Pencarian populer

‘Bumi Manusia’ Akhirnya Jatuh ke Tangan Hanung, Bukan Oliver Stone

Hanung Bramantyo. (Foto: Giovanni/kumparan)

Novel ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer akan segera di angkat ke layar lebar. Hanung Bramantyo dan Falcon Pictures mendapat kesempatan untuk menggarap karya sastra yang diciptakan Pram saat dirinya masih mendekam di Pulau Buru.

Astuti Ananta Toer, anak ketiga Pram, bersyukur karya sastra ayahnya akhirnya dapat divisualisasikan ke dalam sebuah film. Menurutnya hal tersebut merupakan sebuah hasil jerih payah dari pria kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 tersebut.

“Buku ini suatu pengakuan untuk Pram sendiri, karena Pram sudah bergelut untuk mendapatkan hak warga negara dengan cucuran darah,” katanya dalam konfernsi pers film Bumi Manusia yang digelar di kawasan Gamplong, Sleman, Kamis (24/6).

Novel tersebut harus melewati perjalanan yang begitu pnjang untuk dapat diangkat ke layar lebar. Bahkan nama Oliver Stone juga sempat ingin mengangkat film tersebut ke dalam bentuk film.

Konferensi Pers Film Bumi Manusia (Foto: Giovanni/kumparan)

Astuti membenarkan ada pihak asing yang pernah menawarkan diri untuk memfilmkan novel tersebut. Nilai yang filmmaker Hollywood itu juga terbilang fantastis. Kabarnya hingga USD 1,5 juta.

“Tapi kemudian Pram berpikir, kenapa orang indonesia tidak mau membuat film saya, jadi kalau ada yang mau membuat film saya, ini saya batalkan,” ungkapnya.

Setelah itu, mulai banyak rumah produksi tanah air lainnya yang juga sempat menunjukan ketertarikannya pada novel 'Bumi Manusia'. Akhirnya Pram menolak tawaran dari pihak asing.

“Dan akhirnya pihak Indonesia itu tidak jadi, Berapa kali itu tawaran ada tapi tidak jadi,” kata Astuti.

Beberapa produser yang ingin memfilmkan novel 'Bumi Manusia' kerap kali membicarakan perihal untung dan rugi. Hal ini sempat membuat Astuti tak nyaman. Hingga pada akhirnya Falcon yang mendapat kepercayaan untuk merealisasikan hal tersebut.

“Falcon tidak pernah berbicara tentang untung rugi, tapi Falcon berbicara tentang bagaimana dengan ibu, bagaimana dengan bapak, itu yang akhirnya saya berpihak pada Falcon,” ungkapnya.

Iqbaal Ramadhan dengan Buku 'Bumi Manusia'. (Foto: Instagram @filmbumimanusia)

Produser film tersebut Frederica membenarkan hal tersebut. Menurutnya tak mudah menggarap sebuah film yang mengangkat cerita dari sebuah karya sastra yang luar biasa.

“Tapi yang ingin kami sampaikan dalam film ini adalah, ini adalah sumbangsih Falcon kepada perfilman nasional bahwa kami bisa bikin film bagus yang dilakukan secara benar dan total,” tuturnya.

Menurut Frederica pihaknya telah memegang lisensi tersebut sejak tahun 2014. Sebelumnya juga sempat berembus kabar bahwa Anggi Umbara yang akan menggarap 'Bumi Manusia'.

“Jadi baru hari ini sebenarnya kami secara resmi merilisi mas Hanung akan menyutradarai film 'Bumi Manusia',” katanya.

Frederica kemudian mengatakan bahwa bukan tidak mungkin bahwa film yang berangkat dari Tetralogi Buru karya Pram tersebut akan dibuat sekuelnya.

“Bumi manusia itu satu film aja udah panjang banget dengan 300 halaman lebih memang tidak bisa semuanya kita masukin dalam satu film,” ujarnya

Buku tersebut memang cukup kontroversial di masanya. 'Bumi Manusia' sempat dilarang pada tahun 1981 karena dituduh mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme. Mengingat hal tersebut Frederica tidak memungkiri munculnya potensi penolakan dalam film terebut nantinya.

“Ibaratnya kita enggak bisa nyenengin semua orang, itu pasti akan terjadi, dan tidak bisa dhindari. Kami harus lakukan apa yang terbaik menurut kami,” pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57