Pencarian populer

Keseruan Para Pemain Saat Syuting Film 'Petualangan Menangkap Petir'

Video

'Petualangan Menangkap Petir' yang ditayangkan di bioskop sejak 30 Agustus lalu menambah khazanah film anak-anak di Indonesia. Diproduseri oleh Abimana Aryasatya, film ini mengangkat cerita tentang pentingnya anak generasi digital untuk berteman, bermain bersama, bermimpi, dan berkarya di tengah kesibukan media sosialnya.

Berlokasi di Boyolali, Jawa Tengah, proses pengambilan gambar berlangsung selama sekitar 20 hari. Sepanjang proses syuting, para pemain merasakan keseruan tersendiri yang hingga kini masih berbekas di benak masing-masing.

"Behind the scene-nya seru. Di sana, kami mencoba hal yang baru," ucap Fatih Unru, salah seorang pemain film 'Petualangan Menangkap Petir', kala bertandang ke kumparan. Ia saat itu tidak sendiri, melainkan bersama para pemain lain, yakni Zara Leola, Bima Azriel, Putri Ayudya, dan Arie Kriting, serta Kuntz Agus, sang sutradara.

"Hari pertama itu kan ada pembiasaan, biar beradaptasi dengan lingkungan, kami ke suatu danau dan itu seru banget. Pas naik, aku jatuh. Zara juga jatuh gara-gara aku. Seru, berpetualang dengan mengelak kematian," lanjut Fatih disambut tawa rekan-rekannya.

"Tahu enggak, sih, anak kota baru kena danau-danauan, jadi ketika kepleset kayak, 'Aduh, aku mati enggak, ya?' 'No, kamu cuma kepleset,'" timpal Arie Kriting diakhiri tawa.

Para pemain film Petualangan Menangkap Petir (Foto: Instagram Abimana Aryasatya)

Zara tampak setuju dengan apa yang dikatakan Fatih. Menurutnya, mereka pun mengalami kejadian lucu setiap hari selama syuting.

"Everyday pasti ada kejadian lucunya. Kami bikin challenge dari salah satu aplikasi gitu," ucap penyanyi berusia 12 tahun tersebut.

"Mereka juga punya tos khusus," ungkap Putri Ayudya. Arie dan Bima kemudian mempraktikkan tos tersebut.

Trailer Film Petualangan Menangkap Petir (Foto: dok YouTube Petualangan Menangkap Petir)

Film 'Petualangan Menangkap Petir' berkisah mengenai Sterling, seorang anak yang dibesarkan secara ‘steril’ oleh sang ibu, Beth. Tinggal di keriuhan Hong Kong bersama orang tuanya, ia rajin mengunggah konten ke channel YouTube miliknya yang telah meraih puluhan ribu subscribber.

Suatu ketika, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan Sterling harus tinggal untuk sementara di rumah sang kakek, Eyang Slamet Raharjo, di Selo, Boyolali. Tatkala selama ini telah menganggap subscriber channel YouTube sebagai teman-teman sejatinya, ia merasa tidak nyaman kala tinggal di kawasan pegunungan.

Pertemuannya dengan Gianto, Neta, Wawan, Kuncoro, dan Yanto, rupanya memberikan pengalaman baru bagi Sterling. Ia perlahan mengenal asiknya berteman, berpetualang, bermain dengan beragam permainan masa kecil yang tidak pernah ia temui, hingga membuat film yang terinspirasi dari cerita legenda Ki Ageng Selo, Sang Penangkap Petir.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60