kumparan
17 Okt 2018 13:32 WIB

Cerita Sadao Nakajima soal Kariernya Selama 60 Tahun di Dunia Film

Sutradara Jepang, Sadao Nakajima. (Foto: Anissa Sadino/kumparan)
Setelah absen produksi film selama 20 tahun lamanya, sutradara asal Jepang, Sadao Nakajima, kembali merilis karya terbarunya. Film barunya yang berjudul 'Tajuro Jun Aiki' itu tayang perdana di Kyoto International Film Festival (KIFF) 2018 yang digelar pada 11-14 Oktober lalu di Jepang.
ADVERTISEMENT
Di film besutannya itu, Kengo Kora dipilih untuk berperan sebagai Tajuro, sang pemain utama. Nakajima tidak memiliki alasan khusus mengapa dia memilih Kengo sebagai pemain utama. Yang pertama, Nakajima mengaku dia tidak tahu banyak soal artis-artis masa kini. Bahkan, dia menyerahkan pemilihan peran pada sang produser untuk dicarikan.
Kedua, keinginan Kengo untuk bermain dalam jidaigeki atau film drama dengan era sebelum zaman Meiji cukup besar, sehingga peran utama pun jatuh padanya.
"Orang yang bisa memainkan katana (pedang) rata-rata sudah dimakan usia, jadi saya mencari orang yang bisa olahraga. Karena kalau tidak begitu, maka tidak akan bisa. Kalau dipikir-pikir, ini zamannya sudah bukan 'anak' lagi, tetapi sudah zaman 'cucu'. Dan Kengo Kora-san sendiri memiliki keinginan, sehingga dia mau berlatih (untuk film 'Tajuro Jun Aiki')," terangnya saat ditemui di Yoshimoto Gion Kagetsu, Kyoto, Jepang, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
Absen menggarap film selama 20 tahun tentu memberikan perbedaan sendiri pada Nakajima. Sutradara berumur 84 tahun itu pun bercerita soal kariernya, tepatnya sejak dia memulai kariernya di dunia perfilman Jepang 60 tahun lalu.
"Pada zaman dulu, bisokop sangat populer di kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Sekitar 100 ribu penduduk Jepang menonton dan dalam setahun, yang pergi ke bioskop sebanyak 1,1 juta kali. Itu berarti, setiap orang bisa pergi ke bioskop 11 kali dalam setahun," terang Nakajima.
Nakajima pun mulai berpikir. Kira-kira, film apa yang bisa diterima oleh masyarakat? Dia pun mulai fokus menggarap film hingga karyanya semakin berkembang dari tahun ke tahun.
Sutradara Jepang, Sadao Nakajima. (Foto: Anissa Sadino/kumparan)
"Lima tahun kemudian, pengunjung naik 60 persen dari biasanya. Di saat itu juga, saya memulai pembuatan film-film erotis dan lain-lain. Sejak televisi muncul, saya terus berkarya membuat film dan banyak film saya yang masuk televisi. Pada akhirnya, saya lebih memilih pembuatan film yang diperuntukan untuk layar lebar karena saya sangat suka dengan budaya ekstrem," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Budaya ekstrem yang dimaksud Nakajima adalah, budaya perfilman Jepang yang mengangkat tentang cerita-cerita samurai, yakuza, dan lain-lain. Nama Nakajima memang melambung di era '70-an, tepatnya saat film-film yakuza generasi ke-2 meledak di pasaran. Bahkan kala itu, Nakajima dikenal akan film-filmnya yang disebut lebih kejam dari film-film yakuza era '50-an hingga '60-an.
"Sekarang, penontonlah yang menentukan datang atau tidak (ke bioskop). Makanya, mau enggak mau, saya harus membuat film yang menarik. Kalau misalnya nanti banyak yang datang untuk nonton film ini ('Tajuro Jun Aiki'), berarti saya kalah, tetapi saya sangat puas," ujarnya.
Sutradara Jepang, Sadao Nakajima. (Foto: Anissa Sadino/kumparan)
Meski demikian, sepanjang hidupnya, Nakajima belum pernah syuting film di Indonesia.
"Saya pernah syuting di Hong Kong, Bangkok, Singapura, dan Kamboja. Sayang sekali, saya belum pernah syuting di Indonesia. Tapi, saya pernah menonton film Indonesia di Festival Film Asia. Ya, lebih tepatnya sih, memang saya hampir beum pernah menonton film Indonesia," ungkapnya.
Adegan film 'Tajuro Jun'aiki' (Foto: www.2018.kiff.kyoto.jp)
Film 'Tajuro Jun Aiki' sendiri bercerita tentang seorang ronin (samurai tanpa tuan) bernama Tajuro. Di film itu, Nakajima banyak menghadirkan chanbara atau aksi bermain pedang. Sutradara yang juga mengatakan bahwa minum sake, merokok, dan melakukan hal yang ingin dilakukan sebagai rahasia sehatnya ini juga punya pesan untuk orang-orang yang suka menonton film Jepang.
ADVERTISEMENT
"Selalu membuat karya-karya baru. Walaupun dari dulu banyak film-film bagus, tapi zaman sekarang, jangan buat film yang seperti itu, melainkan menggabungkan film zaman dulu dengan film zaman sekarang. Sebenarnya, banyak sekali sutradara terkenal yang membuat film tentang chanbara, tetapi sayangnya sudah meninggal. Membuat film tentang chanbara adalah hal yang memang saya ingin lakukan," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan