kumparan
16 Mar 2019 12:50 WIB

Q&A: Asam Manis Jadi Fanboy K-Pop

Ilustrasi fanboy Kpop. Foto: Fitra Andrianto dan Putri Sarah Arifira/kumparan
“So Nyeo Shi Dae saranghae!”
Teriakan Sone (fans SNSD) menggema di ICE BSD, Tangerang, dalam pergelaran konser bertajuk ‘Phantasia in Jakarta’ pada 2016. Kala itu SNSD membawakan ‘Into the New World’, yang membuat seluruh fans ikut bernyanyi dan mengingat kembali, masa-masa grup yang juga dikenal dengan sebutan Girls’ Generation itu di awal debut mereka.
ADVERTISEMENT
Tak hanya teriakan fangirl, terdengar juga sayup-sayup suara para fanboy yang ikut larut dalam suasana konser. Mereka ikut bernyanyi bersama, dan meneriakkan fanchant.
Ini bukan pemandangan asing. Para fanboy atau penggemar pria dari musik pop Korea Selatan, K-Pop, tak setengah-setengah saat memberikan dukungan kepada idola mereka. Membeli album, menonton konser, hingga membuat event gathering fans dilakukan sebagai bentuk kecintaan mereka pada sang idola.
Meski hobi mendengarkan musik adalah hal yang lumrah. Namun bagi para penggemar K-Pop, khususnya fanboy, hal tersebut tidaklah mudah. Bullying dan cacian pernah mereka terima, lantaran dianggap tak maskulin karena mendengarkan K-Pop.
Ilustrasi fanboy Kpop. Foto: Fitra Andrianto dan Putri Sarah Arifira/kumparan
kumparanK-Pop berkesempatan berbincang dengan empat fanboy SNSD, Joko, Dhika, Reza dan Ammar. Keempatnya bisa dibilang fans SNSD yang sudah cukup lama menyukai girlband asuhan SM Entertainment itu.
ADVERTISEMENT
Mereka memberikan gambaran soal perlakuan yang diterima karena menjadi seorang fanboy K-Pop, juga arti K-Pop dan SNSD bagi mereka.
Sudah berapa lama menjadi fanboy K-Pop?
SNSD, girlband yang debut dengan musik bubble gum pop ini rupanya menarik perhatian Joko, Dhika, Reza dan Ammar sejak lama. Mereka mengatakan sudah mengenal K-Pop dan menyukai SNSD sejak sekitar tahun 2009-2011.
“Jadi fanboy dari 2009. Sukanya sih sebenarnya banyak. Tapi yang paling diikutin itu SNSD, terutama leader-nya Kim Taeyeon,” ungkap Joko.
Tak jauh berbeda dengan Joko, Dhika, juga sudah mengenal K-Pop sejak 2009. ‘Perkenalan’ itu kemudian membawa Dhika menyelami lebih jauh soal musik dan grup K-Pop selain SNSD.
“Sudah kenal K-Pop dari 2009 berawal dari kenal SNSD, lalu akhirnya merambah suka ke yang lain dari T-Ara, Rainbow, A-Pink, Hello Venus, hingga sekarang Iz*one,” ujar Dhika.
ADVERTISEMENT
Aktivitas apa yang biasanya dilakukan sebagai fanboy?
Ilustrasi fanboy K-Pop. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Sebagai fans tentu ada banyak hal yang mereka lakukan untuk mendukung idolanya. Begitu juga dengan Reza. Pria 23 tahun ini menggunakan waktu luangnya untuk menonton tayangan variety show, mendengarkan lagu idola kesayangan, menonton konser, hingga bergabung dalam komunitas fans SNSD.
“Nonton video MV, variety show, live performance di laptop. Dengerin lagu mereka, ikutin perkembangan berita mereka, ikut acara-acara fanbase artis tersebut. Kumpul bareng sesama fans dan saling sharing mengenai artis kesukaan. Saya suka koleksi album, poster, dan berbagai merchandise lainnya seperti towel konser, photocard dan lainnya. Saya juga termasuk orang yang suka nonton konser jika artis kesukaan saya datang ke indonesia. Dan saya ikut salah satu komunitas fans SNSD di kaskus namanya kaskusone,” tutur pria yang sudah suka SNSD sejak 2010 ini.
ADVERTISEMENT
Mengoleksi merchandise yang berbau idola kesayangan juga mereka lakukan. Joko bahkan sempat punya bujet khusus untuk membeli barang yang ingin dikoleksi.
“Dulu sih budget maksimal Rp 1 juta untuk beli goodies. Dalam satu bulan sih. Jadi benar-benar milih apa yg mau di koleksi dulu. Tapi sempet berantakan karena (ada) ‘1st Photobook SNSD’, itu (harganya) RP 1.4 juta. Dan (aku) harus punya,” tuturnya.
Ilustrasi merchandise K-Pop. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Senada dengan Joko, Reza juga punya budget khusus untuk hobi fanboying nya tersebut.
“Dulu punya tabungan yang memang khusus dipake untuk hal-hal yg berhubungan dengan fanboying, sekitar Rp 1-2 juta mungkin kalau sampe beli tiker konser,” ungkapnya.
Namun tak semua fanboy punya bujet khusus untuk hobi mereka. Ammar misalnya.
ADVERTISEMENT
“Nggak pernah ada (bujet). Bukan tipikal fanboy yang banyak keluarin uang buat idolanya,” ungkap Ammar.
Apakah pernah diejek karena kamu cowok tapi suka idola K-Pop?
Ilustrasi fanboy K-Pop. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Karena aktivitas mereka sebagai fanboy pencinta K-Pop, tak sedikit yang mendapat ejekan atau cemoohan. Stigma ‘alay’, dan dianggap tak pantas jika pria menyukai K-Pop, banyak dilontarkan para non-fans.
“Pernah banget, tapi itu sudah lama. Banyak yang nganggep fanboying alay. Tapi sekarang persepsi orang sudah berubah terhadap K-Pop, dan mereka sadar bahwa harusnya K-Pop bisa dinikmati oleh siapa saja,” ujar Ammar.
Namun ada juga fanboy beruntung seperti Dhika. Orang-orang di sekitarnya tak mempermasalahkan hobi Dhika sebagai fan K-Pop.
“Kebetulan di circle-ku enggak ada anggapan bahwa K-Pop itu negatif. Semua genre juga sama aja kok, apakah K-Pop bukan genre untuk cowok? Enggak juga kan? Namanya juga selera musik kan tergantung personal,” tutur Dhika.
Ilustrasi fanboy Kpop. Foto: Fitra Andrianto dan Putri Sarah Arifira/kumparan
Untuk menghadapi ejekan atas hobi mereka, baik Joko, Ammar, Dhika dan Reza tak terlalu ambil pusing dan memilih tak mendengarkan ejekan yang dilontarkan. Mereka tetap teguh pendirian menyandang status sebagai fanboy K-Pop.
ADVERTISEMENT
“Enggak pernah (terpikir untuk berhenti) karena enggak pernah ketemu orang yang suka bully begitu juga. Biasanya bodo amat. Dan kebetulan temen-teman sekitar yang enggak suka K-Pop juga enggak terlalu mempermasalahkan kalau saya suka K-Pop,” imbuh Reza.
Mengapa akhirnya jadi fanboy dan jatuh cinta terhadap K-Pop?
Rasa suka terhadap idola K-pop akhirnya membawa para fanboy ini menyelami tak hanya musik, namun juga kebudayaan dan segala hal berbau Korea. Bagi para fanboy ini, memilih untuk menjadi bagian dari komunitas K-Pop bukan sesuatu yang memalukan.
Ada kebahagiaan, kepuasan batin, dan kegembiraan yang dirasakan oleh mereka sebagai seorang individu. Mereka juga bisa bertemu dengan penggemar lain, menjalani pertemanan, dan saling berbagi informasi soal idola kesukaan masing-masing.
ADVERTISEMENT
“Takdir membawa saya suka K-Pop,” ungkap Reza singkat.
“Melihat perjuangan para trainee di survival show yang bikin memperkuat persepsiku bahwa bila ingin menjadi seorang idol K-Pop dibutuhkan effort dan perjuangan yang luar biasa, sehingga mereka layak buat dihargai. Jadi bukan hanya individu yang bakal tenar secara instan dan bakat yang pas-pasan karena kebetulan viral,” komentar Dhika.
Ilustrasi fanboy Kpop. Foto: Fitra Andrianto dan Putri Sarah Arifira/kumparan
Fanboy itu bagian dari hidup, sarana pelepas stres, penyemangat kerja, untuk refresh diri kita. Gak jarang kalo saya mendadak semangat kerja cuma karena dengar lagu dari idol yang disuka.”
“K-Pop menawarkan musik yang lebih indah, enggak cuma dari segi suara tapi juga visual. Begitu digali lebih dalam, ada perjuangan yang sangat keras untuk bisa sampai ke tahap "Rookie" sekalipun. K-Pop sekarang ini adalah K-Pop yang ketika wajah ganteng atau cantik saja sudah enggak cukup. Butuh talent super juga musik yang mampu diterima pasar dengan baik,” kata Joko.
ADVERTISEMENT
“SNSD itu bagian masa muda saya. Mereka yang bikin masa muda saya lebih berwarna. Karena SNSD yang bikin saya ketemu banyak orang dari forum internet yang berlanjut terbentuknya fanbase yang solid. From Cyberhood to Brotherhood,” tutup Joko.
Simak story lain tentang kisah para fanboy K-Pop di topik Meet the K-Pop Fanboy.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan