Pencarian populer

Optimisme Produser Raih Penonton Lewat Film di Musim Libur Lebaran

Pengunjung berfoto di depan poster film yang tayang di bioskop. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Film Indonesia menjamur pada libur lebaran tahun ini. Tengok saja di bioskop, setidaknya ada lima film Indonesia dengan genre berbeda yang tayang serentak pada 4 Juni lalu.

Rumah produksi Screenplay Films, misalnya. Mereka menyuguhkan film bergenre action comedy berjudul ‘Hit & Run’ pada momen libur lebaran tahun ini.

Pemilihan film yang dibintangi Joe Taslim, Jefri Nichol, Chandra Liow, dan Tatjana Saphira ini untuk tayang pada momen libur lebaran terbilang langka. Hal ini lantaran selama tiga tahun berturut-turut mengisi jadwal tayang di bioskop saat libur lebaran, Screenplay tidak pernah mengangkat film laga.

Screenplay sebelumnya menyuguhkan film bergenre horor, yakni ‘Jailangkung’ (2017) dan ‘Jailangkung 2’ (2018), bagi para penikmat film Tanah Air pada momen libur lebaran. Hasilnya pun memuaskan. Kedua film itu mampu meraup jutaan penonton.

Kesuksesan itu tak lantas membuat Screenplay berhenti berinovasi. Mereka membuktikannya dengan memberikan suguhan yang berbeda pada tahun ini melalui film ‘Hit & Run’.

"Kalau lihat film lebaran sebelumnya pasti temanya kalau enggak religi, komedi, horor, enggak ada yang action,” kata produser Screenplay Films, Wicky Olindo saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Pemain film Hit & Run saat berkunjung ke kantor kumparan, di Jalan Jati Murni No.1A, Jati Padang, Jakarta Selatan, Senin (15/4). Foto: Helmi Afandi/kumparan

Menurut Wicky, Screenplay bisa meraih keuntungan lewat penayangan film 'Hit & Run’ di momen libur lebaran. Dengan genre yang berbeda di antara film-film lainnya, ‘Hit & Run’ berpotensi menarik masyarakat untuk menyaksikan film itu di bioskop.

“Kadang menurut saya, penonton itu suka sesuatu yang enggak mainstream. Tiba-tiba ada action yang agak beda, mungkin penonton lebih suka,” tutur Wicky.

Selain ‘Hit & Run’, film Indonesia lainnya yang tayang pada momen libur lebaran ialah ‘Single 2’, ‘Si Doel The Movie 2’, ‘Kuntilanak 2’, dan ‘Ghost Story’. Mereka menawarkan kisah drama, komedi, maupun horor.

Wicky merasa tahun ini merupakan persaingan paling ketat di antara film-film yang tayang di momen libur lebaran. "Secara jumlah banyak dan secara (kualitas) juga ketat,” ucapnya.

Video

Produser Sunil Soraya tidak merasa risau meski banyak film Indonesia yang tayang di momen libur lebaran. Justru, ia senang melihat kondisi tersebut.

Menurut Sunil, banyaknya film Indonesia yang tayang saat libur lebaran berdampak positif untuk masyarakat, terutama bagi mereka yang hobi nonton film dalam negeri.

“Justru bagus. Audiens punya pilihan saat liburan dan mereka enggak bosan duduk di rumah, bisa nonton terus,” kata Sunil kepada kumparan saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta Pusat.

Dalam momen libur lebaran tahun ini, Sunil memutuskan menayangkan film karya sutradara Raditya Dika, yakni ‘Single 2’. Ada beberapa alasan yang membuatnya mengambil keputusan itu, salah satunya adalah sosok Raditya sendiri.

Sebelum ‘Single 2’, Raditya telah menyutradarai beberapa film seperti ‘Target’ dan ‘Hangout’. Di sisi lain, masyarakat tentu memiliki ekspektasi tinggi terhadap pria berusia 34 tahun yang sudah menelurkan banyak karya itu.

Selain itu, menurut Sunil, Raditya juga mengangkat kisah yang memang dialami oleh sebagian orang lewat film ‘Single 2’. Hal ini menjadi nilai tambah bagi film yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films tersebut.

Video

“Orang bisa ngerasa, ‘Gue juga gitu.’ Walaupun saya punya film lain, tapi film Raditya Dika memang cocok buat lebaran,” tutur Sunil.

Film ‘Single’ perdana tayang di bioskop pada 17 Desember 2015 dan mampu meraup 1.351.324 penonton. Namun, Sunil mengaku tidak memasang target jumlah penonton ‘Single 2’. Sebab, bagi dia, yang terpenting ialah para penonton merasa senang usai menyaksikan film tersebut.

Sunil mengatakan, kepercayaan penonton terhadap film produksinya akan berdampak positif pada garapannya selanjutnya. Itu sebabnya, ia berusaha menghasilkan film-film yang terbaik bagi masyarakat.

“Saya harus keep up terus dengan box office. Kalau turun, kepercayaan bioksop turun, kepercayaan penonton juga turun,” ujar Sunil.

Infografik Adu Kuat Film Musim Lebaran Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan

Rano Karno, produser sekaligus sutradara dan juga pemain film ‘Si Doel The Movie Part 2’ tidak menampik jika film-film yang tayang di libur lebaran dalam beberapa tahun belakangan adalah film-film terbaik. Termasuk tahun ini.

Rumah produksi benar-benar menyiapkan film terbaiknya, dan eksibitor juga melakukan seleksi ketat dalam memilih film terbaik untuk disajikan ke penonton.

Namun ia tidak beranggapan bahwa kehadiran film-film terbaik membuat persaingan makin ketat. Menurutnya, industri perfilman tanah air saat ini sudah semakin baik. Bahwa stakeholder perfilman telah mengkaji skema terbaik di setiap momen untuk mendulang penonton. Film yang dihadirkan mewakili setiap genre film.

“Sehingga saya melihatnya bukan bersaing, tapi bagaimana memberikan pilihan terhadap penonton. Mau komedi zaman now ke ‘Single Part 2’, action lucu-lucuan bisa nonton ‘Hit n Run’, horor ‘Kuntilanak 2’ dan sebagainya. Jadi bisa aja mereka dalam satu hari bisa nonton tiga film,” kata Rano Karno.

Meski banyak film Indonesia yang tayang di momen libur lebaran, Rano Karno selaku sutradara ‘Si Doel The Movie 2, percaya film terbarunya bisa mendulang kesuksesan seperti film terdahulunya. Sebelumnya, film ‘Si Doel The Movie’ yang tayang pada 2 Agustus 2018 berhasil meraih 1.757.653 penonton.

Rano merasa yakin karena ‘Si Doel’ memiliki penggemar fanatik. Sehingga, mereka tidak mungkin kelewatan untuk menyaksikan kelanjutan kisah cinta segitiga antara Doel-Sarah-Zaenab dalam ‘Si Doel The Movie 2’.

“Kalau ‘Si Doel 1’ sampai 1,7 juta, saya yakin minimal sama lah jumlah penontonnya dengan tahun lalu, karena 'Si Doel’ punya penonton fanatik,” kata Rano saat ditemui di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Video

Rano tidak mengkhawatirkan persaingan film yang tayang saat libur lebaran. Sebaliknya, ia merasa senang karena penonton memiliki banyak pilihan ketika menonton film di bioskop.

Rano menyebut perilisan film saat libur lebaran begitu menguntungkan. Tidak sedikit orang yang meluangkan waktu untuk menonton film ketika libur.

“Kan lebaran itu orang biasanya libur dan punya waktu untuk nonton,” ucap Rano.

Hal senada disampaikan Ernest Prakasa yang kali ini duduk di kursi produser dalam film ‘Ghost Writer’. Dibanding harus terbelenggu kekhawatiran bersaing dengan film lebaran lain, ia lebih melihat sisi positif ramainya opsi genre film bagi masyarakat.

Dengan ragam genre yang ditawarkan, menunjukkan bahwa industri perfilman tanah air sudah selangkah lagi lebih maju. Para produser tidak lagi sekadar mengikuti tren, tapi berupaya memberikan pilihan bagi penonton.

“Aku selalu percaya kualitas industri kita itu ditentukan dengan ragam genre. Kita pernah punya booming film Indonesia sekitar satu dekade lalu, tapi karena genrenya seragam horor semua waktu itu, akhirnya begitu orang jenuh anjlok semua (penonton)," kata dia.

Ernest Prakasa Foto: Munady

“Dengan beragam genre yang dihadirkan, ketika memang (film) horor trennya sedang turun, tidak semua (film) ikut turun. Jadi itu pentingnya variasi genre,” ujarnya.

Meski demikian, sebagai industri, Ernest tetap berharap filmnya dapat mendulang banyak penonton. Karena itu ia benar-benar menyiapkan filmnya sebaik mungkin dengan memberikan sentuhan berbeda dari film-film lain yang pernah digarapnya.

“Seperti momen libur lebaran itu identiknya sama acara keluarga, jadi kita berusaha nyocokin apakah film kita ini family friendly untuk ditonton keluarga. Dan lebaran ini kita bikin horor komedi berbalut drama keluarga,” kata Ernest.

“Walaupun masuk kategori 13+, tapi rasanya buat ditonton liburan keluarga itu cocok, makanya akhirnya dirilisnya di lebaran,” ujarnya.

Video

Pengamat perfilman Shandy Gasella menyimpulkan, keberagaman genre sangat baik bagi perfilman Indonesia. Masyarakat benar-benar bisa memilih film yang ingin mereka tonton.

Namun ia mengingatkan, hingga kini belum ditemukan rumus jitu cara melariskan film. Produser atau tim marketing hanya bisa berspekulasi, tetapi pasar jugalah yang menentukan.

“Teorinya, orang akan berbondong-bondong ke bioskop pada momen libur lebaran, tetapi film apa yang mereka tonton tentu sudah mereka pertimbangkan dengan alasan-alasan tertentu, misalnya faktor familiaritas terhadap cerita, aktor, dan faktor-faktor lain,” ujarnya.

Video

Jadi, libur lebaran kalian akan ke bioskop?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32