Pencarian populer

Perjuangan Fans Menjalankan Bisnis Merchandise K-Pop Online

Album dan Photocard K-Pop (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Pernah melihat kipas tangan berwajah idola K-Pop? Atau tas ransel dengan logo salah satu grup K-pop ternama? Merchandise yang digunakan atau melekat di tubuh para fans K-Pop ini memang sudah sangat umum terlihat. Fandom K-Pop yang cukup besar memang sangat menjanjikan banyak keuntungan bagi para pebisnis online shop.

Jewels Kshop, salah satunya. Toko online yang dikelola oleh Tata (bukan nama sebenarnya) ini telah berdiri sejak tahun 2012. Saat ini, toko tersebut sudah memiliki hingga lebih dari 2.700 orang followers dalam media sosial Twitter.

Kepada kumparanK-Pop (kumparan.com), Tata, fan dari boyband Super Junior dan Seventeen ini, bercerita bahwa awalnya, ia memulai bisnisnya karena ia ingin mencoba membeli CD album Korea Selatan sendiri.

"Lama-lama, ya, sudah. Kayaknya siap dan bisa handle jumlah banyak, jadi ya sudah buka online shop saja," sebut Tata.

Tata melayani pembelian untuk berbagai jenis merchandise K-Pop. Mulai dari album penyanyi idola, barang-barang resmi yang dijual oleh agensi hiburan, hingga barang yang dijual oleh para fansite atau fans yang mendedikasikan diri mengambil foto dan video para idola di mana saja.

Segala aspek dalam bisnis tersebut dikelola secara langsung oleh Tata. Mulai dari pencarian toko di Korea yang menangani pengiriman keluar negeri, mengirim barang ke warehouse di Korea, hingga mengurus pengiriman ke rumah para pelanggan di Indonesia.

Sekalipun kini sudah ada orang yang membantunya, ia tetap melakukan pengawasan semua proses tersebut seorang diri.

Kerja kerasnya ini bukan tanpa hasil. Kini, pembeli di tokonya bukan hanya orang-orang yang tinggal di berbagai daerah di Indonesia. Terkadang, ada juga orang-orang dari luar negeri yang memesan barang K-Pop kepadanya.

"Kadang kalau ada barang limited atau rare yang kami jual, misal stock-nya sudah sold out di Korea, dari luar negeri ada (yang pesan juga)," sebutnya.

Album K-Pop (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Tata mengaku, ia tidak selalu menghitung jumlah pelanggannya. Ia juga mengatakan, jumlah keuntungan yang didapatkannya tergantung kepada jumlah pelanggan yang memesan kepadanya. Keuntungan besar baru akan diraupnya jika saat itu banyak pembeli yang memilih untuk memercayai dan membeli barang kepadanya.

Namun, menurutnya, ia tidak selalu menjual barang dengan perhitungan untung-rugi yang ketat. Terkadang, ia menjual beberapa barang bukan semata untuk keuntungan materi yang banyak, melainkan demi mendapatkan koneksi, atau membantu fandom tertentu.

Selain Tata, ada juga Maya (26 tahun), pemilik online shop bernama Koalgoo. Hampir serupa dengan Tata, Maya juga memulai bisnis di tahun 2012. Saat itu, sebenarnya, ia membuka bisnis hanya untuk menjual koleksi-koleksi albumnya.

Hingga saat ini, ia menjual para album penyanyi idola, baik dalam versi Korea maupun Jepang, photobook resmi, juga merchandise konser resmi idola.

Sebagai pemilik online shop yang hingga kini masih berskala kecil, ia bukannya tidak pernah merasakan persaingan. Namun, wanita penggemar SHINee dan EXO itu mengaku tidak terlalu memikirkannya.

"Aku enggak terlalu memikirkan persaingan, sih. Soalnya customer aku enggak sebanyak olshop yang gede-gede," sebut wanita yang mengaku mendapat sekitar lima orang pemesan per bulan, tergantung dari grup idola yang sedang melakukan comeback.

Ari (28 tahun), fans BTS yang sudah mulai membuka online shop sejak 2013, juga menceritakan bagaimana perubahan dan persaingan online shop yang menjual barang-barang K-Pop sangat terasa.

"Saat itu, belum ada e-commerce marketplace yang marak seperti sekarang, jadi cuma jual via Facebook, Twitter, dan Instagram," tulisnya.

Album K-Pop (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Ari berjualan beragam barang berbau K-Pop, mulai dari album, barang fansite, hingga makanan dan kosmetik dari Korea. Bahkan, ia juga membantu fansite menggelar pameran dan membantu menjualkan foto-foto mereka di Jakarta.

Selama menjalankan usahanya, Ari bukannya tidak pernah merasakan persaingan dengan online shop yang ada. Bahkan, menurutnya, persaingan online shop saat ini begitu sengit.

Namun, ia tetap menjalaninya karena merasa bisnis ini menguntungkan dan banyak peminat.

"Sulit buatku untuk diukur per bulan, tapi kalau per event, bisa sampai dengan Rp 5 juta per event," sebutnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63