Pencarian populer

Pro dan Kontra Tidur dengan Bibir Diplester seperti Andien Aisyah

Tidur plester ala Andien Aisyah. Foto: Instagram @andienaisyah

Penyanyi jazz Andien Aisyah tidak hanya dikenal di panggung tarik suara. Gaya hidupnya telah menjadi inspirasi banyak orang, termasuk Buteyko Breathing yang ia kenalkan melalui fitur Instagram (IG) stories akhir-akhir ini.

Buteyko Breathing merupakan teknik pernapasan untuk mengoptimalkan oksigen. Dikutip dari Innovative Medicine, Kamis (11/7) motode ini ampuh untuk mengurangi stres. Teknik ini ditemukan oleh ilmuan kesehatan asal Rusia, Konstantin Buteyko, pada 1950-an.

Melalui IG storiesnya, Andien mengungkapkan sudah lama mempraktikkan teknik tersebut bersama dengan suami dan anaknya. Caranya cukup unik, yakni dengan menempel plester micropore (yang biasanya digunakan untuk operasi) pada bibirnya sebelum tidur.

Tidur plester ala Andien Aisyah Foto: Instagram @andienaisyah

"Sudah selama beberapa bulan terakhir kita kalau tidur diplester," tulis Andien melalui Instagramnya, Sabtu (6/7).

Sebelumnya, Andien mengaku mendapatkan paparan soal Buteyko Breathing dari workshop Gobind Vasdev, penulis sekaligus trauma healer.

"Aku sempat dengar dari salah satu guruku mengenai tidur, lebih enak mulutnya diplester, tapi tidak menanggapi secara serius," kenang Andien.

Lalu, ia menanyakan langsung kepada Gobind perihal teknik pernapasan tersebut di workshop Buteyko pada awal 2019.

"Mas Gobind mengutarakan bahwa kita selama ini ada sekitar 200 penyakit kronis yang disebabkan kesalahan cara kita bernapas," tambah Andien.

Untuk mempraktikkan teknik ini, Andien memulai dengan memplester mulutnya sebelum tidur. Ia mengaku banyak manfaat yang dirasakan dengan cara seperti ini setelah dilakukan berbulan-bulan.

Tidur plester ala Andien Aisyah. Foto: Instagram @andienaisyah

Salah satunya adalah mendapatkan tidur yang berkualitas. Ia juga merasa badannya lebih segar saat bangun. Termasuk hilangnya bau mulut setelah bangun tidur.

"Dulu. kalau malam suka batuk karena tenggorokan kering, sekarang enggak pernah lagi," tulis Andien.

Selain menceritakan pengalaman pribadinya, Andien juga mengajak follower-nya untuk mempraktikkan teknik ini.

"Kalau belum mempunyai kesempatan Buteyko Breathing, mulai dengan memplester mulut ketika tidur," ajak Andien.

Beberapa netizen pun mencoba teknik yang sama. Melalui stories yang dibagikan Andien, banyak netizen yang merasakan manfaat yang sama.

"Enggak ada batuk-batuk sampai nangis, sampai akhirnya (bisa mimpi) lagi," tulis akun Adhani Siregar.

Efek yang sama juga dirasakan oleh Menur Soekarno. Melalui chat yang dishare Andien, Menur telah mencoba teknik yang sama dengan sensasi efek yang kurang lebih mirip.

"Enak banget, kalau bangun tenggorokan enggak kering," tulis Menur.

Meski banyak yang merasakan manfaat positifnya, teknik memplester bibir seperti Andien ini menuai kontra. Salah satunya diungkapkan Ferdiriva Hamzah melalui cuitannya di Twitter, Rabu (20/7).

Selain Hamzah, dokter residen di RS Cipto Mangukusumo, Dewi Boedhiyono turut menanggapi teknik memplester bibir sebelum tidur. Dewi menuliskan pendapatkan melalui IG stories pada Rabu (20/7).

Berikut kutipan tulisan Dewi yang tertuang dalam IG storiesnya.

Baru membaca highlight seorang artis mengenai mouth breathing dan dia mencoba terapi tidur dengan mulut diplester.

Jadi inget punya utang ngebahas mengenai hipertorfi adenoid.

Jadi baiknya, bila ada gejala seperti mouth breathing (bernapas melalui mulut, mulut terbuka) atau snoring (mengorok) saat tidur, baiknya segera ke dokter THT, ya. Jangan mencoba-coba untuk melakukan tindakan seperti memplester mulut saat tidur sebelum tahu kondisi yang sebenarnya.

Penjelasan Dewi Boedhiyono terkait blokade pernapasan. Foto: Instagram @dewiboedhiyono
Penjelasan Dewi Boedhiyono terkait blokade pernapasan. Foto: Instagram @dewiboedhiyono

Apa sih itu SDB dan OSA?

Singkatnya: kita memiliki otot di sekitar tenggorok(an) untuk mengatur pernapasan saat bicara, menelan, dan bernapas itu sendiri. Nah ketika tidur, otot tersebut tidak terlalu aktif dan menyempit.

Pada penderita SDB atau OSA, ketidakcukupan oksigen dan meningkatnya karbondioksida akan menyebabkan kondisi yang disebut apneu atau hyponeu.

Pada sebagian orang, hal tersebut tidak akan mempengaruhi pernapasan, namun pada penderita SDB atau OSA terjadi sumbatan aliran udara.

Sumbatan yang terjadi menyebabkan tidur mengorok, mulut terbuka, dan terkadang terbangun tiba-tiba sebagai 'alarm' tubuh untuk mengaktivasi otot. Oleh karena itu, penderita tidak pernah mendapatkan tidur dalam (deep sleep) di mana hal tersebut membuat adanya ngantuk sepanjang hari (daytime sleepness).

Apa sih penyebabnya?

  1. Faktor anatomi (bentuk) saluran napas atas yang kecil: pertumbuhan tulang wajah dan tengkorak tiap orang berbeda. Mulut dan rahang yang kecil, lidah yang besar secara genetik.

  2. Obesitas yang dihitung berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMBT).

  3. Pembesaran tonsil (amandel) dan adenoid yang biasa pada anak terutama anak dengan alergi atau syndrome tertentu.

Gejala utama yang tadi sudah disebutkan seperti: tidur mendengkur dan mulut terbuka, kelelahan dan ngantuk sepanjang hari. Gejala tambahan yang dapat timbul antara lain:

  1. Pusing, mulut kering dan sakit tenggorok(an) di pagi hari.

  2. Sering terbangun saat tidur, terkadang sampai terengap-engap dan ingin pipis.

  3. Sulit berkonsentrasi dan sulit mengingat (lupa).

  4. Mudah lelah.

Komplikasinya apa (s)aja sih?

Yang pastsi quality of life jadi menurun. bagi anak, hal tersebut dapat menganggu konsentrasi saat belajar sehingga menurunnya prestasi. Begitu juga orang dewasa menurunnya kinerja saat bekerja.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pasien dengan OSA meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah)

Dengan penjelasan singkat tersebut, bila ada gejala yang disebutkan pada anggota keluarga baik dewasa atau anak, baiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis THT-KL. Diagnosis akan menentukan tatalaksana yang yang tepat. Jadi jangan bertindak tanpa adanya dasar ilmu yang tepat.

Terima kasih teman-teman semua sudah membantu repost. Hal tersebut berguna buat meluruskan pandangan yang menurutku kurang tepat dan dapat menjadi salah pada orang tertentu.

Penjelasan Dewi Boedhiyono terkait blokade pernapasan. Foto: Instagram/ @Dewi Boedhiyono

Bila kita menerapkan sesuatu teori ke diri sendiri mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau sudah meng-courage (mengajak) orang lain untuk ikut teori tersebut, yang pasti harus dipertanggungjawabkan ya. Karena akan fatal banget bila sampai salah target.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60