Pencarian populer

Review: Mono, Kontemplasi RM BTS di Usia 24 Tahun

Playlist terbaru RM BTS, Mono. (Foto: Big Hit Entertainment)

RM BTS akhirnya kembali merilils karya solo, setelah terakhir kali merilis proyek solo tiga tahun lalu. Ia kembali dengan mixtape berjudul ‘mono.’ pada Selasa (23/10), tengah malam waktu Seoul, Korea Selatan.

Terdapat tujuh buah lagu dalam mixtape terbaru RM, dengan total durasi 24 menit. Namun, dalam durasi yang singkat itu, para pendengar bisa mendapat gambaran kontemplasi dan suara hati yang ingin disampaikan oleh pria berusia 24 tahun tersebut. Meski karya ini disebut mixtape oleh banyak pihak, RM sendiri lebih suka menyebut karya ini dengan sebutan 'playlist'.

Lewat 'mono.', kita seolah dibawa melihat cara pikir RM yang bergoyang seperti pendulum. Bahasan dalam album ini bergerak dari satu titik ke yang lainnya, hanya untuk kembali lagi ke titik awal. Hal ini tergambar dalam lirik lagu yang selalu menghadirkan lebih dari satu sudut pandang. Meski tema besarnya tetap mengenai kesedihan, kesepian, dan pergolakan batin yang dialami RM selama dia berusaha menjalani hidupnya.

Cerita dalam 'mono.' dimulai dengan ‘tokyo’, sebuah lagu berbahasa Inggris yang menghadirkan komposisi musik khas anime (kartun animasi Jepang) di musim panas.

Lagu ini dibawakan lewat aransemen piano yang memiliki susunan melodi khas, ditambah dengan bunyi-bunyi yang menggambarkan suasana sekitar. Misal, bunyi kereta yang sedang melintas, mobil yang sedang melaju, bunyi lonceng kelenteng, juga bunyi jangkrik yang secara halus dihadirkan sebagai latar lagu ini. Elemen-elemen ini dapat dengan mudah ditemukan dalam soundtrack anime Jepang, khususnya yang bertema festival atau perayaan musim panas.

Elemen tersebut kemudian dipadukan dengan aransemen vokal yang bergaung, dibuat seolah 'menghantui' penggemarnya. RM seolah bernyanyi dengan berbisik, mengeluhkan kehidupannya.

Penggalan lirik dalam album ini berarti, "Hidup adalah perkataan yang terkadang tidak bisa kita ucapkan. Dan abu adalah sesuatu yang akan jadi (wujud) kita suatu hari nanti. Jika esok datang, (hidup ini) akan jadi seberapa berbeda? Kenapa cinta dan benci terdengar sama bagiku."

Setelah 'tokyo', kita akan mendengarkan track kedua bertajuk ‘seoul’. Lagu ini dibawakan RM bersama duo musisi asal Inggris, Honne.

Lewat lagu ini, penggemar disajikan gaya musik yang lebih ringan daripada 'tokyo', meski tidak kalah melankolis. Sejak awal lagu, terasa bahwa ‘seoul’ akan menghadirkan bunyi yang lebih ‘modern’ daripada ‘tokyo’. ‘seoul’ bisa dengan mudah dikategorikan ke dalam salah satu musik hip-hop santai kekinian yang akan kita temukan dalam playlist chill k-hip-hop music di Spotify atau YouTube.

Dengan tempo medium, sedikit sentuhan synthesizer, dan dentuman bass yang bergaung pelan, lagu ini cocok didengarkan saat kamu ingin bersantai tanpa memikirkan apa pun. Para pendengar cukup menikmati irama lagu dan melodi ringan yang berulang dalam lagu tersebut.

Namun, bila menelaah liriknya, kita akan melihat bagaimana RM menggambarkan rasa cinta dan benci dalam kehidupan. Menurutnya, ia bisa merasakan kedua emosi secara berbarengan terhadap Seoul, kota yang jadi tempat tinggalnya saat ini.

RM mengekspresikan bagaimana dia sebenarnya membenci kota itu. Namun, di saat yang sama, dia sudah menjadi bagian dari kota itu dan juga mencintainya. Perasaan campur aduk ini kemudian diterjemahkannya dalam lirik: “Bila rasa cinta dan benci sama saja, aku sangat mencintaimu. Bila rasa cinta dan rasa benci sama saja, aku sangat membencimu."

Selain 'seoul', kita akan dibawa menikmati lagu ketiga yang berjudul 'moonchild'.

Dalam lagu ini, RM menghadirkan gaya musik alt R&B yang dipadukan dengan rap. Gaya musik ini cukup banyak digunakan dalam dunia musik hip-hop Korea saat ini, lengkap dengan distorsi vokal, synthesizer, dan beat bass yang menggema.

Kali ini, pria dengan nama asli Kim Namjoon itu bercerita soal ‘moonchild’, sosok yang menurutnya lebih cocok dengan suasana malam hari dibandingkan siang hari. Ia pernah menyebut dirinya sebagai seorang moon child dalam lagu ‘4 O’Clock’ yang dirilisnya bersama V BTS pada 2017.

Lewat liriknya, RM menghadirkan pandangannya soal kesulitan dan kontradiksi dalam hidup. Misal, seperti tergambar dari lirik “Kau mengatakan ingin mati, tapi kau hidup dengan sangat bersemangat. Kau bilang ingin melepas segalanya, tapi kau mengikat satu tali lagi”.

Tema ini dibawakannya dengan gaya rap yang berganti-ganti, dari gaya rap santai menjadi berapi-api.

Dalam ‘badbye’, RM berkolaborasi dengan eAeon, vokalis dari band indie Korea Selatan, Mot. Walau cuma berdurasi 1 menit 53 detik, lagu ini memiliki kesan yang mendalam. Aransemennya yang mencampurkan distorsi vokal, bunyi organ, biola, dan juga lonceng berhasil membuat kesan yang sangat gelap dalam lagu tersebut.

Tak cuma berdurasi singkat, 'badbye' juga tak memiliki banyak lirik. Namun, melalui pengulangan kata ‘bad, bad, bye’ dan ‘kill me, kill me softly’ yang begitu jelas, pendengar bisa merasakan kesan yang sangat kelam dari lagu ini.

Setelah ‘badbye’, RM menghadirkan ‘uhgood’. Sebetulnya, lagu dengan sentuhan electronica ini berjudul ‘ohgeut’, atau yang dalam bahasa Korea berarti ‘tidak pada tempatnya’, 'tidak cocok'. Meski demikian, RM memutuskan menerjemahkan kata tersebut sebagai ‘uhgood’ dalam bahasa Inggris. Ini melambangkan pesan yang sesungguhnya ingin disampaikannya lewat lagu tersebut.

Tema itu diterjemahkannya dalam lirik lagu yang lugas. RM membicarakan mengenai rasa tidak nyaman dan kesepian karena hanya harus bertumpu pada dirinya sendiri. Akan tetapi, rasa tidak nyaman itu hadir berbarengan dengan rasa pasrah, karena dia tidak ingin menjadi siapapun selain dirinya.

Perasaan tidak nyaman itu ia gambarkan lewat lirik "Menjadi kurang baik itu menyakitkan. Kalau kau tidak melaluinya, kau tidak akan tahu. (Keinginan) ideal dan kenyataanku berjarak sangat jauh. Tapi, tetap saja. Dengan menyeberangi jembatan itu, aku ingin mencapai dirimu, kamu yang sesungguhnya, aku yang sesungguhnya."

Selanjutnya, RM menghadirkan 'everythingoes', sebuah lagu kolaborasi dengan band rock Korea, Nell. Meski dalam lagu ini Kim Jong Wan selaku vokalis Nell tidak terlalu banyak menyumbangkan suaranya, musik khas ‘Nell’ dihadirkan lewat instrumen dalam musik tersebut.

Lagu ini mengandung bunyi keyboard elektronik yang nadanya berulang dan berputar, seperti yang akan kamu temukan dalam lagu-lagu Nell, misalnya 'Ocean of Light'.

Dalam lagu ini, RM akhirnya menghadirkan gaya rap yang menjadi ciri khasnya sejak debut. Ia membawakan rapnya secara berapi-api, dengan artikulasi yang jelas. Gaya rap ini kemudian dipadukan dengan aransemen musik yang dramatis, sekaligus pengulangan sepenggal lirik 'semuanya akan berlalu' yang seolah menekankan emosi yang dirasakan RM.

Melalui lagu ini, RM menyuarakan keinginannya agar semua hal, termasuk rasa sakit yang dialaminya, bisa berlalu. Hal ini diperjelas dalam rap-nya yang membicarakan mengenai rasa sakit dan orang-orang yang pada akhirnya akan mati atau berakhir suatu hari.

Lagu ini sekaligus penjadi prelude untuk lagu terakhir di mixtape tersebut, yaitu ‘forever rain’. Prelude itu disampaikan lewat bunyi hujan yang terdengar pada bagian akhir lagu.

'forever rain' adalah lagu dengan sentuhan rock yang bertempo pelan dan menceritakan kesedihan Namjoon. Tema itu tergambar sangat jelas baik secara aransemennya yang terdengar dramatis, maupun liriknya yang gamblang.

Lewat lagu ini, RM menyampaikan keinginannya untuk menyembunyikan diri sendiri, sekaligus kesepian yang sangat dirasakannya. Misalnya, seperti tergambar dalam lirik, "Kuharap hujun turun seharian, karena aku berharap seseorang akan menangis untukku," atau, "Saat hujan turun, aku merasa seperti punya teman. (Hujan) terus mengetuk jendelaku, (seperti) bertanya apakah kabarku baik-baik saja".

Selain lirik dan lagunya, hal menarik yang bisa diperhatikan dari lagu ini adalah video klipnya. Dibuat oleh studio VCR Works, berbagai simbolisme ditampilkan RM dalam video bergaya animasi ini.

Salah satu hal yang paling jelas adalah bagaimana matahari digambarkan dengan warna hitam, kelam. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, RM memang lebih menyukai malam ketimbang siang hari.

Secara garis besar ‘mono.’ menghadirkan perkembangan karier RM sebagai musisi. Lewat mixtape ini, RM tidak lagi menghadirkan gubahan ulang lagu-lagu penyanyi lain. Berbeda dengan mixtape pertama, 'RM' (2015), kali ini, dia membuat semua lagu sendiri dan mencurahkan isi hatinya.

Selain itu, 'mono.' juga menunjukkan kontemplasi RM secara gamblang. Kita mungkin sudah tidak menemukan gaya RM yang mengkritisi masyarakat ataupun dunia dengan berapi-api. Tapi, lewat karya ini, kita bisa melihat bagaimana RM, seorang pria berusia 24 tahun, mengeluhkan dunia.

Beberapa saat yang lalu, pelantun ‘Blood, Sweat, and Tears’ ini membawakan pidato soal pentingnya mencintai diri sendiri di hadapan sidang umum PBB. Namun, dalam karya yang disebut sebagai 'playlist' oleh RM ini, kita bisa menemukan berbagai pergumulan batin yang dihadapinya karena ingin menjadi dirinya sendiri.

Terlepas dari seluruh pesan hidup yang terasa berat, lagu-lagu dalam album ini ditulis dengan lirik yang jujur, lugas, dan kontekstual dengan kehidupan anak muda masa kini. Sehingga, dapat dipahami jika karya solo terbaru RM ini bisa menjadi karya favorit terbaru para fans BTS, ARMY.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23