Pencarian populer

Pesona Sulap Klasik Mister Lie

Kalau saya sulap, saya bisa melupakan segala-galanya.

Sulap itu berarti sekali bagi kehidupan saya, sehingga saya sampai umur sekarang ini masih oke. Tangan dan otak masih jalan. Terima kasih pada yang Yang Kuasa.

***

Mister Lie berjalan pelan menuju mobil merahnya. Dompet sudah tersimpan rapi di kantong celana. Umurnya sudah senja, tapi ia memilih untuk mengendarai mobil itu sendirian.

“Saya mau potong dan semir rambut,” katanya, bergegas.

Mobil dinyalakan, ia duduk di kursi kemudi. Tak lama, mobil mundur perlahan.

“Mister mau ke mana?” tanya seorang remaja laki-laki.

“Mau ke tukang cukur, biar rapi rambutnya,” balas dia.

Hari itu, Sabtu (16/9), Mister Lie secara khusus merapikan rambutnya yang menipis. Ia terlihat begitu semangat. Sebabnya, hari Minggu ia akan beraksi di depan anak-anak gereja, sambil berbagi kisah soal sulap.

Duh, asyiknya.

Mister Lie. (Foto: Helmi Abdullah/kumparan)

Sudah hampir 70-an tahun lamanya Gito Hendra Lie, yang akrab dengan nama panggung Mister Lie, menaruh hati--dan jiwanya--pada dunia sulap.

Sejak masih duduk di bangku SD sekolah Tionghoa pada masa pendudukan Jepang, diam-diam dia sering membaca buku sulap koleksi ayahnya yang terbit pada 1930-an. Buku itu ditulis dalam Bahasa Melayu, berjudul Ilmoenja Toekang Soelap.

“Dari kecil saya memang suka sesuatu yang aneh-aneh. Kemudian, secara tidak sengaja mungkin, saya buka lemari ayah saya, ternyata ayah saya tuh juga suka (sulap). Dia punya koleksi buku lama dalam Bahasa Melayu,” cerita Lie pada kumparan, Sabtu (16/12).

Seakan mengandung mantra, buku-buku itu membuat Lie menjadi tergila-gila akan sulap. Kegilaan itu merasuk, hingga ia tak bisa dipisahkan dari ihwal sulap menyulap.

“Setelah sering membaca buku sulap, suatu saat tergigit oleh kutu sulap alias tergila-gila dengan ilmu sulap,” kata Lie.

Kecintaan--pula bisa disebut kegilaan--Lie pada sulap mewujud dalam aksi pertunjukan sederhana di hadapan kawan sepermainannya. Bermodal kertas dan kecekatan tangan, Lie memberanikan diri untuk menampilkan sulap perdananya.

“Saya menyajikan pertunjukan bukan sulap bukan sihir--kertas dimasukkan mulut, lalu bisa hilang,” ujarnya.

Mister Lie. (Foto: Helmi Abdullah/kumparan)

Di umurnya yang menginjak 83 tahun kini, Lie tampak bugar. Suaranya masih jelas terdengar, ingatannya pun tak melemah. Dia masih ingat betul saat harus berpisah sementara dari dunia sulap yang ia cinta. Saat itu, situasi politik Indonesia yang bergolak memaksa Lie berpindah-pindah sekolah.

“Saya pindah dari sekolah China ke sekolah Belanda. Di situ nggak ada sulap,” kenangnya.

Kali pertama Lie kembali bersentuhan dengan dunia sulap dimulai kala ia mengenyam pendidikan tinggi pada 1959. Bandung, tempat ia belajar, menjadi saksi bisu tapak langkahnya mengejar asa menjadi pesulap.

Di Magic Centre, Lie muda mengikuti Kursus Sulap Tertulis yang digelar Ang Tek Tjwan--yang kemudian menjadi guru sekaligus pesulap idolanya.

Lie dan para murid lain yang belajar di sana menerima magic kit--sebuah kotak kayu persegi panjang berisi berbagai alat sulap kecil dan sebuah buku panduan tentang bagaimana cara memainkan alat-alat tersebut.

Sebulan sekali dia datang ke studio untuk mendapatkan pelajaran dari para guru sulap, salah satunya mendiang Pak Gatot.

Lie paham, menjadi seorang pesulap sejati butuh dukungan dari berbagai pihak, juga perlu membangun jaringan dengan pesulap lain. Maka, saling berbagi ilmu dan terus belajar agar kian sempurna dalam penguasaan trik, menjadi kunci yang selalu ia pegang.

Lie terus mencari dan membangun kelompok di daerahnya. Di Jakarta misalnya, ia berguru pada Tan Tek Hok (Pipih Sutanto) yang pada pertengahan tahun 1950-an pernah menjadi ketua Persatuan Achli Sunglap Indonesia.

Sementara, jika tengah bertandang ke Surabaya, Lie berguru pada Max Tan Hok Wan (Max Gunawan), mantan manajer Gudang Garam yang telah melahirkan para pesulap di kota itu.

“Dengan begitu, ilmu dan kemampuan saya berkembang terus,” kata Lie.

Gagal, dan Tetap Gigih

Mister Lie. (Foto: Helmi Abdullah/kumparan)

Puluhan tahun mengarungi dunia sulap memberi banyak pelajaran--kegagalan dan kesuksesan--bagi Lie. Setiap langkah itu memberi kesan dan kisah tersendiri baginya.

Kegagalan terjadi saat ia beraksi di Surabaya. Lie memainkan trik mengubah asap lilin menjadi kain sutra. Bagi Lie, trik itu sebetulnya sederhana. Hanya, sesederhana apapun triknya, sebuah aksi tetap membutukan keterampilan tangan dan jam terbang mumpuni. Sementara Lie saat itu masih belum sempurna memainkannya. Alhasil, triknya terbongkar.

“Saya sulap lilin, korek api, dari korek api nyalakan lilin, dari asap lilin menjadi kain sutra. Kain sutra dikebet kemudian dimasukkan tangan, lalu jadi telur. Sebetulnya itu sederhana--kalau sekarang. Cuma karena tangan masih kurang sempurna, telurnya jatuh,” kata dia, tertawa.

Kegagalan tak menghentikan Lie untuk belajar dan menyempurnakan tekniknya.

“Dari kegagalan itu saya belajar. Kalau ada anak muda belajar (sulap), dibimbing (mentor sulap) yang bagus, akan jadi seorang pesulap yang jempolan,” ujar Lie.

Setia pada Sulap Klasik

Mister Lie beraksi. (Foto: Helmi Abdullah/kumparan)

Sulap berkembang seiring zaman. Trik, dengan segala kesederhanaan pula kerumitannya, semakin beragam. Jika semula mengandalkan kecekatan, ketepatan, dan kecepatan tangan dalam memainkan alat dan trik, kini teknologi telah merasuki dunia sulap--membuatnya semakin ajaib dan mahal.

Namun Lie tetap sama dan setia.

Sebagai magic historian yang telah melampaui enam dekade dunia persulapan Indonesia, Lie menyadari semakin banyak perbedaan yang muncul dalam pertunjukan sulap. Alat yang semakin canggih dan trik yang semakin rumit, membawa euforia baru dalam dunia sulap.

“Saya melihat sulap itu ada masanya. Makanya ada yang dinamakan teknik klasik dan modern. Kalau klasik itu banyak menggunakan alat-alat kecekatan tangan. Kalau sekarang canggih, ada alat elektronik ikut. Sehingga pakai layar nanti bisa keluar orang segala macam,” kata Lie.

Walau sulap klasik mulai ditelan trik yang lebih modern, cinta Lie pada sulap klasik tak redup. Baginya, sulap klasik mampu menghadirkan tiga unsur penting dalam sebuah permainan sulap: amazing, amusing, entertaining.

Lie ingin dikenang sebagai seorang pesulap klasik profesional yang mampu bermain dengan sempurna, sehingga ia terus menekuni sulap klasik--walau usianya tak lagi muda.

“Kalau amatir, dia tercecer, semua dipelajari, karena dia nggak tau. Kalau profesional, nggak begitu. Dia bermain jenis itu terus, tapi permainannya sempurna. Itu yang saya pegang,” kata Lie.

Mister Lie, pesulap klasik Indonesia. (Foto: Helmi Abdullah/kumparan)

Lie paham betul sulap masih kerap dipandang sebelah mata. Mulai dari anggapan profesi pesulap tak banyak memberikan hasil memuaskan, hingga dikaitkan dengan dark magic atau ilmu hitam lantaran aksinya yang ajaib.

Padahal, menurut Lie, sulap punya manfaat nyata yang bisa dirasakan oleh sang pesulap maupun khalayak.

Bagi mereka yang telah memasuki usia senja, Lie melihat sulap amat bermanfaat untuk menjaga kelenturan fisik--terutama tangan--dan mental. Tentu, Lie yang sudah menginjak umur kepala delapan sungguh merasa sulap membantunya untuk terus lihai dan memiliki daya ingat kuat.

“Misal, karena tangan mesti bergerak (latihan sulap), jadi tidak terjadi kekakuan. Ini membanggakan secara fisik dan mental untuk orang tua,” kata Lie.

Untuk anak muda, sulap dapat menjadi media pendidikan yang efektif dan menambah motivasi untuk belajar.

“Misalnya di kelas kursus, itu menarik. Kadang ada orang tua yang bilang anaknya malas datang. Tetapi karena di kursus itu hadir saya, Mister Lie, apalagi kelas selalu didahului dengan pertunjukan, mereka terus jadi datang. Otomatis saya bisa gunakan sulap ini untuk memotivasi mereka membuat PR, berkreasi, dan lain-lain,” ujar Lie.

Mister Lie, Pesulap Klasik (Foto: Charles Brouwson/kumparan)

Menua dan setia sebagai pesulap adalah jalan Mister Lie. Ia sadar, dunia sulap memang up and down. Namun ia selalu percaya, sulap telah menjadi dunia baginya sejak dilahirkan. Karenanya, tak pernah sekalipun ia hilang harapan pada dunia sulap Indonesia.

Ada banyak harapan yang ia daraskan untuk persulapan Indonesia, terlebih agar sulap tak sekadar euforia musiman yang lalu lenyap ditelan zaman. Lie percaya, sulap Indonesia tak akan pernah mati.

Tekun, terus menjadi tekun, pesannya.

6 Aliran Sulap (Foto: Sabryna Muvioal/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: