kumparan
27 Jul 2018 21:20 WIB

Resah, Polka Wars Ingin 'Rekam Jejak' Peristiwa Politik di Indonesia

Polka Wars (Foto: instagram.com/polkawars)
Pada 18 Juli lalu, grup musik asal Jakarta, Polka Wars, menelurkan dua single baru bertajuk 'Mapan' dan 'Rekam Jejak' berserta video liriknya di YouTube. Usai menyanyikan dua single tersebut di festival We The Fest 2018, kini grup musik yang diperkuat oleh Karaeng (gitar, vokal), Billy (gitar), Dega (bas gitar), dan Deva (drum), itu pun berencana merilis video klip lagu 'Rekam Jejak'.
ADVERTISEMENT
Jelang rilis, pada Senin (30/7), Polka Wars menggelar konferensi pers di Qubicle Center, Senopati, Jakarta Pusat, pada Jumat (27/7). Billy selaku pencipta 'Rekam Jejak' bercerita bahwa lagu tersebut merupakan sumbangan suara Polka Wars mewakili banyaknya agen perubahan di Indonesia dari masa ke masa yang kerap terlupakan dan terasing.
"Selama peradaban manusia berjalan, akan selalu ada struggle dan enggak semua agen perubahan itu dibuatkan patung, ada juga yang tenggelam dan hilang. Jadi, kami coba bernyanyi untuk pahlawan yang hilang tersebut," ungkap Billy penulis lagu 'Rekam Jejak'.
Billy pun menuturkan bahwa 'Rekam Jejak' mulai digarap pada tahun lalu, tepatnya saat isu pemilihan Gubernur DKI Jakarta tengah memanas. Diiringi dengan kebiasaan Billy membaca puisi-puisi bertema perjuangan, dia kemudian memberi perlakuan berbeda dalam proses penulisan lagu 'Rekam Jejak'.
ADVERTISEMENT
"Biasanya kan gue kalau buat lagu, cari musiknya dulu baru lirik. Ini gue tulis dulu kata-katanya, dan akhirnya liriknya itu seperti bersajak. Kemudian, gue coba nyanyi pakai gitar, gua cari chord, akhirnya tertulislah lagu ini," tuturnya.
Selain puisi untuk mengenang para agen perubahan Indonesia yang 'hilang', Billy pun menyampaikan bahwa ia sangat resah dengan kondisi politik Indonesia yang saat ini terus memanas. Single 'Rekam Jejak' dari Polka Wars bisa jadi satu representasi bagaimana cara Indonesia berpolitik dapat berdampak buruk. Buruk tak hanya bagi rakyat, namun juga Indonesia sebagai negara.
"Intinya sih, kita semua punya sisi humanis. Tahun lalu memang lagi menumpuk banget di kepala soal ketidakadilan di Indonesia. Gue begah, kok, begini banget, ya? Misalnya, isu, ras, dan agama yang akhirnya dikutip untuk kepentingan beberapa elite. Black campaign-nya tuh terlalu parah. Mau menang boleh, tapi caranya yang baguslah," kata Billy.
ADVERTISEMENT
Pada 4 Agustus mendatang, politik Indonesia kembali menatap babak baru dengan adanya pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin pada 2019 hingga 2024. Bisa diprediksi ranah politik Indonesia akan kembali terik seperti tahun lalu.
Perilisan video klip 'Rekam Jejak' pun sangat dekat dengan salah satu peristiwa politik terpenting di Indonesia tersebut. Kendati Deva mengatakan bahwa Polka Wars tidak berusaha untuk mencocok-cocokkan tanggal rilis dengan pendaftaran Capres-Cawapres, ia tetap berharap video klip 'Rekam Jejak' bisa jadi satu pengingat agar tahun ini kebobrokan politik yang merugikan rakyat tidak terulang kembali.
"Kalau soal bakal ada pendaftaran calon presiden bulan depan ya semoga kita bisa mengiringi saja, sih. Cuma ya, namanya juga band indie. Ya, effort kita dari sisi uang dan lain-lain memang baru bisa rilis tanggal 30," ujar Deva seraya terkekeh.
ADVERTISEMENT
Masih tiga hari jelang rilis, Polka Wars belum mau membongkar isi video klip 'Rekam Jejak'. Kendati demikian, melalui Instagram mereka, sudah dirilis sebuah video yang memperlihatkan satu ruangan tua gelap dengan banyak potongan koran tertempel di dinding.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan