kumparan
19 Mar 2018 21:20 WIB

Radja soal Pembajakan: Yang Dibajak Itu Lagu-lagu yang Enak

Grup band Radja (Foto: Munady Widjaja)
Sulit untuk menghilangkan pembajakan sebuah karya cipta di Tanah Air. Apalagi, di era digital seperti sekarang ini.
ADVERTISEMENT
Namun, di tengah maraknya pembajakan di era digital, ada beberapa orang yang sudah tidak mau ambil pusing mengenai hal itu. Gitaris Radja, Moldyansyah Kusnadi, misalnya. Pembajakan membuat band-nya memutuskan untuk memiliki publishing sendiri.
“Jadi, untuk urusan menyangkut copyright, itu ada yang menangani,” kata Moldy ketika ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Senin (19/3).
Menurut Moldy, ia dan anggota Radja yang lain hanya bisa mengimbau Para Radjaku--sebutan untuk fans Radja--dan seluruh penikmat musik agar menolak keras pembajakan.
Grup band Radja (Foto: Munady WIdjaja)
“Urusan karya itu dibajak atau dicuri orang kadang bukan wilayah kita. Susah untuk memagari itu,” ucapnya.
Gitaris kidal itu juga menuturkan bahwa sangat sulit untuk menghindari pembajakan di Indonesia. Tak hanya itu, Moldy juga melihat pemerintah sendiri juga kesulitan menangani hal tersebut.
ADVERTISEMENT
“Biarin saja karena pemerintah sendiri yang berkompeten juga tidak bisa. Bahkan dulu, zaman Pak SBY sebagai pencipta lagu saja, karya Beliau dibajak. Presiden lho itu,” kata Moldy. “Jadi yang ngeberesin pembajakan ya, pemerintah, bukan wilayah kita. Kita hanya berkarya dan berkarya. Kalau dibajak ya, Alhamdulillah berarti lagu kita enak.”
Ya, Moldy memilih untuk mengambil sisi positif dari pembajakan yang juga sempat dirasakan band-nya tersebut di masa keemasannya.
“Bicara khawatir, nothing to lose saja, sih, karena logikanya yang dibajak itu pasti lagu-lagu yang enak, dan terkenal. Karena ‘Jujur’ itu juga meledak karena dari yang membajak,” tukasnya.
Beberapa waktu lalu, Radja merilis single terbaru mereka, ‘Malaikat Cinta’. Menurut Ian Kasela selaku vokalis, lagu terbaru mereka itu mengambil momen tentang sebuah perasaan yang tidak bisa dihindari oleh manusia.
ADVERTISEMENT
“Seluruh makhluk yang bernyawa itu mempunyai perasaan dan itu tidak bisa kita pungkiri. Semua ada di hati kita,” katanya saat ditemui dalam kesempatan yang sama.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan