kumparan
26 Feb 2019 10:22 WIB

Jalani Syuting di Hutan, Marissa Anita Senang Bisa Jauh dari Gadget

Marissa Anita. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Aktris Marissa Anita kembali bermain dalam karya besutan sutradara Joko Anwar. Ia sebelumnya terlibat dalam ‘Foklore: A Mother’s Love’ yang ditayangkan di HBO dan HBO Go.
ADVERTISEMENT
Kali ini, Marissa Anita bermain dalam film ‘Perempuan Tanah Jahanam’. Joko Anwar didapuk menjadi sutradara dan penulis skenario film yang rencananya tayang pada akhir 2019.
Proses syuting film horor-thriller ini akan dimulai dalam waktu dekat. Lokasinya di desa terpencil yang berada di kawasan Banyuwangi, Lumajang, Lumbang, dan Ijen.
Marissa Anita tidak mengalami kendala meski harus menjalani syuting di hutan. Perempuan berusia 35 tahun ini malah merasa senang dengan kondisi tersebut.
“Aku malah excited, sih, dengan lokasi yang jauh dari kota. Karena memang kalau aku ngerasa kehidupan urban bikin kita disorientasi, semua serba cepat dan sebagainya. Kadang kita rindu untuk slow down,” kata Marissa saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (25/2).
Marissa Anita. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Syuting di hutan membuat perempuan kelahiran Surabaya ini tidak bisa menggunakan gadget. Namun, hal itu tidak menjadi kendala buat Marissa. Sebab, ia sudah beberapa tahun mencoba membatasi diri untuk menggunakan gadget.
ADVERTISEMENT
“Aku sudah melakukan itu sejak sekitar dua tahun, bukan sesuatu yang menakutkan,” ucap Marissa.
Membatasi diri terkait penggunaan gadget juga membuat Marissa bahagia. Sebab, ia jadi bisa berkonsentrasi di lokasi syuting.
“Hubungan saya dengan gadget itu love-hate relationship. Kalau bisa saya lempar, ya, saya lempar itu gadget,” tutur Marissa.
Joko Anwar Foto: Munady
Tantangan juga dirasakan oleh Marissa Anita ketika bermain dalam film ‘Perempuan Tanah Jahanam’. Joko memintanya untuk meningkatkan staminanya lantaran proses syuting akan memakan banyak energi.
“Jadi, sejak dapat perannya Joko bilang,‘Mar, banyakin lari, ya.’ Kalau berat badan enggak terlalu ada yang harus dinaikin atau diturunin,” tutup Marissa.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan