Pencarian populer

Wawancara Eksklusif Byron Mann dan Pesannya untuk Iko Uwais

Byron Mann berpose dari lantai 116 gedung ICC, Hong Kong. (Foto: Universal Pictures)

Tak pernah terbayang dalam benak kami bahwa Byron Mann sudah berusia 50 tahun. Ketika kumparan bertemu dengannya di lantai 116 gedung ICC, West Kowloon, Hong Kong, pekan lalu, dia tampak seperti anak emo yang sudah berusia matang dan mulai membangun keluarga. Pemeran Ryu di film 'Street Fighter' ini mengenakan jas berwarna biru telur asin. Penampilannya trendy dengan balutan celana biru terang, senada dengan kemeja bermotif titik-titik putih di balik jasnya.

Byron menyapa kumparan dengan hangat dan mempersilakan kami duduk dekat dengannya sambil menghadap jendela. Saat itu ia sedang diambil gambarnya oleh juru foto dari Universal Pictures. Latar belakang gunung dan pelabuhan dari ketinggian memang sayang untuk dilewatkan tanpa cekrek cekrek upload.

"Hai, apa kabar? Kamu dari Indonesia? Tinggal di Jakarta?" sapa Byron.

Baru saja kami jawab sapaannya, dia langsung melontarkan pertanyaan lain dengan antusias.

"Kamu tahu? Aku baru saja menandatangani kontrak dengan…"

Wu Assassins, Netflix?” tebak kumparan.

"Wu Assassins…Ya, aku akan berakting dengan Iko (Uwais). It’s your boy, right?” ucapnya raut wajah bersemangat.

"Ya, dia sedang bersinar saat ini. Film terbarunya dimainkan bersama Mark Wahlberg, ‘Mile 22’,” jawab kumparan.

“Oh, dia bintang besar di Indonesia? Baiklah…Tapi kita akan bicara soal itu nanti. Kita punya hal yang lebih penting…Skyscraper."

Video

Begitulah awal perjumpaan kami. Cukup meninggalkan kesan yang baik. Sikap hangat Byron Mann layak diapresiasi karena sesungguhnya masa-masa promosi film sangatlah melelahkan. Terutama jika kita bicara industri Hollywood. Sekitar 48 jam sebelum bertemu kami, Byron berada di Beijing bersama rombongan bintang lain, sutradara, juga produser 'Skyscraper' untuk pemutaran film perdana di hadapan penggemar dan ratusan jurnalis.

Bisa kita mulai dengan Anda menjelaskan karakter Inspector Wu. Situasi seperti apa yang dia hadapi dalam cerita?

Inspector Wu adalah veteran 20 tahunan di divisi kepolisian Hong Kong dan distriknya. Polisi mengatur distrik yang berbeda-beda. Kawasan distriknya sebenarnya di sini, tempat kita berbicara saat ini, West Kowloon. Jadi aku pikir, tapi kamu harus verifikasi ini ke sutradara, menurutku ide kasar film ini berasal dari gedung ini, ICC Tower. Menurutku salah satu gedung tertinggi di Asia dan dalam film bernama The Pearl.

Ketika aku berbicara dengan Rawson Thurber, sutradaranya, sebelum kami memulai produksi, kami banyak berdiskusi tentang apa yang ingin dia lakukan. Dia bilang, ‘Film ini terinspirasi 'Die Hard', 'The Fugitive', 'Towering Inferno'. Jadi aku ingin membuat versiku, dan karaktermu, aku memikirkan seperti Tommy Lee Jones di 'The Fugitive.’ Veteran polisi beruban. Dia tidak menggunakan seragam. Dia detektif yang berpengalaman. Dia bukan tipe orang yang hanya peduli memecahkan kasus kriminal. Dalam prosesnya bekerja, kadang dia berselisih dengan atasannya.

Aku melakukan riset dengan konsultan polisi Hong Kong di film ini sebelum produksi, dan dia bilang… Aku baru tahu bahwa seseorang yang sudah berada di kepolisian Hong Kong selama 20 tahun lebih, biasanya pangkat dia lebih tinggi dari Inspektur. Jadi alasan dia kenapa masih berpangkat Inspektur karena dia sering berselisih dengan atasannya selama bertahun-tahun. Jadi seperti itulah karakternya.

Nah, ketika filmnya bergulir… Apakah kamu sudah menonton filmnya?



Ya, saya sudah menontonnya semalam di sini, di Hong Kong. Acara press screening.

Adegan Dwayne Johnson di Skyscraper (Foto: Universal Pictures)
Neve Campbell dan Dwayne Johnson di Skyscraper (Foto: Universal Pictures)

Seperti yang kamu saksikan, dia punya banyak masalah berbeda dengan skala yang begitu besar. Gedung tertinggi di dunia, The Pearl terbakar. Ada beberapa polisi yang tewas. Itu peristiwa besar. Aku berdiskusi dengan konsultan polisi dan mereka berkata, ‘Jika itu terjadi, bisa Perang Dunia Ketiga’.

Ketika adegan itu terjadi, situasiku adalah, dia tidak tahu bahwa itu berhubungan. Dia tidak tahu kebakaran dan tewasnya beberapa polisi memiliki keterkaitan. Dan selanjutnya, seperti yang kamu tonton, dia berpikir mungkin penghubungnya adalah karakter Dwayne Johnson, Will Sawyer.

Apa yang kami bangun selanjutnya, dia seperti dalam kebimbangan, apakah harus menolong Will Sawyer setelah diyakinkan oleh karakter Neve Campbell (Sarah Sawyer)? Dan jika dia salah, dia akan dipecat.

Selain konsultasi dengan polisi Hong Kong, persiapan atau latihan khusus apa yang kamu lakukan? Kamu sempat berdialog dengan bahasa Kanton...

Persiapan terbesar menurutku, kami mengumpulkan seluruh staf polisi Hong Kong. Kamu tahu...kamu orang Asia dari Indonesia... Umm... Film-film Hollywood, secara tradisional--tak selalu--secara tradisional, mereka belum melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menggambarkan tokoh dari Asia. Dan hal pertama yang kamu tahu adalah dialog, seperti bukan orang lokal Indonesia yang berbicara dialog itu. Seperti diterjemahkan atau terasa aneh, 'kan?

Jadi aku bilang ke Rowson, 'Mari kita susun dialognya dengan benar. Bahasa Kanton sangatlah sensitif. Semua bahasa sensitif, tapi Bahasa Kanton... Kita semua sudah melihat film-film polisi Hong Kong Chow Yun Fat di tahun '80-an dan '90-an, 'kan? Semua film John Woo, Jhonnie To. Orang-orang tahu film ini, orang-orang tahu gayanya, penonton China tahu dialognya. Jadi hal pertama yang kami lakukan, kami terjemahkan dialognya, Rawson, aku dan konsultan polisi Hong Kong. Kami menerjemahkannya 2,5 bulan sebelum pengambilan gambar.

Baiklah. Jadi kamu terlibat langsung dalam pembenahan di skenario?

Tentu saja. Aku berbicara bahasanya. Aku lahir dan dibesarkan di sini, jadi aku bilang, 'Mari kita lakukan dari awal. Aku tidak ingin ini diterjemahkan dengan salah, lalu diberikan kepadaku seminggu sebelum syuting.' Itu yang biasanya terjadi.

Jadi kami bertiga bikin grup di We Chat dan menerjemahkannya tiap hari. Dari dialog berbahasa Inggris ke bahasa Kanton, lalu bahasa Kanton gaya polisi Hong Kong. Dan hal menarik yang kami temukan tentang polisi Hong Kong--karena terbiasa dengan sistem Inggris selama 150 tahun--mereka banyak menggunakan istilah bahasa Inggris dalam dialog Kanton mereka. Kamu akan melihatnya di film. Aku belum nonton filmnya, so...

Sebagian besar adegan action di film ini menggunakan efek spesial. Bagaimana pengalamanmu bekerja dengan green screen? Bagaimana seorang aktor mengatur fokusnya dalam situasi seperti itu?

Adegan besar dengan ribuan orang di situ, gedung terbakar dan sebagainya. Apa yang membantu, dengan adanya banyak orang di darat, tapi sebenarnya tidak ada gedung yang terbakar..

(Kemudian perbincangan terhenti saat Byron melihat kabut yang sangat tebal di luar jendela. Ingat, kami ada di lantai 116)

"Apa itu? Apakah badai akan datang?" tanya Byron tampak khawatir.

"Sepertinya hanya kabut," jawab manajemen Byron Mann berusaha menenangkan.

Oke, kita lanjutkan. Green screen, lumayan. Memang tidak ideal karena kamu tentu ingin melihat sesuatu yang nyata. Tapi itu mahal. Saat ini hal seperti itu hampir standar, seperti film-film 'The Avengers.' Semuanya menggunakan green screen.

Mengingat kita berada di gedung yang begitu tinggi, menurutmu apakah bangunan seperti The Pearl akan ada di Hong Kong dalam waktu dekat?

Apa kamu bercanda? It's coming, man... Kota di dalam gedung. Aku jamin. Aku bakal traktir kamu makan malam.

Infografis gedung The Pearl di film Skyscraper (Foto: Universal Pictures)

Ini proyek film pertamamu dengan sutradara Rawson Marshall Thurber. Bagaimana pengalamanmu disutradarai dia?

Yeah, man... Kamu tahu 'kan semua film yang dia sutradarai sebelumnya?

Iya, 'We’re the Millers', 'Dodgeball', 'Central Intellegence'...

Semua punya unsur komedi. Kamu tahu, manusia itu multidimensi. Dia sebenarnya pembuat film yang sangat serius. Dia sekolah film, dia suka membuat film. Dia sudah menonton semua film yang ada di luar sana. Jadi aku pikir film ini (Skyscraper) adalah penghormatan bagi semua film bagus. Dia selalu ingin membuat film action.

Rawson adalah orang yang sangat baik, just a nice polite guy. Semua bermula dari atas. Jika sutradaranya brengsek, maka semuanya tercemar. Semua orang akan gugup. Tapi dia sangat baik dan membuat segalanya dalam situasi tenang. Dia sangat spesifik karena dia juga penulis. Dia spesifik dalam hal beat and what you need to hit.

Mari bicara sedikit soal kariermu. Kamu sudah membintangi film 'Catwoman', akting bareng Russell Crowe di 'The Man with the Iron Fists', 'The Big Short' bersama Steve Carell, Ryan Reynolds, Brad Pitt, Christian Bale, dan aktor kelas A lainnya. Apa saranmu untuk aktor Asia yang punya hasrat berkarier di Hollywood?

Dengar baik-baik. Ini pilihan karier yang berat. Ada peribahasa, 'Jika kamu bisa memikirkan hal lain untuk kamu kerjakan, sebaiknya kamu lakukan itu.' Misalnya kamu suka menjadi desainer iPhone atau semacamnya? Lakukan saja. Tapi jika kamu tak bisa melakukan hal lain selain sebagai aktor atau sutradara, maka lakukanlah. Lakukan dengan cepat. Kerjakan secepat yang kamu bisa. Karena kamu butuh waktu untuk membangun karier. Percayalah.

Byronn Mann sebagai Inspector Wu di Skyscraper (Foto: Universal Pictures)

Kamu memulai karier sebagai aktor di usia 24 tahun. Momen apa dalam hidup yang membuatmu, 'Oke aku akan menggantungkan hidup dari akting...'

Kapan aku memilih akting sebagai karier? Ketika aku sudah tak punya hal lain untuk dikerjakan. Aku kuliah di UCLA (University of California, Los Angeles). Aku masuk bidang hukum dengan rencana menjadi pengacara. Tapi aku kemudian sadar kalau aku enggak mau terlibat dalam dunia hukum. Benar-benar membosankan. Itulah momen ketika aku merasa harus melakukan sesuatu. Itu memalukan, bukan? Kamu berusia 22 tahun, baru lulus dan kamu tidak tahu mau melakukan apa.

Jadi aku berpikir, aku cukup menikmati akting. Momen ketika aku menyadari itu mungkin saat aku mengerjakan 'Street Fighter'. Aku merasa, 'Oh, akting boleh juga, nih. Aku bisa dapat bayaran. Aku bisa hidup dari sini. Begitulah ceritanya. Aku bisa mandiri. Jadi itu momen ketika aku memilih karier ini.

Aku pernah baca, kamu sempat serius main tenis. Bagaimana ceritanya?

Aku tumbuh dengan permainan tenis. Semua keluargaku bermain tenis. Aku pernah juga melatih tenis. Sangat terlibat di olahraga itu. Aku pernah ikut kompetisi ketika remaja di Hong Kong, tapi itu sudah belasan tahun lalu. Aku hanya main untuk kesenangan saat ini.

Mari kembali berbicara tentang film 'Skyscraper'. Apa kamu juga melakukan pengambilan gambar di Hong Kong?

Tidak. Kami syuting seluruhnya di Vancouver, Kanada. Tapi mungkin mereka juga ambil gambar di Hong Kong. Kamu harus bicara lebih lanjut dengan sutradara. Tapi lokasi yang paling menarik buatku adalah ketika adegan pertama saat kamu melihat karakterku masuk, di mana gedung itu dilalap api. Kami mengambil gambar itu di tempat bernama Surrey, dekat Vancouver. Puji Tuhan di sana banyak orang Asia. Tapi ada juga orang Hong Kong, karena ada ribuan orang di adegan itu.

kumparan sempat berbincang dengan Byron Mann. (Foto: Adhie Ichsan/kumparan)

Elemen apa yang paling membuatmu menikmati produksi film ini?

Pertama, aku suka The Rock. Dia figur yang menginspirasi. Bisa terlibat dalam proyek bersama bintang film terbesar di dunia benar-benar sebuah kehormatan. Kedua, Rowson Thurber. Pembuat film yang hebat, seorang gentleman. Ini kombinasi yang jarang. Aku belum nonton filmnya, tetapi orang-orang bilang ini dibuat dengan baik. Yang ketiga, Hong Kong. Bisa memainkan karakter Hong Kong di film yang berlatar di Hong Kong.

Aku sudah kehabisan kata-kata... Tetapi bisa melakukan syuting di Vancouver adalah hal yang menyenangkan karena itu seperti rumah keduaku. Aku punya tempat tinggal di sana, jadi it's a road trip. Yang terakhir, bisa berdialog dengan bahasa Kanton yang merupakan Bahasa Ibu, di film musim panas Amerika, itu terasa lucu bagiku. Lumayan menggelitik. Sangat menyenangkan.

(Waktu wawancara sudah lebih 3 menit dari yang disediakan. Byron sudah ditunggu beberapa jurnalis dari negara lain. Kami pun berusaha menyudahi perbincangan. Namun manajer Byron Mann mempersilakan kumparan untuk terus wawancara jika masih memiliki pertanyaan.)

Terima kasih atas kesempatannya. Bolehkan saya bertanya sedikit tentang serial 'Wu Assassins' yang akan kamu perankan bersama Iko Uwais?

Aku tidak tahu terlalu banyak soal itu. Aku baru menandatangani kontrak beberapa hari lalu. Aku sangat menantikan kerja bareng Iko. Para produser, Chad Oakes dan John Wirth adalah orang-orang yang bekerja sama denganku di serial televisi 'Hell on Wheels'. Mereka produser terbaik yang aku kenal.

Aku tahu akan ada banyak action, banyak bela diri, tetapi di luar itu aku tak tahu banyak. Aku harap nanti ada adegan pertarungan yang epik bersama Iko dan aku menang... ha ha ha... Aku punya banyak teman yang mengenal Iko. Aku tidak tahu banyak soal cerita, tapi tentu saja aku, orang-orang Indonesia dan banyak orang lainnya akan sangat menantikan proyek ini.

Iko Uwais (Foto: Munady)

Apa kamu memerankan salah satu karakter pembunuh?

Aku benar-benar tidak tahu. Dia seperti... Butuh waktu panjang untukku menjelaskan dunianya, tetapi dia salah satu pemeran utama. Aku tidak tahu pasti hubungannya dengan karakter Iko. Tapi aku akan mengetahuinya dalam beberapa pekan mendatang.

Apa kamu sudah mulai berlatih bela diri? Hati-hati, Iko cukup berbahaya...

Ha ha ha... Belum. Aku masih sibuk dengan ini. Ketika aku selesai tur promosi 'Skyscraper,' lalu aku akan mulai bersiap-siap.

Kapan produksi akan dimulai?

Sepertinya 8 Agustus di Vancouver.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53