kumparan
10 Jun 2018 9:39 WIB

Lala Timothy Soal Biaya Produksi 'Wiro Sableng': Enggak Mungkin Murah

Lala Timothy di Meet and Greet Film Wiro Sableng. (Foto: Kumparan/ Giovanni)
Tahun ini, 'Wiro Sableng' adalah salah satu karya lokal yang dinantikan para penikmat film Tanah Air. Rencananya, film ini akan dirilis pada Agustus mendatang.
ADVERTISEMENT
Produser Sheila Timothy mengaku, saat ini timnya sedang fokus pada promosi film tersebut. Salah satunya adalah, dengan menyelenggarakan banyak meet and greet seperti yang digelar di Pekan Raya Jakarta, Jiexpo Kemayoran, semalam, Sabtu (9/6).
“Kita sudah mulai ngerilis teaser dari Desember, terus sedikit-sedikit sudah mulai keluarin, jadi animo tinggi banget, sih. Habis Lebaran gaspol deh, promonya,” kata perempuan yang akrab disapa Lala ini.
Lala Timothy. (Foto: Munady Widjaja)
Kata Lala, biaya produksi film yang diadaptasi dari novel karya Bastian Tito tersebut memang terbilang cukup mahal. Meski begitu, Lala enggan menyebutkan jumlah pastinya.
“Ini action, enggak mungkin murah. Ini fantasi, ini kolosal, dari situ saja sudah enggak mungkin murah,” tutur Lala.
Lala mengungkap bahwa biaya besar yang dikeluarkan untuk film yang melibatkan kru sebanyak 400 orang ini bertujuan untuk meraih kepuasan penonton. “Jadi ini kita berikan budget besar untuk penonton Indonesia supaya terpuaskan,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Produser berusia 46 tahun itu mengaku, setiap adegan dalam film 'Wiro Sableng' juga sudah dipersiapkan dengan sangat matang.
“Kayak misalnya, yang satu scene Marsha Timothy jadi bidadari itu cuma setengah menit, syutingnya sepuluh hari. Jadi, perlu dipikirin jedanya kapan, istirahatnya kapan,” jelasnya.
Keselamatan para pemain juga menjadi perhatian besar dalam setiap produksi film action. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat biaya produksi film 'Wiro Sableng' besar. “Make up juga iya, tapi yang paling besar biayanya ke produksinya itu sendiri,” kata Lala.
Dalam film ini, Lala tak merasa kesulitan untuk meletakkan sosok Wiro Sableng dalam segmentasi milenial. Sebab, selera generasi milenial saat ini kembali ke era '80-an dan 90-an.
ADVERTISEMENT
“Memang retro romantismenya masih tetap ada. Buat saya, itu masih kekinian juga, sama anak-anak sekarang,” pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·