Mengapa Netizen Senang Bully Artis?

5 April 2019 16:36 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Marak Cyberbullying pada Artis Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Marak Cyberbullying pada Artis Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan
ADVERTISEMENT
Sudah menjadi risiko seorang publik figur jika kehidupannya kerap jadi perhatian masyarakat. Tidak hanya saat di bawah lampu sorot panggung hiburan, tapi juga di kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Apalagi dengan berkembangnya media sosial, dimana masyarakat terasa semakin dekat dengan seorang artis atau publik figur.
“Hadirnya media sosial memang dapat membuat hubungan seseorang dengan figur publik terasa dekat,” ujar Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial dan Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, kepada kumparan.
Kedekatan itu yang kemudian membuat masyarakat mudah menyampaikan berbagai hal kepada artis. Baik itu pujian maupun kritik, atau juga bully (perundungan). Bahkan tidak jarang komentar yang ditinggalkan membuat si artis naik pitam, meski ada juga yang mengacuhkannya.
Psikolog Hellen Citra Dewi M.Psi., dari yayasan SEJIWA mengungkapkan, perundungan atau bullying pada dasarnya mengacu pada tindakan atau perilaku tidak menyenangkan, yang bisa dilakukan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Bentuknya bisa bermacam-macam, secara fisik maupun verbal.
ADVERTISEMENT
Termasuk perundungan di media sosial atau yang juga disebut cyberbullying. Tindakan tersebut bisa dilakukan oleh siapapun. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Hellen mengatakan, dalam melihat kasus bullying, kerangka berpikirnya haruslah dilihat dari perspektif korban. Sebab seringkali pelaku mengaku hanya bercanda atau seru-seruan. Namun jika korban merasa sakit hati atau tidak nyaman, secara psikologis, hal tersebut tetap disebut bullying.
“Seringkali pelaku mengatasnamakan bercanda ‘ah gue kan cuma bercanda, ya elah baper’. Jadi kita jangan lihat dari niat si pelaku, jangan lupakan perspektif korban dengan ketidaknyamanan yang dia rasa. Ini yang jarang diketahui orang, dan itu bisa dilakukan sekali atau berkali-kali,” kata Hellen kepada kumparan.
Artis Korban Bullying Foto: infografik:Nunki Lasmaria Pangaribuan/kumparan
Banyak hal yang membuat seseorang berani melakukan cyberbullying, termasuk kepada publik figur. Dan setiap orang punya dorongan yang berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
“Tapi salah satunya adalah secara psikologis, si orang ini memiliki dorongan agresifitas yang tinggi. Jadi dia melampiaskan dorongan yang besar ini kepada orang lain, siapa nih yang kelihatan lebih lemah,” ungkapnya.
Pola pengasuhan dari orang tua juga sangat berpengaruh. Anak yang mendapatkan pola asuh yang penuh dengan kekerasan, cenderung menjadi anak yang keras dan memiliki dorongan agresifitas yang tinggi. Dan hal ini bisa terbawa sampai si anak menjadi dewasa.
Ketika seorang anak dididik dengan keras oleh orang tuanya, secara naluri manusia ia butuh ruang untuk melampiaskan emosi negatifnya. Jika terjadi pada anak-anak, maka ia akan mencari objek untuk menjadi sasaran. Mungkin membully teman di sekolah yang dirasa lebih lemah.
Psikolog Hellen Citra Dewi M.Psi., dari yayasan SEJIWA Foto: ist/koleksi pribadi
“Atau ketika dia enggak punya media tersebut, dia cari artis yang dia enggak suka, cyberbulling ke artis-artis atau orang-orang yang dia enggak kenal langsung di media sosial,” kata Hellen.
ADVERTISEMENT
Inilah yang menurut Hellen membuat banyak artis jadi sasaran perundungan. Selain juga fakta bahwa apapun yang terkait dengan publik figur, akan selalu menarik perhatian masyarakat.
Di sisi lain, Hariqo Wibawa menjelaskan, terkadang ada artis yang sengaja memanfaatkan adanya komentar-komentar negatif di media sosial mereka. Atau dengan kata lain, mereka sengaja memperlihatkan diri sebagai korban perundungan di media sosial.
“Bisa jadi ini semacam cipta kondisi, bisa juga kondisi yang diciptakan. Dalam artian, orang melihat realitas itu seperti fakta padahal itu bikinan mereka sendiri dan mereka menikmati itu,” kata Hariqo.
Ia melihat bahwa ada pihak manajemen yang turut serta mengatur sosial media dari artisnya. Tujuannya adalah dengan membuat kontroversi untuk menaikkan popularitas.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari hal itu, Hariqo menjelaskan, mudahnya terjadi praktik cyberbullying saat ini karena tingginya penggunaan media sosial di masyarakat, terutama melalui perangkat smartphone.
Menurut Hariqo, di tahun 2017, sekitar 85 persen orang Indonesia mengakses internet lewat smartphone. Dengan setiap orang memiliki akun media sosial dan memfollow media sosial artis, artinya interaksi seseorang terhadap artis itu akan tinggi.
“Dan mereka mem-follow artis itu, jadi hubungannya semakin dekat. Kalau dulu mereka hanya bisa melihat di koran, radio atau di televisi, sekarang mereka merasa bisa berinteraksi dengan figur yang mereka idolakan sehingga ada engagement,” ujar Hariqo.
Konpers Netizen yang bully Shandy Aulia minta maaf. Foto: Ainul Qalbi/kumparan
Perundungan di sosial media saat ini sudah mengkhawatirkan. Hellen selaku psikolog mengatakan, perlu adanya kesadaran dari masing-masing pribadi masyarakat untuk dapat berpikir sebelum bertindak. Termasuk dalam menyampaikan suatu hal di media sosial yang ditujukan kepada seorang artis.
ADVERTISEMENT
“Kita lihat dulu apakah yang kita sampaikan, perilaku yang kita sampaikan, bagaimana diterimanya oleh orang lain? Apakah menimbulkan ketidaknyamanan psikologis? Misalkan apakah si korban merasa enggak nyaman dengan konten atau kata-kata yang kita sampaikan?” kata Hellen.
Kalaupun mengkritik, haruslah disampaikan dengan cara atau kalimat yang tepat. Dengan kalimat-kalimat positif.
“‘Eh lu badannya gendut’ misalkan, tapi memberikan kalimat positif ‘sebenernya gue merasa lo tetep keren kok, tapi alangkah baiknya…’ jadi tetap membangun harga diri lawan bicara kita,” kata Hellen.
Cyberbullying ini berbeda dari bullying langsung. Cyberbullying ini dampaknya sangat besar karena bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Itu yang bikin cyberbullying ini parah,” kata Hellen.
Bagaimana sebaiknya seorang artis bersikap ketika mereka menjadi korban bully? Simak di tulisan berikutnya dalam tema “Artis Sasaran Bully”.
ADVERTISEMENT