kumparan
25 Jun 2018 11:03 WIB

Masa Kecil Ustaz Hari Moekti: Anak Tentara yang Tak Kenal Agama

Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
Hari Moekti, seorang rocker yang meninggalkan gemerlap dunia hiburan demi berhijrah dan menyebarkan dakwah, meninggal dunia pada Minggu (25/6) di sebuah rumah sakit di kawasan Jawa Barat. Ia wafat karena terkena serangan jantung.
ADVERTISEMENT
Sebelum memutuskan untuk menjadi seorang ustaz, pemilik nama lengkap Hariadhi Wibowo ini merupakan salah satu musisi terbaik yang dimiliki Tanah Air sekitar tahun 1980-an. Ia pernah bergabung dengan beberapa band seperti Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, dan New Bloodly Band. Hari juga bergabung bersama Makara pada tahun 1982 hingga 1985.
Tak banyak yang mengetahui tentang bagaimana kehidupan masa kecil Hari. Namun, ia sempat mendokumentasikan pengalaman masa lalunya tersebut melalui beberapa video yang ia unggah di channel YouTube pribadinya, Kang Hari Moekti.
Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
Dalam video pertama yang diunggahnya pada April lalu, ia bercerita jika dirinya merupakan putra dari seorang ayah yang berprofesi sebagai tentara. Ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan militer yang cukup keras kala itu. Hari berkisah, jika sejak kecil, ia tak pernah mendapatkan pendidikan agama yang memadai dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
"Kebetulan saat itu jauh dari agama, susah cari ustaz, orang tua saya juga tidak mengajarkan agama seperti sekarang-sekarang ini kan ada PAUD, ya. Itu sampai SD cari guru agama susah," katanya mula-mula.
Meskipun jauh dari ilmu agama, namun pria kelahiran Cimahi 25 Maret 1957 itu menyebut bahwa dirinya sudah diajarkan nilai-nilai kedisplinan dari ayahnya sejak usia dini. Ia diminta untuk menjadi pribadi yang rajin untuk berlatih demi meraih kesuksesan.
Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
"Ada kata-kata yang sampai sekarang saya jadikan moto, 'Berlatih adalah modal dari sukses, bekerja sekarang juga, jangan tunggu besok'. Itu terngiang terus itu, waktu kecil kalau ibu saya manggil, suruh ngepel, jengkel rasanya disuruh-suruh, ambil air, disuruh ke warung," kenang Hari.
ADVERTISEMENT
"Saya ngeluh, terus saya bilang ke ayah, 'Enggak enak nih saya sakit hati disuruh melulu', ayah bilang 'Bagus, orang yang disuruh terus berarti dia dinamis, bekerja terus'," lanjutnya.
Hari kecil juga pernah berkelahi dengan teman sebayanya, pemicunya adalah hal sepele khas anak-anak, yakni dicurangi saat sedang bermain kelereng. Saat itu, ia menangis setelah bertengkar dengan temannya tersebut. Mengetahui hal itu, sang ayah menyarankannya untuk mengikuti beladiri silat.
Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
"Sudah bisa silat, tapi bukannya mau ngebales, karena silat bukan untuk menyerang. Saya malah jadi dewasa, masa kecil saya sangat terkesan sekali sama bapak, Alm. RM Edi Wiyono, bijaksana sekali," ucapnya.
Memasuki SMP, Hari masih juga belum menguasai dasar-dasar ilmu agama. Namun, keinginan untuk mendalami ilmu agama dan mendekati diri kepada Tuhan mulai muncul dari dalam hatinya. Ia pun memiliki sebuah pengalaman yang tak dapat dilupakannya saat pertama kali mencoba untuk beribadah di masjid.
ADVERTISEMENT
"Setiap dengar azan yang cuma satu masjid, jauh di kampung Cimahi, terdengar sayup-sayup azan, selalu saya datangin itu masjid, zuhur. Pertama kali saya salat ke masjid kan ada tahiyatul masjid, kan saya lihat salat begitu zuhur 4 rakaat, ya sudah saya salat 4 rakaat, sebelum waktunya," terang Hari.
"Saya ditanyain, 'Salat apa kamu?' saya jawab tahiyatul masjid. Dijawab lagi, 'Itu mah 2 rakaat'. Kan enggak ngerti ya, tahunya zuhur 4 rakaat. Ya sudah akhirnya salat jamaah, pas sudah selesai, dibilangin, saya ngerti terus pulang. Susah sekali cari guru agama, enggak dapat-dapat," imbuhnya.
Hari Moekti Meninggal (Foto: harimoekti/instagram)
Karena sulit untuk mencari guru agama pada masa itu, Hari akhirnya memilih untuk bergabung dengan vocal group, dan dari situlah bakat bernyanyinya mulai terasah secara perlahan.
ADVERTISEMENT
"SMP ikut pertandingan nyanyi, teman-teman antusias, masuk SMA ikut vocal group. Saya masuk di sekolah, termasuk pimpinanlah. Kami mimpin angklung, sampai kita sempat ditampilkan di Hotel Homann, wih keren banget ada turis nonton. Tapi di situ saya nyanyi enggak pede, kok suara saya enggak keluar, ternyata minder dan enggak pede. Dari situ tekad latihan saya untuk bernyanyi lebih tinggi lagi," pungkasnya.
Hari meninggal dunia karena serangan jantung saat sedang berada di hotel. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Dustira oleh pihak keluarga untuk mendapat pertolongan pertama.
Namun sayangnya, nyawa da'i tersebut tak terselamatkan dan Hari mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 20.49 WIB. Hari dimakamkan di Cikereteg, Ciawi, Bogor.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·