Pencarian populer

Iqbaal Dipilih Perankan Minke karena Berasal dari Generasi Milenial

Iqbaal Ramadhan dengan Buku 'Bumi Manusia'. (Foto: Instagram @filmbumimanusia)

Novel berjudul 'Bumi Manusia' tak lama lagi dapat dinikmati dalam bentuk film. Sutradara Hanung Bramantyo, mendapat kesempatan untuk menggarap film yang diangkat dari karya sastra brilian karangan Pramoedya Ananta Toer.

Bagi Hanung, kesempatan ini bagaikan sebuah mimpinya yang menjadi nyata. Terlebih ia pernah menemui Pram secara langsung beberapa tahun lalu untuk dapat memfilmkan salah satu karya sastra terbaik yang dimiliki Tanah Air itu. Ketika itu Pram menolaknya.

“'Jadi mohon maaf, bukan saya enggak mendukung mahasiswa seperti Bung, tapi saya hidup dari sastra, dari penulisan. Karena itu makanya saya berhitung di sini', dia (Pram) bilang begitu,” ujar Hanung sambil bercerita, ketika ditemui di kawasan Gamplong, Sleman, Yogyakarta, Kamis (24/5).

Pada tahun 2007, Hanung juga sempat mendapat tawaran untuk membesut film dari karya pertama Pram, 'Tetralogi Buru'. Namun, Hanung ketika itu memang belum terbilang matang sebagai seorang sutradara.

Hanung Bramantyo. (Foto: Giovanni/kumparan)

Salman Aristo pun langsung menolak saat dimintanya membantu dalam hal penulisan. Meski begitu, Hanung mengambil sisi positif dari itu semua. Karena jika saat itu ia tetap menangani film tersebut, tentu 'Bumi Manusia' akan menjadi film periode pertama yang ia garap.

“Tentunya mungkin tak akan jadi film maksimal karena saya masih belajar,” kata suami Zaskia Adya Mecca tersebut.

Kini, Hanung kembali mendapat kesempatan untuk mengarap film ‘Bumi Manusia’, sontak kesempatan tersebut tak disia-siakan. Ia merasa sudah cukup matang setelah melewati berbagai perjalanan yang cukup panjang dalam kariernya. Termasuk saat harus berurusan dengan hukum dalam beberapa filmnya.

“Hati ini mungkin sudah berdarah, seberdarah Pak Pram. Mungkin kecil banget, tapi saya bilang ini saatnya,” kata Hanung.

Loading Instagram...

Novel ‘Bumi Manusia’ mengangkat sosok Minke sebagai pembawa cerita. Minke merupakan murid HBS Surabaya, yakni sekolah khusus anak-anak Belanda atau keturunannya.

Meski begitu, Minke tetap berjuang untuk mempertahankan kepribumiannya. Dalam novel tersebut, digambarkan suatu kesenjangan antara masyarakat pribumi dengan masyarakat Belanda atau keturunan.

Mengangkat latar tahun 1908, kata-kata modern menjadi sangat populer ketika itu. Hanung menyambungkan istilah tersebut dengan milenial, yang memang seringkali digunakan di masa ini.

Iqbaal Ramadhan (Foto: Giovanni/kumparan)

Menurutnya, karakter modern dan milenial memiliki semangat yang sama. Hal ini membuatnya yakin sosok milenial dapat menghadirkan karakter Minke dalam novel tersebut. Iqbaal Ramadhan dinilai Hanung menjadi sosok yang tepat untuk memerankan karakter Minke.

“Jadi saya tidak perlu harus kasih buku yang tebal pada Iqbaal. Dia menjadi generasi milenial saja, tinggal saya kasih baju dan itulah pemikiran Minke sebetulnya. Tinggal bahasa Inggrisnya saya ganti bahasa Belanda,” katanya.

Selain itu, jelas diceritakan dalam novel tersbut bahwa Minke masih berusia 20 tahun. Iqbaal diyakini Hanung memiliki semangat yang sama dengan Minke di zaman itu. Jika dulu Eropa menjadi kiblat bagi Minke, kini generasi Iqbaal kiat berkiblat pada kebudayaan global.

“Itulah milenial, itulah Minke sebetulnya. Buat saya, ini saat yang tepat bagaimana 'Bumi Manusia', berada di zamannya,” kata sutradara berusia 42 tahun itu.

Loading Instagram...

Kesuksesan Iqbaal memerankan Dilan tak menjadi satu-satunya alasan bagi Hanung untuk memilih memerankan karakter Minke. Namun, hal tersebut dinilai Hanung sebagai bangkitnya film nasional di mata milenial.

“Dilan itu adalah salah satu momentum bagaimana film Indonesia disambut oleh generasi milenial,” tuturnya.

Konferensi Pers Film Bumi Manusia (Foto: Giovanni/kumparan)

Film ini juga akan menjadi film pertama Hanung yang paling banyak melibatkan cast dari Belanda. 60 persen pemain yang terlibat dalam film ini adalah orang Belanda asli yang benar-benar melewati proses casting langsung di negeri kincir angin tersebut.

Menurutnya, di zaman itu hanya ada tiga bahasa yakni Belanda, Melayu, dan Jawa. Sehingga film itu juga akan menggunakan bahasa Belanda.

“Enggak ada bahasa Inggris, jadi enggak mungkin ada istilah-istilah, ‘Come on, man’ itu enggak ada. Jadi semua istilahnya pakai Jawa, Melayu atau Belanda,” pungkasnya

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57