Pencarian populer

Sha Ine Febriyanti Perankan Cut Nyak Dhien dalam Pentas Monolog

Pentas Monolog Cut Nyak Dhien (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)

Fort Rotterdam, Makassar, dipilih menjadi lokasi pertunjukan Pentas Monolog Cut Nyak Dhien yang diselenggarakan pada pukul 21.19 WITA, Kamis (4/5). Ratusan anak muda duduk dengan tenang untuk menyaksikan penampilan dari Sha Ine Febriyanti. Sebelum pertunjukan mulai, seluruh pengunjung yang hadir diminta untuk tenang.

Sosok Ine sebagai Cut Nyak Dhien muncul. Monolog yang mengangkat sisi perempuan seorang Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan perempuan dibawakan dengan sangat baik. Penonton benar-benar dibuat turut merasakan apa yang dirasa oleh pahlawan dari Nanggroe Aceh Darussalam ini.

Diiringi dengan alunan cello membuat penonton menikmati kalimat demi kalimat yang terucap. Sumber cahaya yang terpancar dari atas panggung utama membuat suasana semakin terasa nyata.

Kisah ini dimonologkan oleh Cut Nyak Dhien dari hutan Sumedang saat dirinya diasingkan.

Ketika baru berusia 12 tahun, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Ibrahim. Meskipun awalnya tidak mengenal apa itu cinta tapi ia benar-benar menjalankan perannya sebagai seorang istri. Rasa khawatir ia rasakan setiap mengantar kepergian suami ke medan perang.

Dikenal sebagai seorang perempuan yang perkasa, Cut Nyak Dhien ternyata menyimpan pedih tak terkira tatkala ditinggal oleh orang-orang yang dikasihinya. Kepergian Teuku Ibrahim meninggalkan luka mendalam baginya.

Kehidupan harus terus bergerak, membuat Cut Nyak Dhien menikah kembali dengan seorang pria bernama Teuku Umar. Tanpa ada prasangka, ia mempersiapkan perbekalan untuk suaminya. Kembali hancur hatinya ketika mendengar kabar duka yang datang.

Pentas Monolog Cut Nyak Dhien (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)

Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bangkit untuk meneruskan jejak dan semangat juang suaminya. Bergerilya melawan para khape (kafir) di medan juang. Meski usianya tidak muda lagi, ia tetap berjuang. Hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Pertunjukan ini digelar selama kurang lebih 45 menit. Ditutup dengan tepuk tangan meriah dari setiap penonton yang hadir.

Sha Ine Febriyanti yang memerankan tokoh Cut Nyak Dhien sekaligus menjadi sutradara dan penulis naskah merasa suasana Fort Rotterdam sangat mendukung pementasan ini. Meski acara sudah selesai, ia mengaku masih bergetar.

Pentas Monolog Cut Nyak Dhien (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)

"Saya masih bergetar nih. Tempatnya sangat mendukung untuk Cut Nyak Dhien hadir malam ini. Para penonton yang punya energi besar, saya mengucapkan terima kasih untuk apresiasinya" ujar Ine.

Cerita dari Cut Nyak Dhien ini mampu memberikan inspirasi kepada penonton yang hadir. Salah satunya adalah Siti Aminah Tinni yang hadir bersama ketiga kawannya. Awalnya, ia merasa takut namun lambat laun dirinya ikut terbawa dengan alur dan suasana.

"Keren banget, sangat menjiwai karakter. Rasa reformasi sangat dalam. Penampilan tadi sangat menginspirasi kaum perempuan. Jangan banyak diam, harus bertindak," kata Siti.

Pentas Monolog Cut Nyak Dhien ini digelar di 10 kota besar di Indonesia. Dimulai pada 27 April lalu di Gianyar, Bali. Makassar menjadi kota kedua pementasan ini. Terus berlanjut ke Solo, Surabaya, Kudus, Tasikmalaya, Bandung, Medan, Padang, dan berakhir di Padang Panjang.

Pentas Monolog Cut Nyak Dhien (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23