Pencarian populer
5 Mei 2018 10:33 WIB
0
0
Sha Ine Febriyanti Lebih Nyaman Main Teater daripada Sinetron
Sha Ine Febriyanti (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)
Pada era 90-an nama Sha Ine Febriyanti menjadi salah satu aktris yang populer. Ia beradu peran dengan mendiang Sophan Sophiaan dalam sinetron ‘Darah Biru’. Setelah itu, perempuan yang akrab disapa Ine ini membintangi sinetron ‘Dewi Selebriti’.
Baru dua kali bermain sinetron, perempuan kelahiran 18 Februari 1986 ini merasakan sesuatu yang kurang tepat. Hingga akhirnya, Ine mendapat tawaran untuk bermain teater di tahun 1999. Ia pun merasa kalau teater adalah tempat yang cocok untuknya.
“Pada saat itu baru dua kali (main sinetron) aku berontak ‘bukan ini yang dicari’. Akhirnya, alhamdulillah saya pertama kali dapat kesempatan berteater di teater lembaga bawain ‘Miss Julie’ di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Maksudku, itu ruang yang tepat mulai berteater,” kata Ine saat ditemui di Cafe Ombak, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (4/5).
Bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, menjadi saksi awal mula perjalanan Ine dalam dunia teater. Membawakan karya dramawan asal Swedia, Johan August Strindberg berjudul ‘Miss Julie’ dan dimainkan bersama Teater Lembaga IKJ.
Kala itu, Ine mendapat beberapa tawaran untuk bermain sinetron. Namun, ia memilih untuk menekuni seni berteater. Padahal, jika melihat dari segi pendapatan, upah teater sangat jauh dibandingkan bermain sinetron.
“Mungkin pada awalnya saya dibilang selebriti nanggung, saya memilih di dunia teater ya memang miskin bangetlah ya. Kita latihan tiga bulan, dibayar cuma tiga juta, nombok juga gitu kan,” bebernya.
Loading Instagram...
Kendati demikian, ia tidak pernah menyesali akan keputusannya. Bagi perempuan 42 tahun itu, teater menjadi salah satu bentuk investasi. Bicara investasi, tidak melulu soal rupiah.
“Saya pikir investasi tidak selalu harus uang ya. Dari teater saya mendapatkan apa yang disebut lebih dari uang,” jelas pemain film 'Nay' itu.
Ine yang baru saja menampilkan monolog Cut Nyak Dhien di Fort Rotterdam, Makassar, berandai-andai jika dahulu dirinya memilih sinetron. Maka, saat ini tentu ia tidak bisa berdiri sebagai Ine yang penuh semangat.
“Kalau saat itu saya memilih sinetron, habis saya, hari ini saya tidak punya apa-apa. Enggak punya spirit, dikenal itu relatif. Yang penting itu investasi saya terbayar sekarang,” tutupnya.
Pentas Monolog Cut Nyak Dhien (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: