Pencarian populer

Merogoh Kocek Dalam-dalam untuk Idola Tersayang

Merogoh kocek dalam-dalam demi idola tersayang. Foto: Matheus Marsely dan Putri Sarah Arifira/kumparan

Apa yang biasa kamu lakukan untuk menunjukkan rasa cinta kepada idola? Apakah kamu akan memberikan hadiah, meluangkan waktu untuk menonton konsernya? Atau mengungkapkan kata cinta lewat surat?

Coba tanyakan pertanyaan yang sama kepada para fans K-Pop. Percayalah, mereka punya cara yang tak lazim bagi orang kebanyakan. Kalau berkesempatan pergi ke Korea Selatan, coba perhatikan iklan berbentuk gambar atau video di subway, billboard di jalan atau pusat belanja ternama.

Di sana akan mudah ditemui wajah idola K-Pop. Iklan itu bukan dipasang agensi hiburan, melainkan fans K-Pop. Dan, mereka melakukannya secara sukarela. Malah, ada kalanya fans yang beriklan di Korea justru berasal dari belahan dunia yang lain.

Ilustrasi sebuah billboard di Subway. Foto: Shutter Stock

Begitulah cara mereka mengungkapkan cinta pada idolanya. Biasanya, iklan semacam itu dipasang pada momentum tertentu, semisal saat si idola berulang tahun, atau baru merilis karya baru.

Ada cukup banyak fans K-Pop yang memilih memasang iklan billboard untuk menunjukkan cinta mereka kepada idola. Ini sengaja mereka lakukan, demi memamerkan idola kesayangan kepada masyarakat luas. Seiring berjalan waktu, fenomena ini kini tak cuma bisa ditemui di Korea Selatan.

Iklan serupa kini mulai muncul di negara-negara lain, seperti di Amerika Serikat, Jepang, bahkan Indonesia. Fans Kang Daniel eks Wanna One, Gettri Gazela (25 tahun), misalnya. Perempuan yang berdomisili di Jakarta ini pernah memasang iklan pada sebuah videotron tak jauh dari pusat perbelanjaan di Thamrin City, Jakarta Pusat.

Iklan itu untuk menyambut ulang tahun Kang Daniel. Gettri menyewa space iklan bersama teman-temannya dari fanbase Daniel Union INA. “Kita menunjukkan support lewat videotron agar masyarakat yang ngelewatin ads tersebut mengetahui Daniel,” tuturnya, saat diwawancarai oleh kumparanK-Pop via WhatsApp baru-baru ini.

Motivasi itu pula yang menggerakkan fans Suho EXO, Niken (30 tahun), memasang iklan untuk memberikan dukungan kepada idola kesayangannya. Tak tanggung-tanggung, dia memasang iklan di billboard New York Times Square pada 2017.

“Bikin ads ulang tahun itu kayak salah satu cara menunjukkan dukungan untuk idola kami. Juga, sebagai medium untuk memperkenalkan mereka ke publik—(kepada) nonfans,” tutur Niken dalam percakapan via e-mail baru-baru ini.

Fans Suho EXO memasang billboard ads di Times Square, New York. Foto: Suho Union Global

Bagi orang di luar lingkungan fans K-Pop, hal semacam ini mungkin terdengar agak janggal. Bahkan, ada yang menganggapnya konsumtif. Pengamat Budaya Korea dari Universitas Indonesia, Zaini, menilai fenomena ini lumrah. Menurutnya, hal ini tak lepas dari hubungan saling membutuhkan antara fans dan idolanya.

“Kita lihat grup-grup (idola), mereka juga membutuhkan para fansite, loh. Terus, satu sisi juga, fans itu membutuhkan kedekatan lewat suatu bentuk ekspresi gitu,” ungkap Zaini dalam sambungan telepon pada Senin (29/4).

Fans K-Pop, lanjutnya, memasang iklan artis idola untuk menunjukan kedekatan. Ini sebabnya, hari ulang tahun artis K-Pop kerap menjadi momen yang biasa digunakan para fans.

Bagaimanapun, hari ulang tahun masuk dalam wilayah pribadi. Dengan memasang iklan ucapan selamat ulang tahun, penggemar seolah ingin menunjukan mengenal idolanya secara dekat.

“Semakin tidak ada jarak, berarti kan secara emosi, berarti ini ujung-ujungnya sebagai keluarga besar, ya. Karena kalau dalam keluarga besar tuh kan saling peduli, ada rasa empati juga, simpati juga,” ungkapnya.

Bagi industri kreatif di Negeri Ginseng, loyalitas fans semacam itu memberi keuntungan. Militansi fans dari luar negeri yang beriklan di Korea akan berdampak ekonomi. “Enggak mungkin industri itu akan berkembang, kalau tidak ada fans yang pada akhirnya mungkin fanatik,” tutur Zaini.

Sementara itu, psikolog bisnis dan sosial, Silverius Y. Soeharso memandang pemasangan iklan oleh fans K-Pop sebagai bagian dari fenomena popularism. “Saya rasa ini fenomena yang biasa sebenernya, tapi adalah gejala--yang merupakan gejala bukan idealism tapi popularism,” ujar pria yang biasa disapa Sonny ini. Tetapi, menurutnya, tren semacam itu tak akan berumur panjang.

Selengkapnya, simak dalam topik Royal Beriklan demi Idola K-Pop.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60