatkan respons unik dari penonton yang sedarah dengannya. Ya, karena hal itulah yang dia ingin dengar.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.34